Lengkap Sudah Kesunyian Itu

Oleh: Cahyadi Takariawan

Serial Tabuk 10 - Sampai kapan hukuman sunyi ini berakhir ? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban. Hari demi hari terasa demikian panjang dan melelahkan. Hidup bersama komunitas orang-orang shalih, namun justru diasingkan. Tidak ada yang mengajaknya bicara, tidak ada yang menyapa, tidak ada yang peduli dengan keberadaannya. Semua diam membisu kepadanya. Seakan dirinya tidak ada di lingkungan mereka.

Semua hukuman sunyi itu dijalani dengan sepenuh keikhlasan dan kesadaran diri. Dalam situasi kesedihan mendalam akibat hukuman, ujian masih datang lagi dengan adanya surat dari Raja Ghassan yang mengajak Ka’ab untuk meninggalkan komunitas Nabi saw. Surat Raja Ghassan itu sungguh sebuah ujian keikhlasan, yang datang tepat pada waktunya. Ka’ab mampu melewati ujian ini dengan sempurna. Dibakarnya surat Raja Ghassan tersebut.

Hukuman Ditambah Lagi

Belum cukup hukuman yang sangat melelahkan ini dilalui, ternyata masih ada tambahan hukuman lagi. Belum selesai “masa pendadaran” yang diberikan kepada para mujahid yang melalaikan kewajiban. Semua itu untuk semakin mengokohkan kebaikan mereka dan meneguhkan keimanan mereka, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman sepanjang zaman.

“Pada hari yang ke-40 dari pengasinganku di kampung halaman sendiri, ketika aku menanti-nantikan turunnya wahyu tiba-tiba datanglah kepadaku seorang pesuruh Rasulullah saw menyampaikan pesannya, ‘Rasulullah memerintahkan kepadamu supaya kamu menjauhi istrimu!”

Masyaallah. Ka’ab berharap segera datang utusan yang memberitakan pengampunan dirinya. Ka’ab berharap segera ada berita tentang berakhirnya masa hukuman baginya. Kesunyian ini sudah berlangsung empat puluh hari empat puluh malam. Sangat panjang dan sangat melelahkan jiwa. Sehari tidak diajak bicara saja sudah akan sangat membuat kesedihan mendalam, bagaimana rasanya didiamkan sampai empatpuluh hari empatpuluh malam.

Ternyata yang datang bukan utusan untuk memberitahukan pengampunan, justru memberitahukan bertambahnya hukuman bagi Ka’ab. Hukuman berikutnya adalah menjauhi isteri. Harus hidup terpisah dari isteri. Ini seperti dalam penjara, dimana di dalam sel hidup sendirian, tanpa teman, tanpa anak dan isteri yang menemani.

“Aku semakin sedih, namun aku juga semakin pasrah kepada Allah, hingga terlontar pertanyaanku kepadanya, ‘Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang akan kulakukan?’ Ia menjelaskan, ‘Tidak. Akan tetapi, kamu harus menjauhkan dirimu darinya dan menjauhkannya dari dirimu!”

Ka’ab memperjelas, apakah yang dimaksud menjauhkan diri dari isteri itu bercerai, atau pisah tempat tinggal saja. Ternyata yang dimaksud adalah pisah tempat tinggal. Ka’ab tidak boleh tinggal bersama isterinya dan oleh karena itu tidak boleh dilayani sang isteri. Ia harus hidup sendiri, tanpa dilayani keluarga. Lengkap sudah kesunyian ini. Ia akan segera menjalani babak baru dalam hukumannya, setelah empatpuluh hari didiamkan Nabi dan seluruh sahabat, mulai hari ini harus berpisah tempat tinggal dengan isteri.

Dan Ka’ab, ia mujahid sejati. Ia tidak akan memberontak dan menolak hukuman berikutnya ini.

“Hukuman Tambahan” Pun Mulai Dijalani

Rupanya demikian berat hukuman desersi. Seorang mujahid yang seharusnya berangkat perang ke Tabuk, namun justru bersantai saja di rumahnya, bukanlah kesalahan yang ringan. Buktinya hukuman masih ditambah dan ditingkatkan. Ka’ab, Murarah dan Hilal menerima hukuman yang sama. Kesunyian telah mereka jalani selama empatpuluh hari, kini ditambah dengan menjauhkan diri dari isteri.

“Kiranya Rasulullah juga sudah mengirimkan pesannya kepada dua sahabatku yang bernasib sama. Aku langsung memerintahkan kepada istriku, ‘Pergilah kau kepada keluargamu sampai Allah memutuskan hukumnya kepada kita!”

Mulailah hukuman tambahan ini dijalani. Ka’ab memerintahkan sang isteri agar pergi ke rumah keluarganya, sehingga ia tinggal sendirian saja di rumah. Empatpuluh hari hukuman yang telah dijalani, sudah sedemikian terasa berat, namun masih ditemani isteri. Mulai hari ini, ia harus menghadapi semuanya sendiri. Tidak ada siapapun lagi yang ia miliki. Bahkan isteripun tidak lagi mendampingi.

Tiga orang mujahid memulai lembar kehidupan mereka, menyesali kelalaian mereka, meratapi kesalahan yang telah mereka lakukan. Berharap segera ada pengampunan dari Allah melalui Nabi saw. Ka’ab pun melalui hari-hari hukuman selanjutnya dalam kesendirian. Bertambah sempurna kesunyian yang sudah dilewati selama ini.

Mujahid Juga Manusia

Hikmah tarbawiyah sangat besar kita dapatkan dari kesalahan mereka. Sepertinya Allah ingin memberikan pelajaran kepada kita semua, melalui kesalahan orang-orang salih terdahulu. Melihat posisi tiga orang mujahid tersebut di dalam dakwah Islam, rasa-rasanya “mustahil” mereka melakukan kesalahan sebesar itu. Namun Allah tunjukkan hikmah yang lain, sebab jika generasi keemasan Islam tidak pernah ada orang bersalah, maka kita tidak bisa mengambil ibrah dari kesalahan mereka. Mungkin generasi kita akan mengalami kesulitan yang lebih besar untuk mencontoh kehidupan generasi para sahabat, jika di lingkungan mereka tidak pernah ada orang bersalah.

Mungkin kita akan menganggap bahwa generasi sahabat itu “untouchable”, tidak mungkin kita berkaca dari mereka, karena mereka orang-orang yang tidak pernah bersalah, karena mereka orang-orang yang tidak memiliki sisi lemah. Maka Allah berikan satu dua contoh, bahwa di antara orang-orang sekapasitas sahabat Nabi pun ada yang melakukan kesalahan. Dalam kisah perang Tabuk, ternyata ada tiga mujahid melakukan kelalaian. Jadi, tampaklah kepada kita bahwa mereka “masih” manusia biasa, bukan para malaikat yang tak pernah melakukan kesalahan dan kelalaian.

Semua orang memiliki peluang melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang bersalah adalah yang bersedia mengakui kesalahan itu dan melakukan taubat serta perbaikan. Salah satu usaha perbaikan itu adalah dengan jalan menerima hukuman, dan menjalaninya dengan sepenuh kesadaran dan kerelaan.

(Bersambung)

Subscribe to receive free email updates: