Syuting Film : Harmonika Untuk Gajahku

Alhamdulillah disela-sela kegiatan yang padat, kami menyempatkan untuk mewawancarai salah satu siswa SMPIT Baitul Muslim yang menjadi salah satu tokoh dalah film “Harmonika Untuk Gajahku” Vhico Cheysar Hermawan.

Anak tunggal dari pasangan Dwi Yuli Hari Subagio dan  Siti Sukaisih Amaliyah yang menyukai pelajaran Penjas ini bercita-cita ingin menjadi kiper Timnas Indonesia. Saat ini ia tengah menempuh pendidikan di SMP Islam Terpadu Baitul Muslim kelas VII D Abdurrahman bin Auf dan tengah menghafal juz 29 yang harus ia setor setiap pagi.  Lahir di Metro, 5 September 1999.

Di film perdananya ini ia tetap menggunakan nama Vico. Berperan sebagai seorang anak pawang gajah yang harus membanting tulang demi menggantikan sebuah harmonika yang rusak karena ulahnya.

Selain dirinya, ada juga siswa SMPIT Baitul Muslim yang ikut dalam syuting film tersebut, mereka adalah Agus dan Wildan. Film ini lebih menekankan seluk beluk kehidupan seorang pawang gajah bersama anaknya. Tak heran, selama menjalani syuting Vico beserta sang Ayah harus keluar masuk semak-semak di Pusat Latihan Gajah Way Kambas Lampung. Namun ia jalani semua itu dengan senang, tuturnya saat kami wawancarai.

Syuting yang dilakukan beberapa hari  menjelang Ramadhan tersebut sempat menarik perhatian beberapa siswa yang belum terbiasa dengan adegan-adegan syuting. Berikut petikannya :


Tim
:
Pernah nggak mimpi diajak syuting sebelumnya?
Vico
:
Nggak.
Tim
:
Terus, gimana certinya sampai diajak syuting sama Om Sugeng (sang sutradara)?
Vico
:
Diajak sama Ayah. Sebelumnya kan Ayah syuting HUG (Harmonika  Untuk Gajahku). Ceritanya tentang pawang gajah yang sangat menyayangi gajahnya. Jadi akhirnya Om Sugeng nawarin untuk ikut syuting.
Tim
:
Grogi nggak?
Vico
:
Awalnya sih grogi.
Tim
:
Trus gimana caranya biar nggak grogi?
Vico
:
Sutradaranya bilang “anggep aja kameramennya nggak ada” ya lama-lama terbiasa juga.
Tim
:
Adegan apa yang paling menarik menurut Vico?
Vico
:
Saat dimarahin sama Ayah.
Tim
:
Gimana ceritanya?
Vico
:
Waktu itu Vico pinjem harmonika Ayah. Sayang, tanpa sengaja harmonika tersebut jatuh dan terlindas ban mobil. Ayah marah besar. Jadi saya harus mengembalikan harmonika tersebut.


Bagaimana caranya?

:
Saya harus menjadi kuli cabut singkong. Uangnya saya belikan harmonika tapi ternyata uangnya kurang. Alhamdulillah setelah ditawar akhirnya dapet juga.
Tim
:
Apa sih nilai yang bisa diambil dari film ini?
Vico
:
Ya…kita harus menyayangi binatang, patuh sama orangtua..banyak deh..
Tim
:
Dapet honor..?
Vico
:
Iya..
Tim
:
Buat apa uangnya?
Vico
:
Ditabung dan dibeliin jam tangan.

Masih banyak hal yang menarik selama syuting yang dirasa oleh Vico, seperti saat shalat dhuha dan dzikir Al Matsurat di sekolah. Wah, lumayan juga sekolah kita jadi salah satu tempat syuting sebuah film anak nusantara

Selamat deh buat Vico. Semoga keinginannya untuk bisa syuting lagi dapat terwujud. Tapi ingat, jangan sampai ketinggalan pelajaran sekolah dan setoran hafalannya.

Subscribe to receive free email updates: