Katakan Saja Yang Sebenarnya

Oleh: cahyadi takariawan

Serial Tabuk 5 - Bagaimana kalau kita melakukan kesalahan, apa sikap yang harus kita munculkan? Jelas-jelas kita melakukan suatu perbuatan yang tidak benar, karena melanggar syariat Allah. Atau jelas-jelas melanggar konstitusi organisasi, atau melanggar keputusan syura, atau melanggar perintah qiyadah. Tidak bisa dicari makna lain, yang kita lakukan memang benar-benar pelanggaran.

Pertama kali yang muncul adalah perasaan bersalah dan gelisah, ini menandakan kalau hati kita masih sehat dan bersih. Kedua, segera “bersihkan diri” dengan mengakui keasalahan yang telah kita lakukan. Katakan saja yang sebenarnya, jangan memperbanyak dan menumpuk kesalahan baru dengan berbohong dan mengajukan alasan palsu. Ketiga, segera menghadap qiyadah untuk mencari solusi atas kesalahan yang telah kita lakukan. Jangan menjauh dan jangan takut kemarahan qiyadah, tapi hadapi saja sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan yang telah kita lakukan.

Adalah Ka’ab, ia sudah bertekat untuk menghadap Nabi dan mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak mau melakukan kebohongan sebagaimana dilakukan delapan puluh orang lainnya yang telah menghadap Nabi dengan alasan serta sumpah palsu. Tidak, Ka’ab bukan seperti mereka. Ka’ab adalah mujahid yang tangguh.

Tibalah Saat Yang Menegangkan Itu…

Saat itu benar-benar menegangkan. Perasaan bersalah, gelisah dan malu bercampur aduk menjadi satu pada diri Ka’ab. Semenjak ia tertinggal, tidak berangkat ke Tabuk, hatinya telah diliputi perasaan bersalah yang kompleks. Membayangkan nanti ketemu Nabi dan para sahabat sepulang mereka dari Tabuk, adalah peristiwa yang sangat menegangkan. Namun harus dihadapi, apapun resikonya.

“Tibalah giliranku, aku datang mengucapkan salam kepada beliau. Beliau membalas dengan senyuman pula, namun jelas terlihat bahwa senyuman beliau adalah senyuman yang memendam rasa marah. Beliau kemudian berkata, “Kemarilah!”

Subhanallah, Nabi Saw tidak langsung menegur dan memarahi Ka’ab. Bahkan Nabi saw tersenyum kepadanya. Dengan kelembutan perasaannya, Ka’ab merasakan bahwa senyum Nabi saw “memendam rasa marah”.

“Aku pun menghampirinya, lalu duduk di hadapannya. Beliau tiba-tiba bertanya, “Wahai Ka’ab, mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?”

Inilah pertanyaan yang sudah terbayangkan pasti akan disampaikan oleh Nabi saw kepadanya. Saat yang sangat menggelisahkannya, dan membuatnya tidak bisa tenang selama ini. Akhirnya tiba juga waktu yang “menakutkan” itu. Kini ia telah di hadapan Nabi saw. Ia telah melihat delapan puluh orang sebelumnya yang mengada-adakan alasan dan sumpah palsu untuk menutupi kesalahan dan kelemahan mereka.

Nabi mengkaitkan antara ketidakberangkatan Ka’ab dengan bai’at yang telah dilakukan Ka’ab kepada Nabi saw. “Mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?” Ini adalah salah satu penjelasan mengenai urgensi bai’at atau janji setia dalam dakwah. Bahwa dengan bai’at akan bisa digunakan untuk mengingatkan dan memotivasi pelakunya. Ka’ab sudah berjanji setia kepada Nabi, tapi mengapa tidak berangkat ke Tabuk ?

Katakan Yang Sebenarnya

Tidak perlu berbohong. Katakan saja yang sebenarnya. Ini justru akan cepat menyelesaikan masalah dan menenangkan hati. Selamanya, kebohongan tidak akan bisa membuat hati tenang dan tenteram. Kebohongan akan selalu menggelisahkan.

“Aku menjawab : Ya Rasulullah! Demi Allah. Kalau duduk di hadapan penduduk bumi yang lain, tentulah aku akan berhasil keluar dari amarah mereka dengan berbagai alasan dan dalil lainnya. Namun, demi Allah. Aku sadar kalau aku berbicara bohong kepadamu dan engkau pun menerima alasan kebohonganku, aku khawatir Allah akan membenciku. Kalau kini aku bicara jujur, kemudian karena itu engkau marah kepadaku, sesungguhnya aku berharap Allah akan mengampuni kealpaanku. Ya Rasululah saw, demi Allah, aku tidak punya udzur. Demi Allah, keadaan ekonomiku tidak pernah stabil dibanding tatkala aku tidak mengikutimu itu!”

Ketika berada di hadapan Nabi saw, ia telah bertekat untuk menyampaikan kondisi yang sesungguhnya. Ia ingin melakukan pengakuan dosa dengan tulus, yang dengan itu akan cepat menyelesaikan semua persoalan yang dihadapinya, dan akan mendapatkan solusi dari kesalahan yang telah dilakukan. Ia tidak mau menjadi munafik, ia tidak mau menjauh dari Nabi saw. Ka’ab telah memberikan contoh yang luar biasa bagi kita, jadilah kader yang bertanggung jawab. Hadapi semua masalah dengan kejujuran.

Perhatikan apa yang disampaikan, jawaban atas pertanyaan Nabi Saw. Pertanyaan Nabi adalah, “Mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?” Apakah jawaban Ka’ab ? Inilah jawaban seorang mujahid.

“Ya Rasululah saw, demi Allah, aku tidak punya udzur. Demi Allah, keadaan ekonomiku tidak pernah stabil dibanding tatkala aku tidak mengikutimu itu!”

Ya, Ka’ab telah menunjukkan kualitas dirinya benar-benar mujahid. Benar-benar kader yang militan dan tangguh. Sebagai manusia, ia berhak melakukan kesalahan, karena tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan. Namun sebagai mujahid, ia berani mempertanggungjawabkan kesalahan yang telah dilakukan. Ia menjawab lugas, apa adanya. “Ya Rasululah saw, demi Allah, aku tidak punya udzur”.

Lega, Ka’ab telah menyampaikan yang sebenarnya. Kini ia tinggal menunggu keputusan qiyadah atas kesalahan yang dilakukannya. Dan inilah keputusan itu….

Rasulullah berkata, “Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!”

“Tidak salah lagi”, kata Nabi saw. Tidak salah lagi, Ka’ab memang mujahid. Tidak salah lagi Ka’ab memang bukan munafik. Tidak salah lagi Ka’ab memang mukmin sejati. Tidak salah lagi, Ka’ab memang kader dakwah yang setia. Tidak salah lagi, karena terbaca dari kejujuran Ka’ab.

(Bersambung)

Subscribe to receive free email updates: