Jangan Ikuti Ajakan Raja Ghassan

Oleh: Cahyadi Takariawan

Serial Tabuk 9 - Pada saat engkau merasa terasing dari dakwah dan jama’ah, pada saat engkau merasa resah karena tengah mendapat suatu uqubah, akan banyak ajakan mendatangimu. Banyak suara-suara pembelaan, suara simpatik, suara empati, suara yang mengajakmu berpaling dari dakwah dan jama’ah. Ada banyak tawaran yang bisa membuatmu berpikir ulang atas janji setia di jalan dakwah.

“Anda itu tokoh yang luar biasa. Mengapa organisasi anda tega memperlakukan anda seburuk ini?”

“Anda tidak layak mendapat perlakuan seperti ini. Jelas ini satu kesalahan dari organisasi anda yang tidak bisa menempatkan posisi anda pada tempat yang semestinya. Kami lebih bisa menempatkan anda pada posisi yang istimewa”.

“Pemimpin anda tidak adil. Bukankah banyak orang melakukan kesalahan yang sama, namun mengapa mereka tidak dihukum ? Mengapa hanya anda yang mendapat hukuman? Ini jelas suatu kezaliman”.

“Bergabunglah bersama kami. Sebagaimana anda, kami dulu juga aktivis, namun dikecewakan. Mari bergabung dalam kumpulan kekecewaan”.

Dan sangat banyak tawaran posisi, jabatan, kedudukan, kemuliaan yang diberikan kepadamu. Pastilah engkau memiliki sesuatu yang sangat menarik, karena senioritas di pergerakan dakwah, dan peranmu selama ini dalam dinamika organisasi dakwah. Engkau dianggap memiliki daya panggil yang cukup kuat, untuk kepentingan apapun yang diinginkan orang atau pihak lain terhadapmu.

Berhati-hatilah atas berbagai macam ajakan itu. Tetaplah berpegang dan konsisten dengan dakwah dan jama’ah.

Ajakan Itu Adalah Ujian

Ingatlah bahwa berbagai macam ajakan itu menjadi ujian baru bagimu. Pada kondisi engkau memerlukan teman berbagi, engkau memerlukan pengakuan dan apresiasi, muncullah ajakan dan tawaran itu. “Bergabunglah kepada kami. Untuk apa anda masih mengikuti organisasi yang tidak bisa memberikan tempat terhormat bagi orang sekelas anda”. Waspada, jangan terprovokasi oleh suara merdu itu.

“Pada suatu hari, aku berjalan-jalan ke pasar kota Madinah. Tiba-tiba datanglah orang awam dari negeri Syam. Orang itu biasanya mengantarkan dagangan pangan ke kota Madinah. Ia bertanya, ‘Siapakah yang mau menolongku menemui Ka’ab bin Malik?”

“Orang-orang di pasar itu menunjuk kepadaku, lalu orang itu datang kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku dari Raja Ghassan”.

Luar biasa perhatian Raja Ghassan terhadap Ka’ab bin Malik. Pada posisinya yang sulit karena tengah menjalani hukuman dari Nabi saw dan para sahabat, seorang raja memberikan perhatian khusus kepadanya. Pada saat semua orang tidak ada yang peduli kepadanya, ternyata masih ada orang yang menyapanya, bahkan ia adalah Raja. Pada saat saudara dekatnya pun tidak mau berbicara dengannya, ternyata masih ada orang peduli kepada nasibnya.

Raja Ghassan, apa yang ia inginkan dari Ka’ab, sampai mengutus orang untuk memberikan surat kepadanya?

“Setelah kubuka, isinya sebagai berikut : …..Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kami akan menghiburmu!”

Luar biasa menarik tawaran itu. Bukankah Ka’ab tengah memerlukan hiburan, karena dirundung kesedihan mendalam ? Bukankah Ka’ab tengah memerlukan teman untuk berbagi, tengah memerlukan sedikit perhatian, pengakuan dan apresiasi ? Saat komunitas para sahabat tidak memberikan itu kepadanya, ternyata perhatian, pengakuan dan apresiasi justru datang dari Raja Ghassan.

Untunglah yang mendapatkan surat ajakan itu Ka’ab bin Malik, seorang mujahid yang hebat. Ia bukan orang yang mudah dibujuk dan dirayu. Ia bukan orang yang mudah diajak melakukan pembangkangan. Tidak ada ungkapan pembandingan dari Ka’ab, “Orang lain yang jauh saja mengakui potensiku, dan memberikan perhatian kepada nasibku. Sementara orang-orang dekatku, yang satu jama’ah denganku, justru tidak peduli dengan diriku”.

Tidak, tidak ada kalimat seperti itu dari Ka’ab. Ia menyadari sepenuhnya, surat Raja Ghassan itu adalah ujian berikutnya yang harus dihadapi dengan sepenuh kesadaran dan pemahaman.

“Hatiku berkata ketika membaca surat itu, ‘Ini juga salah satu ujian!’ Lalu aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya”.

Bakar Saja Surat Raja Ghassan Itu

Sangat tegas sikap Ka’ab. Ia tidak mau menjadikan surat itu sebagai “bergaining” posisi dengan Nabi dan para sahabat. Ia tidak mau menjadikan surat itu sebagai ancaman untuk menaikkan posisi tawarnya di hadapan komunitas kaum muslimin. “Kalian tahu tidak, kalau kalian tetap menghukumku seperti ini, aku bisa meninggalkan kalian dan mendapat posisi yang lebih baik di sisi Raja Ghassan!” Tidak, Ka’ab tidak melakukan negosiasi dengan Nabi dan para sahabat.

Ia tidak akan bernegosiasi soal posisi dirinya. Bukan itu yang diinginkan. Ka’ab hanya menginginkan keridhaan Allah dan RasulNya. Ka’ab hanya ingin mendapatkan kecintaan Allah dan RasulNya. Bukan pengakuan orang, bukan apresiasi Raja Ghassan, bukan sikap empati manusia terhadap dirinya. Bagi Ka’ab, sikap yang harus diambil sudah final, dan ia telah melakukan dengan tepat.

“Hatiku berkata ketika membaca surat itu, ‘Ini juga salah satu ujian!’ Lalu aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya”.

Apakah engkau juga mendapatkan ajakan dari Raja Ghassan ? Siapa Raja Ghassan itu di zaman kita sekarang? Jika memang engkau mendapatkan ajakan serupa, bakar saja ajakan-ajakan menyesatkan itu. Tetaplah berada di jalan dakwah, dan tetaplah berpegang kepada jama’ah.

Lalu engkau memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.

(Bersambung)

Subscribe to receive free email updates: