Perjalanan Nasyidku


By: Neldo Irawan

Bakat yang belum terasah membuat rasa takut semakin besar untuk melakukan sesuatu, ketika hal itu terjadi yakinlah, Allah ada di sisi kita, hujan yang dinginnya menusuk badan, malam yang sunyi sepi tanpa kata-kata. Hanya ditemani masukan kakakku dari telpon yang terdengar serak, dan cahaya dari kom-puter yang menyilaukan mata, dengan perut yang kelaparan dan kehausan, ku co-ba pada hari ini untuk mengembangkan bakatku yang belum terasah, yakni “Menulis”, suatu kata yang terbilang membosankan bagi orang-orang dan tidak berguna, tapi sebe-narnya, suatu tulisan dari seseorang yang baik akan bisa mengubah pan-dangan hidup seluruh umat manusia di dunia ini. Penyaluran bakat menulis pertamaku ini ku salur-kan pada se-buah cerita pendek yang berjudul “Perjalanan Nasyidku Dari Waktu Ke Waktu”. Da-lam penyaluran bakat ini, semangatku semakin be-sar ketika kubaca kata bijak dari seorang yang insya Allah tidak asing bagi kita yaitu “ Kalau ka-mu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. [Imam Al-Ghazali].
Serta saya juga mendapatkan masukan dari temanku yakni “Tetaplah optimis dalam menulis, belum tentu cerita yang kita anggap jelek dan bikin malu dimata orang juga seperti itu, nulis itu meng-alir saja dan jangan pernah menghapus tulisan se-belumnya. ”.
Bermula dilomba nasyid antar kelas, tepat-nya dibulan ramadhan tahun 2010, waktu ada ajang perlombaan itu, sebe-narnya saya tidak ikut lomba nasyid melainkan saya ikut lomba LCT. Tapi wak-tu lomba LCT akan dimulai, persyaratannya pun dibacakan, eh ternyata satu kelas cuman boleh nge-wakilin 1 kelompok, akhirnya saya dan kedua te-man lainnya mengalah dengan regu anak putri ke-las kita, jadi waktu itu dengan wajah sedih saya masuk ke ruangan tempat lomba nasyid dilak-sanakan. Pada waktu itu kelas 9a dengan lagunya yang berjudul “Sepohon Kayu”, semua orang wak-tu itu seperti terkesima dengan penampilan me-reka. Sehabis mereka tampil, saya ber-tanya pada Junaid (salah satu personil nasyid kelas 7c waktu itu).
Kalian ingin nyanyi lagu apa ?” Tanyaku.
Gak tau nich, pada bingung semua”. Jawab Ju-naid,
Saya pun langsung mencari solusi untuk me-reka, beberapa menit kemudian saya pun berkata “Nuansa Pagi aja ?”
Junaid pun menjawab “Siapa yang hafal ?”
Saya hafal” jawabku.
Ikut aja yuk Nel ?” tanya Junaid.
Boleh sich” jawabku.
Tiba-tiba juri lomba nasyid berkata lomba akan dilanjutkan setelah sholat dzuhur. Wiiiihh, begitu senangnya kelompok kami mendengar kata-kata tersebut serasa makan gratis di kantin sekolah. Seakan-akan ini semua pertolongan dari Allah SWT, pada saat break acara, kami mengambil ke-sempatan ini untuk latihan sekaligus menghafal lagu itu, dengan panduan dari Miss Fitri (wali kelas 7c dahulu) kami yang beranggotakan saya, Adit, Junaid, Ali Munji, dan Zein tergolong berhasil, walaupun hanya latihan nasyid kira-kira 1 jam kami sudah bisa menghafal dan menyanyikan lagu tersebut. Akhirnya waktu lomba pun tiba, pada saat kami dipanggil tubuh kami seakan-akan bergetar karna geroginya, dalam pikiranku hanya satu, yaitu  Allah selalu menolong kami, jangan sampai kami malu. Lagu ini diawali dengan suaraku, pada saat bait pertama sudah dinyanyikan, semua penonton bertepuk tangan serta berteriak-teriak, tepuk tangan dan teriakan mereka justru membuat tubuhku semakin bergetar.
Walaupun ini adalah yang kedua kalinya saya tampil depan orang banyak, rasa gerogi itu masih tetap ada, setelah kami se-lesai menyanyikan lagu itu, kamipun kembali ke tempat kami sebelumnya, jam demi jam pun berlalu, waktu pengumuman pun tiba, kami yang masih kepikiran dengan penampilan kami se-belumnya pun mencoba untuk optimis dengan hasil yang akan diumumkan, lom-ba kali ini pun dimenangi oleh kelas 9a dengan la-gunya “Sepohon Kayu”, menurut kami sih sangat wajar jika mereka yang menang, karena dilihat dari segi persiapan mereka sudah jauh lebih baik.
Bulan demi bulan pun berlalu, tim nasyid kami pun dipanggil untuk tampil disebuah acara sekolah, kamipun sangat bingung,
Kenapa harus kami ?” tanyaku.
Kami terheran-heran dengan keputusan tersebut, kami yang tidak tau apa-apa tentang ilmu vokal dipanggil untuk tampil diacara besar seperti ini, tapi mulai dari inilah kami mulai bisa mengenal teknik vokal. Setiap hari selama se-minggu kami berlatih, sebelumnya kami akan dikolaborasikan dengan nasyid kelas 9b, tapi ka-rena masalah tertentu kolaborasi itupun diba-talkan, kami yang beranggotakan saya, Andika, Junaid, Adit, dan Harits pun sempat mengalami penurunan kepercayaan diri, tapi kami terus mendapat support dari teman-teman dan guru-guru yang membuat kami semakin semangat untuk berlatih.
Hari itupun tiba, hari dimana saatnya kami ha-rus tampil, jantung berdetak, urat mengencang, ba-gaikan ada bahaya yang mengancam, pada saat ka-mi dipanggil untuk ke atas panggung, kami sempat kebingungan untuk memakai mic atau tidak?. Akhirnya keputusan kami ambil untuk me-makainya, lagi-lagi lagu ini diawali dengan sua-raku, lirik “Indahnya nuansa pagi” telah terucap kembali di depan orang banyak. Walaupun sempat terjadi hal lucu, yaitu suaraku yang gagal total pada saat lirik pertama, hal ini diakibatkan karena saya menggunakan mic terlalu dekat dengan mu-lutku, tapi tak apa. Setelah itu, datang satu orang asing ke atas panggung, otomatis kamipun lang-sung berhenti bernyanyi, ternyata dia adalah salah satu personil grup nasyid asal Bandar Lampung yang sudah mencicipi rasa dapur rekaman, dia pun mengajak kami menyanyikan lagu pop islami ber-samanya, dengan instrumen lagu yang sudah ada dilap-topnya, hal ini membuat kami semakin per-caya diri untuk bernyanyi. Setelah beberapa lagu kami nyanyikan, giliran grup nasyid kelas 9 yang beraksi, dengan lagu justice voice yang berjudul “Jangan mepet-mepet”, mereka tergolong berhasil melakukannya. Walaupun lagu itu jauh lebih sulit dari lagu kami.
Selang waktu berjalan, tiba kembali acara besar di sekolah kami, yaitu acara perpisahan anak-anak kelas 9. Kami pun dipangil kembali untuk lebih memeriahkan acara tersebut. Kami diberi waktu 3 hari untuk berlatih, masih dengan personil yang sa-ma dengan sebelumnya, keputusan kami jatuh pada lagu Justice Voice yang berjudul “Ibunda” dan lagu dari raihan yang berjudul “Rabithah”. Malam harinya tepat sehari sebelum acara dimulai, kami datang untuk berlatih di atas panggung. Malam itu ruangan tersebut sudah cukup ramai dengan datangnya guru-guru serta siswa-siswa yang men-dapat tugas diacara tersebut, mulai dari MC, Tari, Drama, dan kami yang bertugas dibidang Nasyid. Pada saat giliran kami maju ke atas panggung, de-ngan pedenya kami langsung melantunkan lagu tersebut, celakanya, pada saat itu suaraku dalam mode silent (habis) karena terlalu sering latihan sehingga membuat suaraku habis, dengan begitu, saya langsung menyuruh teman-teman nasyid saya untuk berhenti, guru kami waktu itu sempat kha-watir dengan keadaan saya. Mereka memberi ma-sukan agar suaraku kembali seperti biasa, saya pun hanya bisa diam.      
Esok paginya,  embun masih menyelimuti pagi. Sejuk masih terasa dihembusan nafasku. Ku awali hari ini dengan bismillah, berharap semua kesalahan-kesalahan lampau tidak akan terjadi, de-ngan menenteng tas ke sekolah, menunggu per-sonil nasyid lainnya datang. Ku coba untuk mengetes suaraku. Tidak selang lama kemudian personil nasyid kami sudah berkumpul dengan lengkap, kamipun bergegas berlatih untuk yang terakhir sebelum kami tampil hari itu, suasana la-tihan kami saat itu terasa berbeda, tidak ada lagi gelak canda tawa, ceplas-ceplos dari masing-masing kami.
Usai berlatih, kami bergegas langsung me-nuju ke Balai Desa dekat sekolah kami. Sudah ada hiruk-pikuk suara dari murid-murid BM waktu itu, lalu Miss Fitri pun mendatangi kami.
Nyanyinya satu lagu dulu aja ya?” tanya Miss Fitri.
Lagu apa miss ?” Tanya kami.
Terserah kalian” jawabnya.
Kamipun memutuskan untuk memilih lagu ibunda dengan berpikiran bahwa lagu rabithah a-kan kami nyanyikan pada saat beberapa acara sesudah kami menyanyikan lagu pertama.
Tak terasa sudah datang waktunya untuk kami tampil, tinggal menunggu kata “Wassalamualaikum” dari sambutan ke-tua OSIS. Acara selanjutnya adalah tepat penampilan kami, detak jantungku semakin cepat menandakan rasa tegang itu masih ada. Tapi ku coba menutupinya dengan senyuman. Sebelum ber-nyanyi, kembali terjadi hal yang lucu sekaligus memalukan, mic yang diambil oleh Junaid rusak karena kabelnya copot. Hal ini-pun membuat orang-orang yang me-lihat kami tertawa, tapi ini adalah waktunya untuk serius, bukan main-main.
Satu...Dua..Ti” tiba-tiba.
Dem..Dem..Dem..” sahut Andika.
Kami kebingungan dengan Andika yang me-nyerobot sebelum hitungan ke-3, hal inipun kem-bali mengundang gelak tawa dari penonton yang menyaksikan kami.
Ndik, kamu kenapa nyaut-nyaut?” Tanya ka-mi.
Hehe lupa” jawabnya.
Kamipun mengulang kembali dalam hitungan ketiga. Alhamdulillah pada saat ini kami berhasil melakukannya. Tetapi, pada saat giliranku untuk menyanyi, saya hanya bisa diam saja, tak tahu kenapa saya bisa lupa dengan liriknya, akhirnya hal inipun kembali mengundang gelak tawa pe-nonton.
Nel, kenapa kamu malah diem?” tanya me-reka.
Hahaha lirik pertamanya apa sih ?” tanyaku.
Cinta tulus tercurah, gitu saja lupa kamu ini” jawab mereka.
Iya-iya” jawabku.
Akhirnya pun kami mengulang kembali dari awal. Alham-dulillah kali ini kami sukses me-nyanyikan lagu ini dari awal hingga akhir.
Selang waktu berjalan sampai juga di acara yang terakhir yaitu doa, Andika pun terkejut men-dengar ini.
Nel, kita tidak tampil lagi tho ?” tanyanya.
Gak tau” jawabku.
“Lha yang rabhithah gimana?” tanyanya kem-bali.
Gak jadi mungkin, coba tanya Miss Fitri” jawabku.
Andika pun bergegas menghampiri Miss Fitri yang sedang berada di samping panggung, saya hanya bisa melihat tanpa mengetahui apa yang mereka bicarakan. Setelah perbincangan mereka selesai, Andika pun menghampiri kami dengan muka sedikit kecewa menandakan bahwa kami ti-dak akan tampil di acara tersebut.
Sehabis acara selesai, kamipun pergi bersama untuk melak-sanakan hobi kami, yaitu bermain playstation, walaupun kami disuruh langsung pu-lang dengan guru-guru, tapi entah kenapa kami masih berani melanggarnya. Sehabis kami ber-main, kami langsung bergegas untuk pulang ke ru-mah masing-masing, terdapat raut-raut muka yang lumayan berbeda dari kami, ada yang senang, se-dih, jengkel, dll.
 Kembali kami dipanggil untuk tampil na-syid di acara MOS. Inilah penampilan terakhir un-tuk Andika di SMP ini, raut mukanya begitu serius untuk kali ini, tidak seperti dahulu yang raut mu-kanya tidak bisa serius, pada saat itu kami hanya bertiga yaitu saya, Andika, dan Adit sebab Junaid pada saat itu tak bisa latihan karena sedang ikut Panitia di acara MOS itu. Harits pada saat itu juga tidak bisa karena jarak antar rumahnya ke rumah kami terlalu jauh. Seminggu sebelum acara tersebut dimulai, kami sudah mulai untuk berlatih. Keputusan kami jatuh pada lau raihan yang berjudul “Pesanan Buat Kita” lagu ini adalah lagu yang menurutku paling menggugah rasa kema-nusiaan orang-orang karena lagu ini bercerita ten-tang untuk menggapai cita-cita, persahabatan, dll.
Keesokan harinya tepat pada saat acara akan dimulai, junaid menghampiri kami untuk ber-latih (alhamdulillah nambah lagi personilnya). Dia hanya mengikuti latihan di lagu “ibunda” begitupun juga dengan Harits. Pada saat acara dimulai, jantung kami mulai dag.,dig.,dug di-buatnya. Kami pun dipanggil, pertama yang maju hanya ber-3 yaitu saya, Adit, dan Andika. Yang lain menunggu untuk tampil di lagu ke-2, lagu per-tama sekaligus utama berhasil kami nyanyikan (walaupun sempat terjadi kehabisan suara pada reff yang dialami Andika) tibalah lagu ke 2 yaitu “ibunda”, Junaid dan Harits pun maju ke depan untuk ikut bernyanyi.
Waktu demi waktu berlalu, tak terasa di-riku sudah beranjak kelas 8 di SMP ini. Umur ma-kin tua, muka mulai berjerawat, suara mulai ber-ubah, itulah yang kurasakan pada saat kelas 8 ini. Saya kembali naik kelas ke 8c, suatu kebanggan tersendiri bagiku untuk bisa bertahan disini, wali kelas kami pada saat itu adalah Ustadz Asro’i yang mengajar Bahasa Arab dan Tahfizh di kelas kami. Tak jarang saya mendapatkan nasihat-nasihat dari beliau yang tentuya sangat berguna bagi saya. Saya merasa sangat malu ketika beliau membaca artikel di internet tentang diriku. Hal itu bercerita tentang “Neldo, si suara merdu”. Entah siapa orang yang mengupload artikel tersebut ke internet sehingga orang-orang bisa membacanya. Tapi beliau pun berbicara kepada rekannya sesama guru di SMPIT BM. Pengembangan bakat anak-anak ini berbeda-beda dalam hal dakwah. Misalnya Rendi yang (waktu itu saya lupa dengan pembicaraan tentang Rendi ataupun yang lainnya). Misalnya Neldo yang katanya suara merdu, kita bisa meng-ajarkannya berdakwah lewat shalawat atau lagu-lagu mendidik seperti nasyid”. Kalau tidak salah seperti itu beliau berbicara kepada rekannya pada saat pelajaran Tahfizh dipagi itu dengan udara se-juk ditemani lantunan-lantunan ayat suci AL-Qur’an yang keluar dari lisan-lisan murid SMPIT BM. Karena jam Tahfizh di sekolah kami dimulai bersamaan pada setiap kelas. Pada saat kelas 8 ini saya masih merasakan pengalaman-pengalaman nasyid saya di SMPIT BM ini.
Pengalaman nasyid pertama saya dikelas 8 ini dimulai kembali dengan perlombaan nasyid antar kelas, masih teringat dipikiranku tentang ke-jadian-kejadian diperlombaan nasyid ini tahun lalu. Saat ini sudah tidak ada Zein dan Andika, mereka sudah pergi meninggalkan SMP ini. Kamipun mu-lai berlatih dengan anggota yang relatif sama, yak-ni saya, Adit, Junaid, Bima, dan Harits. Pada per-lombaan ini terdapat lagu wajib yang harus dinya-nyikan yaitu “Rabhithah”. Tidak asing lagi bagi kami untuk menyanyikan lagu tersebut, kamipun memilih pendamping lagu itu dengan lagu “pesanan buat kita” yang sudah pernah kami nya-nyikan pada saat Masa Orientasi Siswa yang lalu. Lomba tersebut tepat dimulai sesudah sholat dzu-hur. Sebelumnya kami melihat lomba-lomba lain yang sudah digelar, seperti pidato Bahasa Inggris, Bahasa Arab, LCT, Mading. Waktu itupun tiba, sa-atnya lomba nasyid digelar, semua murid di sekolah itu bergegas memasuki ruangan dimana tempat lomba tersebut diselenggarakan. Beberapa tim dari masing-masing kelaspun maju. Masih ter-ingat dimana penampilan anak-anak 8c yang akhwat, mereka sangat pede dengan gerakan-ge-rakan tarian yang kompak serta dengan tekhnik vo-kal yang sudah mumpuni. Mereka menamai diri mereka dengan nama Cerezo Dream, sedangkan kami yang anak ikhwan menamakan diri kami dengan nama IMV (Ibnu Mas’ud Voice). Setelah beberapa kelompok maju, kini giliran kami untuk tampil di depan murid-murid yang lain. Lagu pertama kami menyanyikan lagu rabhithah dan yang kedua adalah lagu pesanan buat kita. Alhamdulillah pada saat itu kami berhasil me-nyanyikannya, tapi tanpa ada koreografi dipe-nampilan kami, terasa penampilan kami begitu ga-ring diatas panggung. Lucunya, masing-masing personil kami memiliki gaya ciri khas yang berbeda, seperti Harits yang gayanya mekaku (memang kaku), Adit dan Bima yang gayanya netral, Junaid yang gayanya taditong (tangan di kantong), dan saya sendiri yang denger-denger paling heboh/stres (hehehe) gerakannya di pang-gung diantara kami. Hanya ada satu buah ko-reografi dipenampilan kami pada saat itu, yaitu berangkulan bersama-sama, tapi entah kenapa di antara kami tidak ada yang ingat dengan itu, un-tungnya saja masih ada Adit dan Junaid yang ingat (wuiisshhh salut,.salut) dengan muka kaget, saya pun ikut bersama-sama untuk berangkulan. Tapi setelah itu, dengar-dengar kata anak akhwat 8c, ada salah satu anak akhwat yang sampai nangis karena lagu pesanan buat kita (weh,.weh,.weh.. sampai segitunya ya mbak.,? hehe)/ Tapi lagu itu memang menyimpan makna-makna yang bagus. Malam harinya, tiba waktunya untuk peng-umuman, hasilnya adalah kami (IMV) tidak men-dapatkan juara dilomba itu, tapi tidak apa-apa, itu juga kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Selesai juga kegiatan perlombaan-perlombaan hari ini. Kamipun sudah cukup bangga dengan penam-pilan kami hari ini.
Beberapa bulan berlalu, kini saatnya ke-giatan rutin supercamp dimulai, sama seperti tahun lalu, kami melaksanakan supercamp bertempatan di Plang Hijau (Way Kambas). Diacara ini terdapat beberapa lomba, yaitu LCT, memasak, halang rintang, dan Nasyid. Saya mengikuti 2 cabang per-lombaan yaitu nasyid dan memasak. Nama kelompok kami waktu itu adalah Serigala (hewan yang misterius itu lho). Kami beranggotakan 10 orang yaitu saya, Adit, Sidiq, Asad, Eka, Ali ibnu, Yosa, Eko, Rico, dan Kurniawan. Pembimbing kami waktu itu adalah Ustadz Asro’i. Lomba-lomba dimulai pada malam pertama dan hari kedua. Pada saat malam pertama terdapat per-lom-baan LCT, kelompok kami yang mengikut sertakan 3 orang yaitu Asad, Ali ibnu, dan Sidiq termasuk berhasil dalam lomba itu, walaupun kami cuman hanya bisa menempati urutan ke 4, kami tetap bangga dengan hasil tersebut. Esok harinya, tepat pada siang hari, lomba memasak dimulai, menu wajib masakan saat itu adalah dengan meng-gunakan kentang, kelompok kami yang mengikut sertakan 3 orang yaitu saya, Adit, dan Kurniawan. Kami ber-3 berhasil menyulap kentang menjadi bakmi (ehm,. Jadi laper waktu ngetik ini). Malam harinya tepat pada saat sehabis maghrib, tim nasyid kami yang beranggotakan saya, Adit, dan Eka bersiap-siap untuk mengikuti lomba yang saya tunggu-tunggu yaitu nasyid. Pada saat itu lagu kami adalah ibunda (lagu ibunda pada saat itu wajib karena acara ini juga dalam bentuk hari ibu) celakanya, pada saat itu kembali suaraku dalam kondisi drop. Hal inipun otomatis membuat ke-lompok kami khawatir.
Akhirnya pun terjadi pertukaran posisi, saya yang awalnya bertindak sebagai vokalis bertukar dengan eka yang sebelumnya sebagai Bass, saya lihat eka dengan seriusnya menghafal dan berlatih menyanyikan lagu ini. Tak tega rasanya melihat dia menjadi korban atas suaraku yang memang serak walaupun sudah diminumkan air putih se-banyak setengah botol minuman soda. Tiba-tiba ada seorang yang memanggil kami untuk meng-ajak berkolaborasi, mereka adalah Abdurrafi dan Ridho, mereka mengajak kami untuk tampil bersama nan-ti, dengan senangnya kami menyetujui hal tersebut. Kira-kira 1 jam kami berlatih untuk mencocokan suara kami dengan mereka, setelah berlatih, cukup lama kami menunggu giliran untuk tampil, kalau tidak salah pada saat itu kami adalah kelompok nasyid ikhwan yang terakhir tampil. Lagi-lagi kami melakukan hal lucu pada saat kami tampil, yaitu kami terlambat untuk menyocokkan suara kami dengan instrumen musiknya (wah,. Gak kebayang). Tapi hal itupun masih bisa kami tutupi kembali, kamipun selesai tampil. Dengan wajah ngantuk kamipun langsung kembali ke tenda kami untuk beristirahat malam. Esok harinya, tiba saatnya untuk pengumuman hasil lomba-lomba, kelompok kami berhasil menjuarai lomba memasak dengan juara 1 dan lomba nasyid yang juga juara 1 (alhamdulillah, akhirnya kami bisa menang juga). Tapi anehnya ada suatu kejadian dimana lomba yang saya dan Adit ikuti pada saat itu semuanya juara 1 (weh,.weh,. sip,.sip). Huft.. Sekian sudah pengalaman nasyidku di SMPIT BM ini untuk saat ini. Yang jelas sebenarnya masih banyak sekali cerita menarik yang tak mungkin saya tuliskan semua disini. Mungkin kapan-kapan saya akan menuliskan pengalaman-pengalaman saya di cerita yang berbeda. Eittss, bukan berarti cerita ini ber-akhir membuat pengalaman nasyid saya juga ber-akhir, tentunya akan masih banyak lagi cerita-cerita yang akan saya rasakan nanti, Mohon maaf ya buat yang tersinggung ataupun tidak setuju dengan cerpen yang saya buat ini. Sesuai dengan peribahasa “Tak ada gading yang tak retak” saya memohon maaf buat kalian, sudah dulu ya friend.. good bye.,!!

Subscribe to receive free email updates: