Senior Bersalah Juga Dihukum

Oleh: Cahyadi Takariawam

Serial Tabuk 6 - Keputusan itu “sederhana” saja, bukan ungkapan yang berbelit-belit serta bertele-tele. Tidak rumit dan sulit dipahami. Nabi Saw telah memutuskan untuk Ka’ab, “Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!” Itulah keputusan qiyadah.

Cukup jelas bagi Ka’ab, maka ia tidak perlu bertanya lagi apa maksud kalimat Nabi tersebut. Sebagai mujahid, sebagai kader, ia sangat memahami keputusan itu. Pergi dari hadapan Nabi Saw, dan menunggu wahyu Allah untuk memberikan keputusan atas kesalahan Ka’ab. Itu saja. Tapi, apakah itu sederhana untuk dilakukan? Tidak. Ternyata pelaksanaannya sangat menyakitkan.

Argumen Pembelaan

Pengakuan dan kejujuran telah disampaikan oleh Ka’ab di hadapan Nabi Saw. Tidak ada yang ditutupi, ia telah mengatakan kondisi yang sebenarnya. Keputusan juga sudah disampaikan oleh Nabi, maka tinggal melaksanakan keputusan tersebut. Ka’ab pun pergi, meninggalkan Nabi Saw.

“Aku pun pergi diikuti oleh orang-orang Bani Salamah. Mereka berkata : Demi Allah. Kami belum pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Kau tampaknya tidak mampu membuat-buat alasan seperti yang lain, padahal dosamu itu sudah terhapus oleh permohonan ampun Rasulullah!”

Orang-orang Bani Salamah tampak berusaha memberikan pembelaan dan penguatan hati kepada Ka’ab. Mereka mengingatkan, betapa lugunya engkau wahai Ka’ab. Mengapa engkau tidak pandai membuat alasan, seperti delapan puluh orang lainnya ? Bukankah alasan mereka semua diterima oleh Nabi ? Bahkan Nabi memintakan ampunan untuk mereka semua ? Lalu apa yang engkau takutkan untuk membuat-buat alasan? Jika Nabi memintakan ampun, pasti Allah akan mengampunimu.

Begitulah orang-orang Bani Salamah memprovokasi Ka’ab. Mereka merasa lega telah mendapat permakluman Nabi Saw. Mereka merasa lebih lega lagi karena dimintakan ampunan oleh Nabi Saw. Logis sekali apa yang mereka kemukakan, seakan-akan itu logika yang benar dan bisa diterima. Ka’ab sempat dibuat bimbang oleh omongan orang-orang Bani Salamah.

“Mereka terus saja menyalahkan tindakanku itu hingga ingin rasanya aku kembali menghadap Rasullah saw untuk membawa alasan palsu, sebagaimana orang lain melakukannya”.

Rasa gelisah dan bimbang kembali menyerang hati Ka’ab. Kata-kata pembelaan dari orang-orang Bani Salamah terasa logis dan masuk akal. Sembari pergi meninggalkan majelis Nabi Saw, Ka’ab merasa perlu menimbang lagi “kepolosannya” tadi. Mengapa tidak membuat-buat alasan palsu kepada Nabi ? Toh kenyataannya delapan puluh orang membuat-buat alasan dan diterima oleh beliau, mengapa aku tidak ikut melakukan hal yang sama?

Apakah perlu kembali ke majelis Nabi Saw untuk membawa alasan palsu? Haruskah itu dilakukannya?

Ada Murarah dan Hilal, Keduanya Ahlul Badar

Ternyata tidak hanya Ka’ab yang datang dengan kepolosan dan kejujuran di hadapan Nabi Saw. Di tengah kebimbangan akibat diprovokasi orang-orang Bani Salamah, muncul keingintahuan Ka’ab, apakah ada yang “senasib” dengan dirinya.

“Aku bertanya kapada mereka, ‘Apakah ada orang yang senasib denganku?’
Mereka menjawab, ‘Ya! Ada dua orang yang jawabannya sama dengan apa yang kau perbuat. Mereka berdua juga mendapat keputusan yang sama dari Rasulullah sebagaimana keadaanmu sekarang!”

“Aku bertanya lagi, ‘Siapakah mereka itu?’ Mereka menjawab, ‘Murarah bin Rabi’ah Al-Amiri dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi’. Mereka menyebutkan dua nama orang shalih yang pernah ikut dalam perang Badr dan yang patut diteladani. Begitu mereka menyebutkan dua nama orang itu, aku bergegas pergi menemui mereka”.

Ternyata, ada tiga orang mujahid yang tidak berangkat ke Tabuk. Bukan hanya Ka’ab seorang. Murarah dan Hilal ternyata juga absen, tidak berangkat ke Tabuk bersama Nabi saw dan para sahabat. Padahal Murarah dan Hilal, keduanya ahlul Badar, veteran perang Badar yang mendapatkan kemuliaan khusus dari Allah.

Lengkap sudah sejarah kemanusiaan. Ketidakberangkatan ternyata terjadi pada tokoh-tokoh yang menjadi panutan dalam sejarah keemasan Islam. Seakan Allah ingin menunjukkan kepada kita semua, bahwa mereka semua adalah manusia biasa, yang juga memiliki sifat-sifat kemanusiaan yang utuh. Mereka bukan malaikat yang tidak memiliki opsi untuk melakukan dosa dan kesalahan. Sifat kemanusiaan bisa muncul pada siapa saja, dan pada kondisi apa saja. Termasuk pada mujahid sekaliber Ka’ab, Murarah dan Hilal.

Senior yang Bersalah tetap Dihukum

Tentu saja bukan menjadi pembenaran bagi kita untuk melakukan dosa dan kesalahan. Namun ingin memberikan catatan, bahwa dosa dan kesalahan bisa saja dilakukan oleh orang senior, yang jasanya sangat banyak dalam dakwah. Karena mereka juga manusia biasa, yang tidak akan luput dari khilaf. Namun harus diingat pula, kesalahan mereka tidak dimaafkan begitu saja. Ada hukuman khusus yang diberikan kepada mereka bertiga, justru karena mereka adalah mujahid, justru karena mereka bukan “kader biasa”.

Untuk delapan puluh orang lainnya yang membawa alasan palsu dan membuat sumpah palsu di hadapan Nabi saw, beliau cepat menerima dan memintakan ampunan kepada Allah. Namun kepada ketiga orang mujahid tersebut, ada perlakuan khusus. Kendatipun telah banyak jasa mereka, kendati telah setia mengikuti berbagai macam peperangan selama ini, kendati telah banyak kontribusi bagi pergerakan dakwah, namun kesalahan harus tetap mendapatkan hukuman.

Dan ketiga mujahid itupun rela menerima keputusan hukuman. Mereka tidak protes, “Mengapa Nabi tidak menghukum delapan puluh orang yang membuat-buat alasan palsu itu?” Mereka tidak berontak, “Mengapa orang yang jujur justru dihukum, dan orang yang bohong tidak mendapat hukuman?” Mereka bertiga menerima keputusan dari qiyadah, menjadi pertanda bahwa memang mereka benar-benar mujahid sejati.

Mereka benar-benar kader yang setia.

(Bersambung)

Subscribe to receive free email updates: