Menghukum Yang Tidak Mendidik


Pemberian sanksi atau hukuman tentu bertujuan agar terjadi efek jera. Oleh karena itu, beragam jenis hukuman diberikan kepada pihak yang bersalah. Namun, pemberi hukuman harus mempertimbangkan banyak aspek agar tujuan jera dapat tercapai. Hendaknya dihindari agar pelanggar tidak sekadar takut, tetapi lebih bertujuan untuk membentuk kesadaran. Dari pemaparan inilah, kisahku bermula.


Namanya saja anak, tentu ia akan berusaha mencari perhatian. Beragam cara dilakukan agar banyak orang berpaling kepadanya. Kadang anak itu berperilaku baik atau sangat baik. Namun, anak sering bertingkah kurang ajar, bahkan melanggar aturan yang kebablasan. Sekali lagi, anak pasti bertujuan utnuk mencari perhatian.



Menyikapi itu, orang tua harus bersikap bijak. Orang tua harus mencari cara paling bijak untuk menyelesaikan masalah itu. Orang tua mungkin perlu belajar kepada orang lain atau sering membaca manajemen atau tips mendidik anak. Dengan cara itu, diharapkan orang tua tepat menerapkan pemberian jenis hukuman. Satu yang harus diperhatikan orang tua: jangan sampai anak justru semakin brutal melakukan pelanggaran.


Tadi pagi, aku melihat sebuah kondisi yang teramat menyedihkan sekali. Sangat menyedihkan hati. Beberapa anak dihukum dengan cara yang teramat sangat tidak mendidik. Apa itu? Anak disuruh merokok karena diketahui merokok di sekolah. Beberapa anak disuruh untuk merokok sekian batang hingga wajah dan matanya memerah karena asap rokok yang terus mengena dirinya.Waduh, itu sudah terkategori pelanggaran etika dan hokum. Anak melanggar tata tertib karena merokok kok malah dihukum merokok. Bagaimana mungkin anak akan kapok alias jera?


Aku mengenal beberapa anak itu. Aku mengenal orang tuanya karena mereka berasal dari daerahku. Memang orang tuanya mencari nafkah ke kota sehingga mereka tinggal rerata bersama dengan family atau bahkan sendirian. Akibatnya, mereka jelas kurang terkontrol pergaulannya. Oleh karena itu, penanganan anak itu perlu melibatkan banyak pihak dan menggunakan cara yang lebih santun.


Bisa saja anak diminta untuk mengambili puntung rokok yang pernah dihisapnya. Lalu, puntung rokok itu diberikan kepada orang tuanya. Tentu orang tua perlu diberitahu guru bahwa anaknya berkelakuan tidak baik. Bukankah pendidikan menjadi tanggung jawab semua pihak? Sekolah hanya menjadi bagian dari pemberian pendidikan itu. Pendidikan akan berhasil jika terjadi kerja sama antarsemua komponen.


Atas kondisi itu, hatiku menangis. Mengapa penghukum itu tega-teganya memberi hukuman yang berbentuk demikian? Mengapa penghukum itu tidak mencari cara yang lebih santun? Mengapa penghukum itu justru menimpakan tangga kepada orang yang sudah terjatuh dari tangga? Bukankah justru penghukum itu seharusnya memberikan pertolongan dalam bentuk penyadaran atas kesalahan si anak? Sungguh hukuman yang teramat tidak mendidik.


Sumber : edukasi.kompasiana.com

Subscribe to receive free email updates: