Ups... Salah!


Oleh: Eva Zuriat Elnova

Ku..Ku..Ru..Yuk..
Kokokan ayam terdengar kencang, pertanda pagi mulai tiba. Aku pun terbangun dari dunia mimpiku. Hari ini adalah hari libur. O, iya, kenalkan, namaku Winnie Oetammy Aufaniva yang akrab disapa Tammy. Beberapa bulan lagi, umurku akan bertambah menjadi 13 tahun, tepatnya pada tanggal 23 juni. Dan sebentar lagi aku juga akan duduk di bangku SMP kelas satu. SMP incaranku sekarang adalah SMPIT Baitul Muslim di Lampung Timur. Jika Allah menghendaki aku di sana, aku akan tinggal di asrama.
Setelah aku bangun, rasanya aku ingin tidur lagi alias masih mengantuk. Akhirnya, aku putuskan untuk tidur lagi. Belum ada 5 menit aku tidur, ibuku datang membangunkanku seraya berkata.
“Tammy, bangun..! ini sudah jam setengah enam! Nanti ka-mu telat!”
“ Duh, masih ngantuk nih Bu!” Seruku.
“Hari ini kamu kan test masuk SMP! Lagipula, kamu juga belum sholat!” Jelas ibu.
“Haah…!” Kagetku sambil terbangun.
Aku pun bergegas untuk mengambil air wudhu dan me-nunaikan ibadah sholat shubuh. Duh, telat nih sholatnya! Usai sholat, aku segera masuk ke kamar mandi. Selesai mandi, aku pun sarapan pagi dengan hidangan nasi goreng dan segelas susu coklat hangat. Sedang asyiknya aku menikmati makan, tiba-tiba…
“Tinn..n!” Ternyata mobil Thyta datang menjemputku.
Duh, aku belum siap-siap nih! Padahal aku masih ingin makan. Habisnya, makanannya enak sih. Kebetulan juga, aku sedang lapar. Aku pun bersiap-siap untuk berangkat. Alat-alat tulis sudah kusiapkan dengan mendadak. O iya, Thyta adalah teman satu SD-ku yang ingin mendaftar di SMPIT Baitul Mus-lim juga. Aku mendapat informasi sekolah itu darinya. Karena kakaknya bersekolah di sana, namanya Kak Ricky.
Di perjalanan, aku agak tegang. Aku takut jika testnya sulit-sulit. Aku tak akan rela jika aku tidak diterima di sana. Tapi, ku coba untuk tenang sambil menyicil belajar. Alhamdulillah, aku pun selesai belajar.

***

Sampai di tujuan…
Dag..dig..dug..hatiku berdetak makin kencang dan tambah takut. Aku pun turun dari mobil secara perlahan bersama yang lainnya. Aku berjalan menuju ruang test. Saat aku ingin ke sana, Ayah memanggilku seraya memberi nomor peserta test PSB.
”Kamu nomor urut ke 64”. jelasnya.
“Oh, iya Ayah. Aku ke sana dulu ya.”. Ujarku.
Aku mulai berjalan sambil mengotak-atik isi tasku. Saat ku periksa isinya, sepertinya ada yang kurang.
“Pensil ada, penghapus ada. Yang gak ada apa ya?”. tanyaku dalam hati.
Aku pun teringat akan sesuatu…
“ Hah!”. kagetku dalam hati.
“Duh, bagaimana ini? Papan ujianku ketinggalan..”. bi-ngungku dalam hati jua.
Aku tambah takut, tegang dan bingung. Saat aku mengotak-atik tas, tak terasa aku sudah sampai di depan ruang test. Aku melihat sesosok wanita. Sepertinya, itu ibuku. Aku pun me-nemuinya dan menitipkan tasku seraya berkata.
“Bu, tolong pegang tasku ya.”
Ibu tidak berkata apa-apa. Tapi, ia tetap memegangi tasku. Tiba-tiba, ada yang menepuk pundakku dari belakang, aku pun menoleh ke arahnya. Oh, ternyata itu Ayahku. Saat aku me-natapnya..
“Ibu kamu yang mana?” tanyanya.
Aku jadi bingung. Saat aku melihat paras ibu yang di de-panku..
“Haah..!” kagetku dari hati.
Tak kusangka, aku salah ibu. Ternyata itu bukan ibuku. Ibuku yang asli ada di sebelah Ayahku yang berdiri agak jauh dariku. Sampai sekarang, aku belum tahu itu ibunya siapa. Aku sangatlah malu. Aku bertingkah laku seperti itu di depan ba-nyak wali calon murid. Aku hanya bisa tertawa kecil sambil menahan malu. Setelah kejadian itu, aku pun meminta maaf pada ibu itu. Saat aku meminta maaf, ibu itu menjawab sambil bertanya.
“Iya ibu maafkan. Tapi, ibu heran kenapa kamu bisa salah ibu? Sudah jelas-jelas beda baju.”
Ya, kenapa ya aku bisa salah ibu? Sudah jelas ibuku memakai baju gamis warna coklat dan tidak menggenggam Al-Qur’an. Sedangkan ibu itu memakai baju warna hijau dan menggenggam Al-Qur’an. Mungkin, karena aku yang saking tegangnya sampai-sampai salah ibu. He..he..he..
Akhirnya, aku pun memasuki ruang test sendiri. Ternyata Thyta sudah terlebih dulu masuk. Aku pun duduk di bangku paling depan dan berada di samping Thyta. Lalu, aku pun diberi selembar LJK dan selembar kertas yang sepertinya berisi 50 soal test. Alhamdulillah, aku pun dapat mengerjakannya dengan baik. Aku selesai sebelum waktu mengerjakan habis. Thyta pun sudah selesai juga. Tiba-tiba, Thyta bertanya padaku dengan suara pelan.
“My, kok tadi kamu bisa salah ibu sih?”
“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Aku malu tau!” jawabku pelan tapi tegas.
“He..he..he..” tawanya kecil.
Tak lama kemudian, waktu mengerjakan pun usai. Setelah itu, ada test tilawah.
“Nomor 64!” seru Pak Pengawas.
Itu adalah nomor urutku. Aku pun segera berjalan menuju seorang Ustadz yang akan mengetest tilawah. Akhirnya, test pun sudah ku lewati dengan lancar dan baik. Aku pun berjalan menemui orang tuaku yang sedang asyik duduk berdua di tangga sekolah. Saat aku sampai, ibu bertanya padaku.
“Bagaimana testnya?”
“ Lancar kok. Soalnya juga gak susah-susah banget.”. Je-lasku.
Tak lama aku bercakap-cakap dengan ibu, Thyta pun datang. Aku pun duduk-duduk bersama Thyta di tangga seraya me-minum es dan memakan somay. Setelah itu, orang tua Thyta datang dan mengajak kami pulang. Kami pun segera memasuki mobil.
Tak lama di perjalanan, mobilnya berhenti di depan sebuah rumah. Oh, ternyata itu adalah rumah kakek dan neneknya Thyta. Kami pun beristirahat sejenak di sana. Thyta meng-ajakku jalan-jalan ke sebuah kali yang arusnya lumayan deras dan lumayan jernih. Sekitar 3 jam di rumah kakek dan neneknya Thyta, kami pun melanjutkan perjalanan pulang.

***

Di perjalanan, aku dan Thyta menyanyi-nyanyi tidak jelas. Maklumlah, kami sedang senang karena sudah terbebas dari beban test tadi. Saat pulang ini, beda sekali dengan berangkat tadi. kalau berangkat tadi, aku sangat tegang di mobil. Tapi saat pulang, aku malah berisik bersama Thyta di mobil. Lama-lama, aku merasakan ngantuk yang luar biasa. Akhirnya, aku pun terlelap tidur di mobil. Setengah jam aku tidur, Thyta pun mem-bangunkanku.
“Tammy, bangun..kita makan malam dulu..”. serunya.
“Aku masih ngantuk nih!”. Jawabku.
“Tapi kita makan malam dulu. Setelah itu kamu bisa tidur lagi..”. Jelasnya.
“Aku gak makan ah!”. Seruku.
“Yakin gak mau makan? Jangan nyesel ya. Soalnya lauknya ayam bakar lho…”. Rayunya.
“Iya…aku mau kalau sama ayam bakar..”. Jawabku senang.
Aku sangatlah senang dengan ayam bakar. Apalagi, jika ma-sih hangat. Aku pun memesan satu porsi ayam bakar dan se-gelas jus mangga. M..m..yummy and delicious..
Usai makan malam, kami pun segera melanjutkan per-jalanan. Rasa ngantukku telah tergantikan dengan rasa kenyang. Jadi, aku tidak tidur lagi. Tak lama kemudian, kami pun sampai di rumahku. Aku dan orang tuaku pun turun dari mobil seraya mengucapkan terima kasih pada orang tua Thyta. Thyta dan orang tuanya pun pulang menuju rumah mereka.
Uh.. Lelahnya menempuh perjalanan jauh. Sampai di rumah, aku pun bergegas mandi. Duh, rematik nih mandi malam. Usai mandi, aku pun langsung beristirahat di kamarku. Tiba-tiba, aku teringat kejadian salah ibu tadi.
“He..he..he..” aku pun tertawa sendiri mengingatnya. Inilah ceritaku saat test masuk SMPIT Baitul Muslim yang tak akan terlupakan. 

Subscribe to receive free email updates: