MABOK


Novika Justicia


“Adek, Sejati menang!!“ Teriak kakakku saat sesampainya di rumah.
“Waw.. Selamat yaa Ti..“ Balasku.
Memang, kakakku sering menjadi salah satu perwakilan sekolah untuk mengikuti lomba-lomba, salah satunya ya mading ini. Aku ingin sekali seperti Sejati yang bisa mengikuti lomba mading se-sumbagsel. Aku berharap, saat SMP nanti aku bisa jadi salah satu peserta lomba mading. O, ya, kenalin namaku Afifah Faza Nabila. Aku biasa disapa teman-temanku Afna.

***

1 tahun kemudian....

“Baik anak-anak sebelumnya selamat datang di kelas baru kalian. Saya di sini sebagai wali kelas baru kalian. Semoga kita bisa membuat kelas kita menjadi kelas yang terdepan di antara kelas-kelas yang lain.” Ujar Miss Nurul, wali kelas baruku.
“Amienn..“ Teriak kami kompak.
“Emm, Miss, gimana kalau setelah pemilihan perangkat ke-las kita menghias kelas?“ Usul Muthi’ah, salah satu teman baru-ku.
“Iya Miss, Muthi’ah pinter gambar lho!“ Sambung Miftah.
“Emm, boleh tapi yang terpenting kita memilih perangkat kelas kita dulu yaa!!“ Miss Nurul memberitahu kami.
Aku terdiam dan tersentak setelah mendengar penuturan Miftah tentang Muthi’ah yang pintar menggambar. Aku khawa-tir kalau nantinya aku gak bisa ikut lomba mading se-Sumbag-sel.
“Afna..“ Jerit Franda, mengagetkanku.
“Eh..em.. apa Fran?“ Tanyaku gugup.
“Hayyo.. ngelamunin apa?“ Tanya Franda.
“Enggak kok. Jawabku.
Tiga bulan lagi lomba mading se-Sumbagsel akan diadakan lagi. Tapi SMPIT BM belum menampakkan aktivitas atau sim-bol-simbol yang menandai akan keikutsertaannya. Apa aku yang terlalu ngebet yaa??

***

Tiga bulan berlalu....

Tepatnya hari rabu. Pada saat itu kelasku, 7c sedang belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi kami semua.
“Assalammualaikum..“  Kata Pak Joni, seraya membuka pintu.
“Wa’alaikumsalam. Jawab kami serentak.
“Ada apa Pak?“ Tanya Bu Ani, yang kebetulan sedang mengajar di kelasku.
“Maaf Bu, minta waktunya sebentar. Bisik Pak Joni kepada Bu Ani.
Kami semua terheran-heran dan bertanya-tanya untuk ke-perluan apa Pak Joni datang ke kelas kami

“Baik anak-anak Bapak minta waktunya sebentar ya.. Jadi begini, sekolah kita diundang untuk mengikuti lomba mading se-sumbagsel. Dan sekolah memilih salah satu anak dari kelas ini, dan dia adalah...“ Kata Pak Joni yang sengaja meng-gantungkan kalimatnya.

Aku terdiam karena saat yang kutunggu akhirnya datang. Dan tidak hanya aku tapi teman-temanku juga ikut terdiam me-mikirkan siapa yang akan mengikuti lomba itu. Saat, aku mulai khawatir,  karena menurutku yang akan mengikuti lomba itu pas-ti adalah Muthi’ah, dia kan pinter gambar tapi apakah masih ada harapan untukku bisa mengikuti lomba itu??  Ah entahlah,  se-muanya hanya bisa kupasrahkan kepada Allah.
“Siapa Pak?“ Teriak Danu mengagetkan seisi kelas. Akupun buyar dari lamunanku.
“Dia adalah Afifah Faza Nabila.“ Jawab Pak Joni.
“Haa.. aku?“ Ujarku tak percaya.
“Ya, kamu. Jawab Pak Joni mantap.
“Selamat ya Afna. Kata teman-temanku, memberikan ucap-an selamat.
“Ayo Afna, kamu ikut bapak ke Lab untuk briefing. Kata Pak Joni.
“I..iya pak. Jawabku ragu.
Selama aku berjalan menuju lab, aku masih terus memi-kirkan kenapa bisa aku yang kepilih yaaa?? Tapi ya sudahlah, harusnya aku bersyukur bisa ikut lomba ini.

***

Sesampainya di lab, ternyata sudah banyak kakak kelas yang menunggu di sana. Dan aku kaget ketika melihat kakakku yang ternyata ikut juga dalam lomba ini. Di sana juga ada seorang pembina lagi yang nanti juga akan membimbing kami dalam urusan mading. Ia adalah Pak Ibnu.
“Haduhh.. Mba’ kenapa aku bisa kepilih yaa?“ Bisikku ke-pada Mba’ Dina.
“Udah gak apa-apa. Mba’ juga baru tahun ini ikut, padahal Mba’ juga gak pinter-pinter banget gambarnya“ kata Mba’ Dina.
“Ihh.. tapi kan Mba’ masih pinter dikit..“ Balasku.
“Udalah, nambah pengalamankan?“ Tanya Mba’ Dina.
“Iya juga sih..“ Jawabku.
Percakapanku terputus oleh penjelasan Pak Ibnu seputar ma-ding.
“Jadi mading yang kita buat ini bukan mading seperti biasanya, melainkan ini mading tiga dimensi. Mungkin yang ke-maren ikut lomba ini sudah paham yaa..“ Kata Pak Ibnu men-jelaskan.
“Pak, kelompoknya berapa, terus siapa aja?” Tanya ka-kakku, Mba’ Zakia.
Kelompok kita bagi menjadi dua. Kelompok pertama akan dipimpin oleh Annisa Zakia dan kelompok ke-2 akan dipimpin oleh Khoirunisa Salsabila. Dan untuk anggota kalian bisa pilih sendiri. Tutur Pak Ibnu menjelaskan.
Selama kakak kelas sibuk memilih anggotanya, aku bertanya kepada Pak Joni, apa ada peserta kelas 7 selain aku dan ternyata ada. Dia adalah Dinda. Ya memang Dinda itu pintar gambar.
“Pak, anggota kelompoknya sudah kami tentukan.Kata Mba’ Zakia, kakakku.
“Oh, ya kalau begitu, tolong bacakan!“ Pinta Pak Ibnu.
“Kelompok 1             kelompok 2
             Zakia                      Khoirunisa
             Husna                     Dina
             Anti                        Dhila
             Afna                       Dinda
Itu Pak kelompoknya, apa bapak setuju?“ Tanya Mba’ Zakia.
“Boleh, saya setuju. Jawab Pak Ibnu.
“O, ya pak, untuk tema mading kali ini kita akan mengang-kat tema apa?“ Tanya Mba’ Khoirunisa.
“Untuk tema kita akan rundingkan nanti sore setelah pulang sekolah, jadi nanti setelah sholat ashar kita briefing lagi ya. Kata Pak Ibnu.
“Baik pak. Jawab kami serentak
Saat yang dinanti pun tiba, yakni briefing. Dalam briefing ini, Pak Ibnu menjelaskan bahwa kelompok 1 yang diketuai oleh Mba’ Zakia akan dibimbing oleh Pak Ibnu sendiri, sedang-kan kelompok 2 yang diketuai oleh Mba’ Khoirunisa akan di-bimbing oleh Pak Joni. Selain itu, Pak Ibnu  juga menjelaskan bahwa tema mading kelompok 1 itu tentang Tanah Lot di Bali, sedangkan tema kelompok 2 tentang suatu tempat yang dipenuhi gedung pencakar langit dan ada rumah sigernya, dan masih banyak lagi penjelasan dari ke-2 pembina.

***

”Syifa, kamu liat Dinda gak? Soalnya dari kemarin dia gak keliatan..“ Tanyaku kepada Syifa, teman sekelas Dinda.
“Oh Dinda. Dia memang belum pulang ke asarama. Kayaknya nanti siang deh baru pulang. Jawab Syifa.
“Jadi gitu, makasih ya. Syif, nanti kalau Dinda udah pulang ke asrama, kamu tolong sampein ke dia kalau dia itu ikut lomba mading se-sumbagsel dan setiap habis sholat dzuhur kita diberi waktu oleh sekolah agar latihan lomba dan diizinkan untuk gak ikut pelajaran. Tolong sampein ya, makasih. Pintaku.
“Ok. Entar aku sampein. Balas Syifa.
Saat waktu dzuhur tiba, aku dipanggil ke Lab untuk latihan. Di Lab, kakak kelasku sudah menunggu. Sesampainya aku di Lab, aku disuruh ke asrama untuk memanggil Dinda. Katanya Pak Joni sih dia udah pulang. Pada saat ditengah perjalanan aku ketemu Dinda, ternyata dia lagi jalan menuju Lab. Kebetulan deh jadi aku gak usah capek-capek ke asrama.
“Hay Din..“ Sapaku.
“Hay juga, aku tadi dibilangin Syifa tentang lomba mading itu. Ujar Dinda.
“Iya, sekarang ke Lab yuk, kakak kelas udah pada nuggu tuh. Ajakku.
Sesampainya aku dan Dinda di Lab, kakak-kakak kelas sudah mulai menyicil pekerjaan seperti memotong karton untuk membuat pola rumah, mengukur, membuat sketsa, dan lain-lain. Hal itu dilakukan agar nanti waktu di sana kita gak terlalu kere-potan lagi.
“Ada yang bisa kubantu Mba’?“ Tawarku kepada Mba’ Hus-na.
“Iya ada, kamu tolong ambilin karton di sebelah sana ya. Pinta Mba’ Husna.
“Oh iya Mba’ dengan senang hati. Jawabku.
Waktu lomba beberapa hari lagi datang. Kesibukan kami ma-sih terus berjalan. Seperi halnya aku dan Dinda, kami bingung mau mambantu apa. Mengecat sudah ada yang tugas (walaupun tadi sempet sih sebentar) dan memotong-motong juga sudah ada. Akhirmya kami putuskan untuk membuat pohon dari ranting dan daunnya dari karton yang dicat.
“Din, kita carinya di belakang sekolah aja ya, kan di sana banyak ranting tuh. Saranku.
“Boleh.. yuk. Ajak Dinda.

Beberapa saat kemudian..

“Afna, udah banyak nich.. Kita mulai buat pola yuk. Ajak Dinda menyudahi mencari ranting.
Yaudah, yuk. Balasku.
Kami terus membuat pohon sampai waktu latihan habis. Dinda bertugas membuat pola Sedangkan aku bertugas mengecat dan memotong polanya. Hal ini terus kami lakukan hingga hari terakhir waktu latihan. Tapi selama latihan kami tidak hanya membuat pohon saja melainkan kami juga membantu kakak kelas mengecat rumah-rumah dan lain-lain. Bahan mading sudah hampir 50% diselesaikan di sekolah, sedangkan sisanya ditempat perlombaan nanti. Sisanya itu meliputi menempelkan daun ke ranting, menempelkan atap ke bagan rumah., mengecat papan triplek, membuat tulisan-tulisan menarik, dan masih banyak lagi.

***

Saat yang ditunggu pun tiba yakni hari perlombaan. Aku dan kakakku sudah bangun dari pagi agar tidak kesiangan. Setelah membantu orang tuaku, mandi, makan, dan berpamitan aku dan kakakku langsung menuju sekolah. Pada saat sampai di sekolah ternyata mobil yang akan kita naiki sudah mau berangkat. Untung aja kita gak telat banget.
“Koq siang banget berangkatnya?. Tanya Mba’ Husna.
“Tadi mati lampu, Mba’. Jawabku.
“Ada yang mau roti gak?“ Tawar Mba’ Dhila kepada kami se-mua.
“Enggak deh, udah kenyang tadi abis sarapan!!“ Kata Mba’ Dina.
“Kamu gak kenyang Dhil?“ Tanya Mba’ Dina heran.
“Orang aku tadi gak sarapan. Bela Mba’ Dhila.
Suasana didalam mobil sangat mengasyikkan. Tapi aku sedi-kit khawatir karena aku takut kebiasaanku saat naik mobil yang suka mabok kejadian pada waktu seperti ini. Aku terus berdoa kepada Allah agar aku diberi mukjizat tidak mabok. Karana jika aku sampe mabok aku takut nantinya lomba yang aku jalani tidak maksimal. Sebenarnya hal ini nih yang paling ditakutkan orang tuaku karena jika ada lomba-lomba yang mengharuskan naik mobil akunya mabok dan orang tuaku bilang takut menyusahkan gurunya.
Menit demi menit telah berlalu aku belum merasakan pusing. Sampai pada waktu detik-detik sampainya kami di tempat per-lombaan yakni bandar lampung tepatnya di kampus UNILA. Setelah turun dari mobil segera saja BYYAAAARRR..... unek-unekku dalam perut keluar mulai dari sarapan yang kumakan hingga makanan malam yang kemarin aku makan dan itu semua ditampung di kresek hitam.
“Adek gak apa-apa?. Tanya kakakku khawatir.
“Gak apa-apa kok Ti, cuma sedikit pusing”, jawabku, meya-kinkan kakakku.
“Afna kenapa, wah.. mabok yaa?“ Tanya Pak Ibnu.
“I..i..iya Pak. Ujarku malu-malu.
Setelah aku selesai dengan urusan mabok. Kami langsung me-nuju lokasi perlombaan yakni di lantai 3 kampus UNILA. Hufft.. Rasanya capek banget harus menaiki banyak anak tangga tapi kelelahanku terbalaskan ketika melihat tempat lombanya. Disana sudah banyak peserta dari sekolah lain yang sudah datang dan bersiap-siap. Kami langsung saja memilih tempat yang nyaman, yakni didepan kipas angin yang sangat besaar. Tapi aku tidak terlalu suka karena di situ terlalu dingin, tapi yaa mau gimana lagi masa iya sih aku menolak keinginan kakak-kakak kelas aku. Nanti dibilangin gak sopan lagi.
Setelah kami meletakkan perlengkapan ditempat kami tiba-tiba kami disuruh geser karena di situ ternyata sudah ada yang menempati, yaa mau gak mau pindah. Tapi kalau aku sih alhamdulillah bisa jauh-jauh dari kipas angin itu.
“Afna tolong kamu keluarin bahan-bahan kita dari dalam kar-dus itu yaa. Pinta Mba’ Anti.
“Oh, iya Mba’. Jawabku singkat.
“Eh, kita bagi-bagi tugas yaa. Usul Mba’ Zakia, kakakku se-laku ketua di kelompok 1.
“Setuju. Jawab kami serempak.
“Ok, kalau begitu saya sama Husna bertugas mengecat lantai triplek dan menulis, sedangkan kamu Anti dan Afna bertugas mengecat langit-langit triplek. Perintah Mba’ Zakia.
“Baik Mba’“ Balasku dan Mba’ Anti.
Aku dan kelompokku mulai mengerjakan tugasnya masing-masing. Namun ditengah-tengah saat aku sedang mengecat, ke-palaku tiba-tiba pusing banget. Mungkin efek dari mabok tadi kali yaa. Aku gak tahan banget sama pusingnya. Jadi sembari aku mengecat aku terus memegangi kepala dan menunduk hingga seorang panitia mandatangiku dan menyuruhku istirahat diba-wah. Tapi aku tetap tidak mau. Mba’ Antipun iku-ikutan menyu-ruhku istirahat dulu katanya nanti kalau udah mendingan baru kesini ngelanjutin lomba. Akhirnya akupun menuruti apa yang mereka sarankan. Aku dibawa keluar menemui Pak Joni dan Pak Ibnu.
“Adik ini kenapa pak?“ Tanya seorang panitia yang mendam-pingiku dan pembinaku turun menuju lantai bawah gedung untuk mencari tempat aku beristirahat.
“Oh, kayaknya dia masih pusing soalnya tadi abis mabok. Jawab Pak Ibnu.
Aku hanya terdiam mendengarkan Pak Ibnu dan kakak panitia tadi ngobrol. Sampai obrolan mereka terhenti didepan mushola.
“Nah dek, kamu tiduran aja di sini. Saran kakak panitia itu.
“Iya kak. Jawabku.
Baru saja aku melangkahkan kakiku, aku langsung keluar lagi. Karena apa?? Karena musholanya bau solarr... hiii.... gak enak banget. Di situ perutku mulai ngamuk lagi dan isinya minta keluar lagi. Akhirnya aku buru-buru ke toilet untuk menuntaskan semuanya.

***

“Gimana Afna, udah enakan?“ Tanya Pak Ibnu.
“Udah Pak. Balasku.
“Berarti kamu tadi pusing gara-gara unek-unek di perutmu belum keluar semua. Tambah Pak Joni.
“Kayaknya sih iya Pak. Pak saya mau ngelanjutin lomba di atas. Kataku kepada pembina.
“Kamu yakin? Nanti sakit lagi?“ Jawab Pak Ibnu ragu.
“Iya udah nanti aja. Kalau udah bener-bener sehat baru ngelanjutin lomba.“ Pak Joni menambahi.
“Enggak kok pak saya udah kuat. Jawabku mantap.
“Ya udah kalau gitu sana..“ Perintah Pak Ibnu.
Akupun melanjutkan lomba dengan membantu Mba’ Anti mengecat langit-langit. Saat aku ke tempat Mba’ Zakia dan Mba’ Husna bermaksud untuk membantu mereka tiba-tiba salah seo-rang panitia menyuruhku mengeluarkan semua barang-barang yang kami bawa yang ada di dalam kardus. Aku ragu-ragu me-ngeluarkannya. Karena aku takut kami dimarahi karena banyak bahan yang sudah kami buat dari sekolah. Tapi untungnya ada salah seorang panitia lainnya yang menghentikan perintah kakak panitia yang tadi menyuruh kami.

***

Disela-sela kesibukan kami, tiba-tiba ada salah satu panitia menghampiri kami dan memberikan kami sebuah kertas.
“Dek, ini ada surat dari pembina kalian. kata kakak itu.
Memang guru pembina dilarang masuk jadi kita hanya bisa berkomunikasi dengan mereka melalui surat.
“Oh, makasih kak. Jawab kami.
Didalam surat itu, pembina kami meminta kami agar santai saja karena waktu masih lama. Dan penbina menyuruh kami mengganti cat atap perumahannya lalu menempelkannya di triplek dengan kuat agar tidak mudah lepas. Selesai membaca surat itu, Mba’ Zakia menyuruh Mba’ Anti mengganti cat.
“Anti, kamu ganti cat atapnya ya dengan warna kuning. pe-rintah Mba’ Zakia.
“Iya Mba’. Kata Mba’ Anti.
“Dan kamu Afna, kamu bantu saya dan Husna untuk meng-ecat lantai triplek karena kami belum menempelkan daun ke ran-ting. Ujar Mba’ Zakia.
“Baik Mba’“ Jawabku.
Detik demi detik berlalu. Tak terasa kami telah melewati 3 jam perlombaan sisanya waktunya hanya tinggal 2 jam lagi dan itu disambung setelah istirahat shalat dzuhur.

***

Diperjalanan kami saat mencari mushala, kami ngobrol dengan Pak Ibnu dan Pak Joni
“Gimana tadi lombanya?“ Tanya Pak Joni dan Pak Ibnu.
“Yah.. Begitulah pak, sempat ada hal yang menegangkan. Jawab Mba’ Husna.
“Apa?. Tanya Pak Ibnu penasaran.
“Tadi itu ada salah satu kakak panitia yang meminta memper-lihatkan isi bawaan kita yang di kardus. Kan banyak tuh Pak, kita takut kita diskualifikasi karena kebanyakan bawa bahan jadi dari sekolah.“ Tutur Mba’ Husna menjelaskan.
“Terus kalian turutin gak?“ Pak Ibnu kembali bertanya .
“Pertamanya sih Afna nurutin tapi abis itu sama Husna disu-ruh berhenti untung aja ada salah satu panitia lain yang menyu-ruh kami berhenti. Sambung Mba’ Zakia.
“Eh, Pak itu mushalanya. Celetuk Mba’ Khoirunisa.
“Ya udah shalat yuk nanti kalau udah pada selesai kita ketemu lagi di bangku samping mushala ya. Kata Pak Ibnu.
Setelah kami semua selesai shalat kami bergegas ketempat yang dimaksud Pak Ibnu. Lalu kami semua langsung mencari tempat yang enak untuk makan. Akhirnya kami berhenti ditem-pat dekat pohon rindang. Kami memilih tempat itu karena teduh. Walaupun teduh aku masih nggak enak makan soalnya perutku masih mual gara-gara mabok tadi. Hufft.. nyebelin deh. Setelah semua selesai makan, Pak Joni dan Pak Ibnu menyuruh kami ber-gegas menuju ke lokasi lomba karna takut nanti telat datang.

***

“Untung aja ya.. kita tinggal menghias tulisan, nempelin atap ke rumah, nempelin bahan ke triplek, sama nempelin tulisan-tulisan. Mudah-mudahan aja kita bisa selesai tepat waktu. Ujar Mba’ Zakia.
“Amien..“ Jawab kami mengamini perkataan Mba’ Zakia.
“Ya udah kalau gitu, Afna sama Anti nempelin atap ke bagan rumah, saya sama Husna menghias tulisan. Nanti kalau saya dan Fatiya udah selesai kita sama-sama nempelin semuanya ke triplek “, perintah Mba’ Zakia.
“Baik Mba’. Balas kami serentak.
Setelah semuanya selesai, kami mulai menempeli semua bahan ke triplek. Dan
Priitt.........
Peluit tanda waktu habis telah ditiup kakak panitia. Untung aja SMPIT BM udah selesai semua. Setelah waktu habis kami berputar mengelilingi lokasi lomba dan melihat-lihat mading kelompok lain, Ternyata bentuknya aneh-aneh, ada yang bentuk piringan, rumah, globe, pintu, dan masih banyak lagi. Tak lupa kamipun berfoto-foto disana.
Ternyata mading SMPIT BM banyak yang menyukai terbukti dengan banyaknya peserta lain yang memfoto mading sekolah kami. Setelah kami selesai berfoto-foto, kamipun keluar ruangan untuk menemui pembina kami. Kami bercerita ria kepada mere-ka. Tapi hal ini tak membuatku sedikit senang karna dengan ber-akhirnya lomba ini, itu berarti aku harus mengalami pen-deritaanku lagi yakni mabok saat naik mobil. Di mobil aku du-duk di depan. Dan pastinya aku terus berdoa agar kebiasaanku itu tidak datang lagi.
“Afna, gak mabokkan??“ Tanya Pak Joni memastikan.
“Insya Allah enggak Pak. Jawabku meyakinkan.
Aku hanya terdiam saja di dalam mobil, sembari melihat kakak-kakak kelasku yang tertawa ria. Aku ingin juga tertawa seperti mereka, bercanda, dan bersenang-senang. Tapi aku gak bisa, karena kalau aku ngomong perutku jadi mual apalagi tertawa. Disela-sela lamunanku, Mba’ Khoirunnisa memanggil-ku.
“Afna, gak apa-apakan??“ Ujar Mba’ Khoirunnisa.
“Enggak Mba’, cuman sedikit mual sama pusing. Jawabku.
“Oh, kalau misalnya gak mau di depan pindah belakanga aja sini sama yang lain, Saran Mba’ Khoirunnisa.
“Iya Mba’.“ Jawabku singkat.
Perjalanan pulang ini terasa lama banget. Rasanya aku udah gak tahan. Perutku udah ngamuk, unek-unek itu mau keluar lagi. Aku coba tahan tapi gak bisa akhirnya.... BYAAARRRRRR...... unek-unek itupun keluar lagi.
“Eh, Afna, mau minyak kayu putih? Tawar Mba’ Husna.
“Makasih Mba’. Kataku.
“Ya.. minyak kayu putihnya kamu olesin ke badan kamu, biar anget. Saran Mba’ Dina.
Aku fikir penderitaanku udah selesai tapi ternyata nggak. Sampai kami tiba di suatu pom bensin. Kami berhenti disitu karena bermaksud untuk shalat maghrib. Aku senang sekali kare-na bisa keluar sesaat dari penderitaan ini.
“Afna, shalat dulu yuk. Ajak kakakku.
“Enggak ah, aku shalat di rumah aja. Perutku mual banget. Tolakku.
“Yaudah, kamu tiduran aja didepan mushala. Saran kakakku.
“Iya Ti. Jawabku.
Aku berharap agar mereka semua shalatnya lama. Agar aku bisa istirahat agak lama. Tapi baru sekitar 15 menit aku tiduran, tiba-tiba mereka semua memanggilku dan menyuruhku masuk  mobil.
“Ayo, masuk. Perintah Mba’ Dhila.
“Aku pengen duduk belakang aja. Pintaku.
“Yaudah.. kalau gitu sana kebelakang. Nanti biar ada salah satu yang pindah ke depan. Kata Mba’ Dhila.
“Makasih Mba’. Balasku.
Di belakang, aku duduk di samping Mba’ Khoirunnisa. Aku tidur disampingnya. Tapi Mba’ Khorunnisa gak merasa kebe-ratan kalau aku tidur di sampingnya. Dia malah menyuruhku un-tuk tidur saja biar gak muntah. Tapi, tiba-tiba saja perutku men-dadak mual dan ingin muntah lagi. Dengan segera aku meminta kresek sama Mba’ Husna. Lalu akupun menuntaskan semuanya kedalam sekantung kresek. Mba’ Khourunnisa sepertinya iba melihatku. Ia memijit pundakku dan menyuruhku untuk tidur lagi. Ya Allah, baiknya orang ini.

***

Satu jam perjalanan telah berlalu. kamipun berhenti sejenak didepan sebuah rumah makan. Pembina kami menyuruh kami agar makan dulu disitu.
“Ayo.. semuanya turun.. makan dulu. Perintah Pak Ibnu.
“Baik pak “, Jawab kami serentak.
“Sejati, aku gak mau makan, perutku mual banget. Ujarku pada kakakku.
“Eh.. Gak boleh harus makan dulu. Yaudah nanti pesennya makanan yang anget aja ya. Biar perutnya anget juga. Kata ka-kakku.
Sesampainya didalam rumah makan itu, semua kakak kelasku sibuk dengan pesanannya masing-masing, begitu juga dengan guru kami. Ada yang memesan mie ayam, bakso, pecel, nasi go-reng, dll. Tapi aku masih bingung mau pesen apa. Soalnya ma-kanan apapun semuanya gak enak kalau aku makan dalam kea-daan perut mual begini.
“Sejati, aku makan apa?. Tanyaku kepada kakakku.
“Kamu makan sop aja ya..“ Saran kakakku.
“Yaudahlah terserah aja. Jawabku malas.
Setelah masing-masing orang telah mendapatkan porsinya, mereka sibuk menyantapnya. Tapi tidak dengan aku. Aku tidak mau menghabiskan sop itu. Baru tiga kali suapan saja aku udah mual, apalagi semuanya. Asal kalian tau yaa.. Sopnya itu rasanya asam banget.. jadi gimana coba mau diabisin. Akhirnya akupun menyudahi makannya.
“Sejati, aku gak mau makan lagi ah, rasanya asem.“ Ujarku.
“Lho.. nanti sakit loh, Kata kakakku khawatir.
“Abisnya asem, udah tau perut lagi mual kayak gini. Ke-luhku.
“Ya udah kalau gitu tomatnya disingkirin aja deh biar gak asem..” Saran kakakku.
Tapi walaupun udah gak ada tomatnya lagi, rasanya tetap saja asem, akhirnya akupun hanya melamun sambil menunggu yang lain selesai makan. Ketika semuanya sudah selesai makan, kami-pun kangsung bergegas menuju mobil. Tapi sebelum naik ke mobil, aku sempat bicara kepada Pak Ibnu dan Pak Joni bahwa aku gak tahan  kalau harus naik mobil lagi. Akhirnya, mungkin karena mereka iba melihatku yang penderitaannya gak akan berhenti kalau gak turun dari mobil, mereka menyuruhku untuk bareng Pak Joni saja naik motor. Kebetulan Pak Ibnu dan Pak Joni itu dari berangkat tadi memang gak ikut rombongan naik mobil melainkan naik motor karena Pak Joni itu ternyata juga suka mabok kalau naik mobil. Yaa mau gimana lagi, dengan terpaksa, akupun naik motor sama Pak Joni. Perjalanan dari rumah makan yang bertepatan di metro itu sampai Way Jepara terasa lama dan dingin sekali mengguanakan motor.

***

Setelah aku dan Pak Joni telah sampai di Way Jepara, tepatnya 1 km dari rumahku aku berkata pada Pak Joni.
“Pak, nanti aku turun didepan rumah ya. Kataku kepada Pak Joni.
“Iya..“ Jawab Pak joni.
“Kalau kamu mabok kayak gini, besok siapa yang presentasi. Tanya Pak Joni.
“Memang presentasi itu untuk apa Pak?“ Aku balik bertanya.
“Ya untuk menambah nilai“ Jawab Pak Joni.
“Kan ada Mba’ Zakia dan di kelompok 2 ada Mba’ khoirun-nisa“ Kataku.
“Kamu lupa ya?? Kan mereka kelas 3 dan besok sudah UN. Ujar Pak Joni.
Oiyaya.. aku lupa. Jawabku.
Di tengah-tengah perbincangan kami, tak terasa aku sudah sampai didepan rumah. Dan ayahku sudah menunggu disana. Saat aku turun dari motor, aku langsung mengucapkan terima kasih kepada Pak Joni dan langsung masuk kedalam rumah untuk segera beristirahat. Ketika aku sudah didalam rumah. Akupun tidak sempat mengobrol dengan keluargaku karena aku sangat lelah dan ingin segera tidur.

***

Enam  hari telah berlalu. Tapi pengumuman hasil lomba be-lum diumumkan. Sampai genap 1 minggu akhirnya hasilnyapun diumumkan. Betapa kecewanya kami ternyata mading sekolah kami hanya bisa meraih gelar sebagai juara favorit bukan juara umum. Hal itu disebabkan karna kemarin kami tidak ke UNILA lagi untuk presentasi. Selain itu kami juga terlalu banyak mem-bawa bahan setengah jadi dari sekolah. Tapi yaa sudahlah mau diapakan lagi, walaupun tahun ini kami belum bisa membawa piala juara umum itu kembali ke SMPIT BM lagi, kami berharap tahun depan  piala itu bisa kembali lagi ke rak piala-piala kami. Amien..

Subscribe to receive free email updates: