Agar Tak Selalu Bersalah

"Ibu maafkan Jamal (nama samaran) ya..."
Kata-kata itu datang dengan penyesalan yang amat sangat. Buliran air mata terjatuh dari kedua sudut matanya yang semakin sembab.
Samar-samar dari balik handphone terdengar suara rintihan tangis haru dari seorang ibu. Tidak jelas terdengar apa yang terucap. Namun, senggukan yang semakin mengeras dari Jamal menandakan suara wanita itu adalah suara haru penuh harap atas permintaan tulus sang buah hati.


Jamal tetap menunduk. Beberapa kali nampak tetes bening menetes di lantai laboratorium, tempat ia dipanggil oleh salah seorang guru yang terbiasa menangani anak-anak yang bermasalah.
Kembali ia menyeka kelopak matanya yang penuh airmata. Ia begitu haru.
---
Dari lubang kecil dipojok handphone sederhana itu, suara seorang ibu memelas penuh harap. Isaknya sesekali masih terdengar. Dan ketika sang Ibu memohon agar anaknya dapat dibina dengan baik di asrama, isaknya meledak.
"Usatdz, sejak malam pertama saya menikah saya sangat menginginkan mempunyai anak yang soleh," terangnya.
"Saya mohon Ustadz, didik anak saya, saya mohon.." lanjutnya. Sang ustadz nampak tenang mendengarkan segala pinta ibu tadi.
"Insya allah, Bu.. kami akan didik anak ibu sebaik mungkin."
---
 Jamal adalah satu anak di sebuah Sekolah Islam Terpadu. Hari-harinya selalu ceria. Wajahnya bersih dan tidak menampkan kenakalan sama sekali. Namun ada yang berubah akhir-akhir ini. Ia suka menghindar bila harus berpapasan dengan guru dari arah berlawanan. Ia juga tidak banyak bicara mengenai keadaannya.






Perubahan tersebut membuat guru dan wali asrama harus membuat strategi agar anak-anak dapat menyalurkan dan menghabiskan sisa waktu mereka dengan hal-hal yang bermanfaat. Beberapa anak yang tertangkap basah ngeluyur ke warnet sekedar untuk bermain game online, mengaku bahwa mereka bosan karena tidak ada kegiatan.


Agak sulit memang jika harus men-delete memori yang mengasyikkan terhadap game. Namun upaya yang serius dan sungguh-sungguh serta penyediaan sarana belajar dan bermain yang atraktif diharapkan dapat menggantikan asyik dan serunya pertempuran dalam  game-game yang hanya akan menghabiskan waktu anak di dunia khayal.


Tidak kalah pentingnya adalah kedekatan guru dan wali asrama dengan anak-anak. Guru harus bisa menggantikan peran orangtua (Ayah). Seorang anak akan merasa nyaman bila mendapat perhatian, sebagaimana kita akan merasa dihargai bila kita diajak untuk terlibat dalam komunikasi yang hangat bersama orangtua.
Setiap aktivitas yang kita lakukan bersama dengan anak akan berpengaruh terhadap karakter mereka. Oleh karena itu, jangan pernah menganggap remeh setiap kegiatan yang kita lakukan bersama anak. 


Salah seorang siswa asrama, suatu kali memberi apresiasi positif terhadap salah satu ustadz yang membangunkan mereka dengan sopan. Sebaliknya, beberapa santri merasa terganggu dan tidak nyaman bila harus harus dibangunkan dengan bentakan atau dengan cara memukul-mukul lemari atau ranjang mereka. Ini berarti semakin bijak kita memperlakukan oranglain maka penghargaan yang diberikan orang lain kepada kita akan semakin baik pula. Dan kita akan menjadi semakin bijak jika dalam memperlakukan orang lain adalah dalam kerangka cinta karena Allah swt. Bukan yang lain. Jika pun suatu saat anak-anak melakukan kesalahan maka hanya dengan dengan sedikit rangsangan mereka akan menyesali dengan sepenuhnya kesalahannya.


Semoga komitmen kita (para guru dan murid) untuk menjadi lebih baik adalah sebuah cita yang terus menggelora. Maka ketika kita terpeleset, kita akan segera bangkit.


Wallahu a'lam.

Subscribe to receive free email updates: