Tuesday, 19 April 2011

Cara Benar Belajar Bahasa Inggris Bag-1



                               

    Banyak faktor yang mempengaruhi kegagalan atau keberhasilan seseorang belajar bahasa Inggris: motivasi, strategi belajar, lingkungan, dsb.  Motivasi adalah faktor yang amat menentukan keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam berusaha.  Motivasi ini biasanya berupa keinginan yang kuat untuk menguasai kemampuan berbahasa Inggris.  Dan, saya kira kebanyakan siswa dan mahasiswa di Indonesia mempunyai keinginan itu karena melihat manfaat dari kemampuan berbahasa Inggris untuk masa depan belajar dan karirnya.  Tetapi keinginan saja belumlah cukup.  Keinginan yang kuat ini harus disertai dengan kemauan yang kuat pula untuk mewujudkannya.  Artinya, ia harus bersedia melakukan segala apa yang diperlukan untuk mengubah keinginan itu menjadi kenyataan, apapun rintangan yang dihadapinya.

    Nah, di sinilah kelemahan pertama orang yang ingin belajar bahasa Inggris di Indonesia.  Banyak orang yang ingin trampil berbahasa Inggris tetapi, setelah mengalami sedikit kesulitan, mereka lalu menyerah dan idak mau mencoba lagi.  Maka tinggallah keinginan itu menjadi impian yang tidak pernah terwujud.

    Namun, banyak juga mereka yang memiliki kemauan kuat ini dan bekerja keras untuk belajar bahasa Inggris.  Bahkan ada yang bersedia menghafalkan kamus (kosakata) dan rumus-rumus tatabahasa Inggris, tetapi tetap saja ada sebagian yang tidak berhasil.  Kalau sudah begini, maka persoalannya mungkin ada pada kesalahan strategi belajar.  Inilah yang akan menjadi fokus artikel ini.
Beberapa Kesalahan Strategi Belajar Bahasa Inggris

* Mereka menganggap bahwa bahasa Inggris itu adalah pengetahuan, bukan ketrampilan.  Karena itu, mereka menganggap bahwa cara terbaik mempelajari bahasa Inggris adalah seperti cara mempelajari sejarah, biologi, atau ilmu bumi, yakni dengan mempelajari teori dan menghafalkannya.  Mereka lupa bahwa bahasa adalah ketrampilan dan cara terbaik untuk mempelajarinya adalah melalui latihan yang sering, seperti halnya cara mempelajari ketrampilan bermain musik, bulu tangkis, atau berenang.  Bahkan, karena kesalah-fahaman ini, ada siswa-siswi yang, ketika menghadapi ujian bahasa Inggris, belajar dengan sistem kebut semalam (dikenal dengan SKS).  Artinya, mereka mempelajari materi ujian bahasa Inggris hanya menjelang waktu ujian dan dalam waktu yang relatif singkat.  Tentu saja hasilnya tidak memuaskan.

* Sejalan dengan kesalah-fahaman di atas, banyak orang lebih memfokuskan pada pengetahuan tentang bahasa dan bukan pada ketrampilan berbahasa.  Mereka lebih mementingkan penguasaan teori tatabahasa daripada ketrampilan berbahasa seperti membaca dan beribicara.  Bahasa adalah alat komunikasi (lisan maupun tertulis) dan berbahasa itu merupakan ketrampilan, bukan sekedar pengetahuan.  Memang, ketrampilan berbahasa juga memerlukan pengetahuan, seperti halnya ketrampilan bermain tennis juga memerlukan pengetahuan tentang teori bermain tenis.  Tetapi pengetahuan itu hanya sebagai penunjang dan bukan tujuan.  Tujuan akhirnya adalah ketrampilan.  Mempelajari bahasa Inggris secara teori saja adalah sama seperti belajar teori bermain tennis tanpa praktek.  Hasilnya tentu saja tidak memuaskan karena ukuran keberhasilannya adalah pada praktek pengunaannya.  Apa gunanya mengetahui cara berenang yang benar tetapi tidak dapat berenang?  Apa gunanya mengetahui tentang bahasa Inggris tetapi tidak dapat menggunakannya untuk berkomunikasi?

* Di bidang pengetahuan bahasa, banyak orang lebih memfokuskan pada pengetahuan tentang tatabahasa daripada kosakata.  Belajar tatabahasa memang asyik karena kita jadi tahu bagaimana susunan kalimat bahasa itu, dan itu membantu pemahaman.  Guru pun lebih senang mengajarkan tatabahasa karena urutan jenjang pengetahuan tatabahasa lebih jelas dan guru lebih merasa menjadi guru kalau dia dapat ‘menerangkan sesuatu’ di dalam kelas.  Tetapi, ibarat bangunan, batu bata yang disusun itu adalah kosakata.  Untuk apa kita mengetahui cara menyusunnya kalau kita tidak mempunyai barang (kosakata) yang disusun?  

* Tidak mempunyai fokus belajar yang jelas.  Ketrampilan berbahasa itu ada empat: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.  Karena sifatnya, maka setiap jenis ketrampilan iu memerlukan cara belajar yang berbeda.  Cara belajar ketrampilan berbicara, misalnya, tentu berbeda dari cara belajar ketrampilan membaca.  Namun, banyak orang yang tidak tahu ketrampilan berbahasa mana yang ia ingin kuasai.  Hal ini diperparah pula oleh anggapan bahwa cara mempelajari ke empat ketrampilan itu adalah sama.  

    Ketika mereka tidak berhasil menguasai satu jenis ketrampilan berbahasa, mereka menganggap bahwa mereka telah gagal di semua ketrampilan itu dan menganggap mereka tidak bisa berbahasa dalam bahasa tersebut.  Padahal, sebenarnya, banyak orang yang bisa berbicara dengan lancar dalam suatu bahasa tetapi tidak dapat membaca dan menulis (misalnya, orang yang buta huruf).  Atau orang yang bisa memahami isi bacaan dalam suatu bahasa tetapi tidak dapat berbicara dalam bahasa tersebut (misalnya, di kalangan pesantren, banyak orang yang pintar memahami isi kitab berbahasa Arab tetapi tidak bisa berkomunikasi lisan dalam bahasa Arab).

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

9983 City name, Street name, 232 Apartment C

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

595 12 34 567