Tetaplah Husnudhan Atas ketidakberangkatan Saudaramu

Oleh: Cahyadi Takariawan

Serial Tabuk 3 - Dalam dakwah, ada banyak kondisi yang tidak selalu sama dengan harapan. Oleh karena itu selalu ada ruang permakluman yang kita sediakan, bukan untuk diri sendiri, namun untuk tetap berpikir, berprasangka dan memandang positif saudara kita. Sudah direncanakan mengadakan kegiatan, semua sudah sepakat hadir pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Namun ada satu atau dua orang terlambat. Ada yang tidak hadir dengan mengirim kabar berita, bahkan ada pula yang tidak hadir tanpa mengirim berita sama sekali.

Kita tidak memaklumi atas kemalasan, keterlambatan, ketidakhadiran kita sendiri pada kegiatan yang sudah ditetapkan dan disepakati. Kita mendisiplinkan diri untuk hadir tepat waktu, mendisiplinkan diri untuk tetap berangkat walau sangat banyak kendala kita temukan. Kita paksakan diri untuk tetap hadir walau sangat banyak alasan untuk mengelak dan menghindari kegiatan.

Semua Bisa Menjadi Alasan Ketidakberangkatan

Apa alasan kita untuk tidak datang atau tidak menghadiri kegiatan dakwah yang sudah ditetapkan dan disepakati ?

“Anak saya sakit panas, perlu obat”, itu suatu alasan, bukan?

“Isteri saya minta diantar ke dokter”, itu alasan yang kuat.

“Suami saya baru datang dari bepergian jauh, saya harus menyambutnya”, jelas itu alasan yang masuk akal.

“Ibu saya tengah di Rumah Sakit”, inipun alasan kuat.

“Saya sudah janjian dengan klien untuk bertemu hari ini. Agendanya sangat penting, menyangkut status dirinya”, ini juga alasan.

“Bapak saya sedang berada di Kantor Polisi, ada urusan penting”, apakah ini alasan ? Tanyakan dulu, “Apa pekerjaan bapak kamu”. Dengarkan jawabannya, “Bapak saya adalah seorang Polisi……” Lah yawajar kalau setiap hari di Kantor Polisi.

Mungkin kita sudah merasa mampu mengalahkan semua alasan, dengan harapan semua orang akan melakukan hal yang sama. Sudah menjadi pengetahuan seluruh aktivis bahwa agenda dakwah ini sangat penting dan mendesak untuk dilakukan, sehingga seharusnya semua mengalahkan kesibukan diri agar bisa hadir dalam agenda tersebut. Dengan penuh semangat kita datang tepat waktu, setelah mampu mengatasi seluruh persoalan yang bisa menjadi alasan logis untuk tidak datang.

Alkisah, sepuluh orang aktivis dakwah bersepakat untuk bertemu dalam rangka melaksanakan sebuah agenda dakwah. Waktu dan tempat telah disepakati. Anda bersusah payah agar bisa hadir tepat waktu. Namun ternyata, hanya ada tiga orang saja yang hadir tepat waktu. Mana tujuh orang lainnya ? Satu per satu datang kemudian, dengan tingkat keterlambatan yang beragam. Masih ada tiga orang lagi yang belum hadir, padahal sudah terlambat lebih dari satu jam.

Seseorang mengirim kabar melalui sms, bahwa dirinya tidak bisa hadir karena alasan keluarga. Masih ada dua orang lainnya. Kemana mereka berdua ? Apakah lupa ? Apakah ada kendala ? Mari kita sediakan seribu alasan untuk memaklumi ketidakhadirannya.

Kemana Ka’ab bin Malik?

Ketika Ka’ab tidak berangkat ke Tabuk, tentu menjadi sebuah pertanyaan tersendiri bagi Nabi Saw dan para sahabat. Ka’ab bukan pemalas, Ka’ab bukan pecundang. Ka’ab adalah mujahid yang tangguh, tidak pernah absen dalam seluruh peperangan, kecuali dalam peristiwa Perang Tabuk. Wajar jika ditanyakan keberadaannya.

“Konon Rasulullah saw tidak menyebut-nyebut namaku sampai ke Tabuk. Setibanya di sana, ketika beliau sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, beliau bertanya : Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”

“Seorang dari Bani Salamah menjawab : Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!”

“Mu’adz bin Jabal menyangkal : Buruk benar ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak pernah mengerti melainkan kebaikannya saja! Rasulullah saw hanya terdiam saja”.

Luar biasa Mu’adz. Ia telah menyediakan ruangan permakluman yang sangat luas dalam dirinya. Ia tidak berburuk sangka atas ketidakhadiran Ka’ab. Baginya, Ka’ab adalah seorang mujahid yang hebat, maka ia tidak mau berpikir negatif atas ketidakberangkatan Ka’ab di Tabuk.

Nabi saw tidak melalaikan seorangpun kadernya. Maka tatkala beliau mengetahui tidak ada Ka’ab di Tabuk, segera beliau bertanya : “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?” Subhanallah, betapa jeli dan teliti beliau. Ada seorang sahabat tidak hadir di Tabuk, dan beliau merespon.

Seorang sahabat mencoba menjelaskan kondisi Ka’ab, yang tengah memiliki kecukupan ekonomi saat menjelang berangkat ke Tabuk. “Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!” Namun ungkapan ini cenderung berpikir negatif dan menuduh. Maka segera disangkal oleh Mu’adz, dengan persangkaan dan jawaban yang positif.

Jangan Manfaatkan Permakluman

Kita harus mencoba memaklumi kondisi saudara kita, atas keterlambatan atau bahkan ketidakhadirannya. Namun jangan manfaatkan permakluman itu untuk mengulang hal yang sama, dan memaafkan diri sendiri, untuk tidak datang tepat waktu, atau bahkan tidak datang sama sekali. “Toh sudah dimaklumi”, bukan begitu cara menggunakan permakluman.

“Kalau orang lain dimaklumi, mengapa saya tidak?” bukan begitu pula cara menggunakan permakluman.

Jangan gunakan untuk diri sendiri, tapi gunakan untuk memahami kondisi orang lain. Gunakan untuk memaklumi saudara kita. Karena, nanti kita akan mengetahui, bahwa Ka’ab pun tidak dimaklumi; dan dia harus menanggung sendiri resikonya !

(Bersambung)

Subscribe to receive free email updates: