Aku dan Kenanganku


By: Zulita Winarsih

Pagi itu terasa ada yang menarik, seakan-akan ada sesuatu
yang berbeda dalam hidupku. Aku bersiap dengan menggunakan
baju panjang dan rok panjang serba coklat dengan menenteng
tiga tas besar dibantu ayah dan ibuku. Yap, pagi itu aku akan
kembali ke Pondok Pesantren Baitul Muslim setelah libur kenaikan
kelas yang begitu panjang. Kini aku sudah kelas delapan dan
bukan kelas tujuh lagi. Berarti aku harus lebih rajin belajar tidak
malas malasan lagi.

Kulihat di dinding pengumuman, ternyata aku mendapat
kamar tiga Fatimah setelah ada rolling asrama. Yakni, kamar
yang sudah aku idamkan sejak lama. Aku ternyata sekamar
dengan Nabila, Mbak Imah, Icka, Laili, Nurma, Lia, dan Wija.
Aku sangat senang mempunyai teman sekamar yang baik seperti
mereka.

Sore itu kami pergi ke masjid bersama-sama. Kami pun
terkaget, ternyata di masjid banyak murid ikhwan.

“Lho kok di masjid banyak anak ikhwan?. Ta-nya Icka”.

“Sekarang ada asrama baru yang nempatin anak ikhwan, jadi
mereka shalatnya di masjid.” Jawab Mbak Imah.

“Oooooooo gitu..”. Jawab kami serempak.

Gak tau kenapa, kami sangat senang mende-ngarnya.
Setelah shalat maghrib ada ceramah dari Ustadz Roi. Saat
Ustadz ceramah kami malah ribut, dan ngobrol sendiri-sendiri,
terutama anak kamarku. Akhirnya kami di jewer sama Amah
Fitri, rasanya sangat sakit. Lalu kami diam sesaat dan ribut lagi.
Setiba di asrama, kami semua dimarah oleh Amah Fitri karena
ribut. Kami pun dihukum diminta berbicara sendiri selama 15
menit. Beberapa dari kami malah ada yang tertawa karena
hukumannya sangat lucu. Tak disangka ternyata hukumanya
ditambah menjadi 30 menit berbicara sendiri tanpa henti.
Haaahhh??.. Mungkin karena kami bandel, diantara kami malah
ada yang tambah senang.

Malam Minggu setelah seminggu kami sangat bosan sekali
dan bingung mau ngelakuin apa. Lalu Mbak Imah menemukan
buku tupperware dan buku masak-masak. Kami pun bercanda ria
menggunakan buku itu. Kegaduhan pun terjadi. Tiba tiba Amah
Fitri mengetuk pintu dan Laili pun membukanya.

“Kalian semua keluar!”. Suruh Amah Fitri.

“Kan udah jam 10 malem mah.”. Jawabku.

“Keluar!!”. Bentaknya...

“Huuhhhh...Iya-ya....”. Jawab kami.

Lagi-lagi kami dihukum gara gara ribut. Akhirnya kami
keluar dengan berat hati. Setelah diluar beberapa puluh menit kami
melihat asrama ikhwan seperti sedang pindahan. Salah satu
dari mereka ada yang lewat, ia bernama Furqon.

“Furqon, kamu mau kemana??”, tanya Nurma.

“Mau pindah...”, jawab Furqon.

“Pindah ke asrama deket kuburan???”. Sahut Wija.

“Ia, semuanya”, jawabnya lagi.

“Haaahhhh...Ya Allah..”, kami serempak.

“Terus yg nempatin disitu siapa??”. Tanya kami lagi.

“Kosong kayanya”, jawab Furqon.

Baru pindah sebentar saja sudah pindah lagi. Beberapa diantara
kami ada yang sedih dan ada juga yang biasa saja. Kami pun
masuk asrama tanpa sepengetahuan orang yang menghukum
kami tadi dan langsung mengabarkan berita yang di bawa Furqon
tadi. Dan keadaan asrama pun menjadi GUBRAKKH,,,!!.
Pukul tiga malam kami pun di bangunkan untuk shalat
Qiyammullail dan muhasabah bersama. Masjid terasa sangat
sunyi karena kekhusukan kami melafazkan do’a-do’a kepada-
NYA dan ka-rena setengah dari kami telah pindah. Alam pun
ikut menyeru kepadanya. Masjid yang tak ber-dinding ini
menambah dingin yang menghujam ke tulang rusuk.

Azan subuh pun berkumandang dan kami pun bersiap untuk
shalat subuh dan dilanjutkan do’a Al-Ma’tsurat. Mungkin terlalu
khusuk Al-Ma’tsu-rat, eh malah banyak yang tertidur pulas. Setelah
itu ada pengumuman dari kepala asrama. Di umumkan bahwa
Insyaallah minggu depan akan di adakan rihlah (jalan jalan).

“Kira-kira ada yang punya ide mau jalan-jalan kemana??”.
Tanya mudir.

“Gimana kalau ke pantai saja Ustadz??”. Sahut salah satu dari
kami.

“Jangan!! Gimana kalau ke kebun jeruk saja??”. Sahut yang
lain.

“Yasudah kita ke pemandian belerang saja..”. Jawab mudir.

“Ya sudahlah...”. Dalam hatiku.

Di antara kami ada yang setuju dan ada juga yang kecewa.
Seminggu berlalu, kami pun pergi rihlah bersama ke pemandian
belerang. Sesampainya disana, ternyata disana hanya
terdapat tiga kolam saja. Jadi tidak cukup jika dipakai ikhwan
dan akwat. Mau bagaimana lagi, akhirnya yang akhwat pindah ke
tempat rekreasi lain. Kami akhirnya malah pindah ke pantai
merak belatung saja.

Setibanya kami disana, kami pun terpesona oleh keindahan
pantai. Karena hari libur maka pantai pun sangat sepi tanpa
pengunjung selain kelompok kami. Serasa pantai pun jadi milik
kita sendiri. Ombak yang sangat sempurna pun menyapu bibir
pantai yang sangat luas dan indah. Kami pun tak sabar ingin
bermain dan berkubang di bibir pantai.

Semakin lama permainan pun semakin seru. Petang pun telah
datang dan kami dan kami pulang ke asrama lagi. Dijalan, tak
ada orang lewat sama sekali selain kami. Memang, jalan ini di
kenal sebagai jalan yang angker. Tiba tiba pak supir yang
mengendarai bus pun mengklakson berkali kali dan Mbak Imah
mengucapkan istigfar dengan kaget. Ternyata Mbak Imah dan
Pak supir melihat seorang wanita, yang katanya itu adalah hantu
penunggu jembatan itu.

Setahun pun telah berlalu. Aku yang tadinya kelas delapan
naik kelas menjadi kelas sembilan. Dan yang lain pun begitu.
Libur panjang tiga minggu akan kami lewati lagi. Sayangnya,
kami diberi lembaran jadwal kegiatan yang harus kita lakukan
selama liburan, yakni mutaba’ah.

Pagi sebelum pembagian raport ada yang berbeda pada
mukaku. Terasa kaku dan sulit untuk berbicara. Aku pun menjadi
takut dan hanya bertanya-tanya sendiri. Apa dan mengapa??.
Aku hanya bingung dan rempong sendiri.

Setelah menunggu berpuluh-puluh menit. Akhirnya ayahku
menjemput juga. Aku bertanya kepada ayah tentang apa yang
terjadi pada mukaku.

“Ayah, ada apa ya dengan mukaku?? ko rasanya tidak bisa
digerakkan??”. Tanyaku.

“Hmm..mengapa ya? Ayah juga tidak tahu. Coba nanti sore
kita ke dokter saraf saja”. Jawab ayah.

“Okelah ayah”, jawabku lagi.

Sore itu aku pergi ke dokter saraf dengan ayah dan ibuku.
Aku pun di tensi oleh perawat dan di periksa dokter. Ternyata,
dokter mengatakan bahwa aku terserang penyakit belpalsy.
Yaitu, penyakit yang menyerang saraf muka sehingga penderita
tidak bisa menggerakan mukanya sampai ia sembuh. Ya bisa
dibilang stroke kecil gitu. Dan biasanya baru sembuh setelah dua
bulan.

Apa????

Aku kaget mendengarnya. Aku sempat putus asa dan
shock. Tapi, ibuku berkata bahwa, ini pasti sembuh dan ini
adalah cobaan dari Allah SWT dan Allah tidak akan memberikan
cobaan di atas kemampuan hambaNya.

Hampir setiap hari ibuku memberiku motivasi. Selama liburan
aku tidak liburan kemana-mana. Karena, aku malu dengan muka
ku. Satu bulan berlalu, aku tak kurun sembuh. Sebernarnya ini
sudah waktu masuk sekolah dan memandu adik-adik kelas yang
baru untuk MOS. Tetapi karena aku masih sakit jadinya aku izin
sampai sembuh.

Satu bulan telah berlalu lagi, akhirnya aku sembuh dan masuk
sekolah. Aku hari ini sekolah untuk hari pertama kelas sembilan.
Aku disambut oleh teman-temanku yg sudah dua bulan tidak
bertemu. Aku sangat senang bertemu dengan mereka. Tertinggal
pelajaran yang terlalu banyak membuat aku keteteran dan
bingung.

Tak disangka-sangka bulan depan sudah ulangan semester.
Malas sekali rasanya mau belajar. Hari demi hari aku lewati
dengan malas-malasan dan selalu menunda waktu belajar. Pada
saat ulangan semester datang, aku belum siap untuk

melaksanakan ulangan semester. Bingung rasanya bagaimana
mau mengerjakan ini? Belajar aja enggak!. Dan aku pun
mengerjakan soal dengan sebisaku dan asal-asalan. Aku sangat
menyesal sekali karena malas belajar dan selalu menunda-nunda
waktu belajar.

Kutunggu hasil raport selama dua minggu. Dan ternyata
hasilnya sangatlah tidak memuaskan. Aku tidak mengamalkan
kalimat man jadda wajada. Menyesal sekali rasanya. Untungnya
aku tidak dimarahi oleh ibuku. Tetapi, hanya di beri nasehat
habis-habisan. Sampai-sampai aku kekenyangan mendengarnya.
Yah sama saja.

Setelah ujian semester, pasti ada kegiatan yang dinamakan
supercamp. Setiap siswa selalu me-nunggu-nunggu saat-saat ini.
Supercamp di adakan satu minggu lagi. Hari ini adalah
pembagian regu dan pembimbing regu supercamp. Persiapan
sangat penting untuk menjalankan kegiatan supercamp ini. Kami
pun menyiapkan barang-barang yang akan di gunakan regu
masing masing.

Hari diadakan supercamp pun tiba. Supercamp diadakan di
Plang Hijau Way Kambas. Kami kesana menggunakan mobil
bersama-sama. Seru sekali perjalanan menuju Plang Hijau.
Sepertinya Supercamp kali ini akan terasa sangat seru sekali.
Tapi, seperti biasa peraturan yang ketat demi kualitas siswa
selalu ada.

Hari pertama adalah mendirikan tenda dan beristirahat serta
games yang seru. Kami men-dirikan tenda dibantu oleh kakakkakak
pembina. Hari pertama yang menyenangkan. Namun pada
saat setelah shalat isya, diadakan razia. Kami semua rasanya
sangat kaget!!. Sebenarnya pada sa-at supercamp kita tidak
diperbolehkan membawa barang elektronik. Tetapi aku malah
membawanya. Aku sangat menyesal mem-bawa hp itu. Yang kukira
tadinya jika kita membawa hp akan seneng, eh malah seneb.

Hari kedua supercamp kegiatannya adalah ha-lang rintang dan
out bond. Kami harus menyiapkan tenaga agar kuat melewati out
bond ini. Kami berjalan melewati hutan-hutan beberapa pos. Di
kegiatan ini kita diajarkan untuk tidak manja. Malamnya aku dan
teman-temanku banyak yang tidak bisa tidur. Karena terlalu
banyak nyamuk dan karena tidak ingim tidur. Tapi mau tidak
mau, demi kesehatan kami, kami dipaksa untuk tidur.

Keesokan harinya adalah hari terakhir supercamp. Hari ini
hanya bersiap-siap untuk pulang dan pembagian hadiah lombalomba
yang diadakan selama supercamp. Dan kagetnya lagi,
kami pulangnya jalan hingga stengah perjalanan. Ya Allah, kaki
ini rasanya mau copot. Tapi sangat seru juga.

Hari demi hari kita lewati seperti biasa. Senang, ceria, semangat.
Hingga suatu hari, aku pergi jalan jalan bersama Regita.
Aku ingin pergi ke Kali Batu. Tapi, aku belum terlalu mengetahui
jalannya. Akhirnya kami menemukan yang namanya
Kali Batu. Tapi, kata orang adaa yang lebih bagus lagi di sebelah
sana. Aku dan Regita pun menelusuri jalan setapak yang sangat
licin dan sangat jelek seperti sawah. Kesal sekali rasanya. Pingin
balik ke belakang tapi harus melewati jembatan yang sangat
mengerikan tadi. Karena takut jatuh, akhirnya aku dan Regita
terus lurus dan mencari jalan keluar. Ternyata, aku dan Regita
tersasar. Motor kami menjadi sangat kotor tak berbentuk. Yah
rasanya pingin mejerit dan tertawa. Rasanya campur aduk kaya
gado-gado.

Akhirnya setelah dua jam muter-muter, kami menemukan
jalan keluar. Kaki kami pegal-pegal dan mau copot. Setelah
sampai di asrama kami langsung mencuci motor dan tertidur.

Subscribe to receive free email updates: