Sepotong Episode


Oleh  : Arifah Muthmainnah

Butiran-butiran air yang beberapa hari lalu menguap dan menjadi gumpalan awan tebal kini mulai mencair menjadi titik air yang perlahan membasahi lapisan terluar bumi. Dahan-dahan basah yang diiringi gerimis hujan menghantarkanku untuk me-nuntut ilmu-Nya.
Jalan-jalan aspal  yang hitam mulai licin karena terciprat air hujan dan lumpur kotor dari ban-ban para supir pengantar jasa itu. Halaman rumah para penduduk yang terletak di trotoar jalan terlihat di genangi air keruh karena tercampur langsung dengan tanah di halaman luar rumah mereka. Selokan yang seharusnya jadi tempat melintas ke sawah-sawah malah mereka jadikan tempat mereka membuang sampah rumah tangga, alasan mereka supaya sampah-sampah itu hanyut terbawa air, padahal kenya-taannya sama sekali tidak, malah membuat mereka rugi.
Setengah jam kami melewati licinnya jalan dan terjalnya aspal-aspal yang mulai rusak karena tidak kuat menahan beban berat, mulai dari kendaraan beroda sampai yang tidak beroda.
Satu persatu kami turun dari mobil travel berwarna putih yang cukup menampung 17 manusia beserta kepalanya. Dengan jiwa pelajar yang terbawa suasana cuaca kami turun dengan rasa ma-las yang turut menyertai.
Sudah pukul 10.10 WIB, tetapi matahari sama sekali tidak ada tanda-tanda menampakkan sinarnya. Angin dingin yang datang bersama rintik hujan perlahan mulai menembus tipisnya kulit ka-mi.
Sekarang adalah saatnya kami untuk istirahat di kantin bagi para manusia-manusia yang  nekat menembus butiran hujan demi memenuhi ajakan perutnya.
“ Na, ke kantin yuk! ”, ajak seorang anak bertubuh kecil, panggil saja dia Ria.
“ Males ah, dingin! ”
“ Ya, nanti kita makan di dalam rumah Teteh aja sambil non-ton TV. ”
“ Lha Chintia, Diana, sama Intan mana? ”
“ Tadi Chintia ke kamar mandi sama Diana, mungkin seka-rang udah jajan duluan. Kalau Intan udah kekantin sama Ummi and the gank.”, jelas Ria.
Sejenak aku berfikir untuk menahan dingin demi untuk makan, atau tidak makan untuk demi menahan dingin. Akhirnya aku menyetujui ajakan Ria, karena rasa lapar diperutku telah mengalahkan kekhawatiranku terhadap rasa dingin di luar sana. Dengan langkah seribu, kami berdua menuju ke surganya makan-an di SMP IT ini. Langsung saja kami memesan 2 gelas pop ice rasa mangga dan 2 piring kecil berisi 1 pisang goreng dan 1 risol.
“ Dingin-dingin kok minum pop ice” celoteh sang ketua kelas kami, Aininda.
“ Kalo gak minum pop ice nanti sakit Nda! ”, jawab Ria.
“ Kok aneh? ”.
“ Yah Ria, dia mah udah kebal sama pop ice, malah kalo gak minum pop ice nanti malah sakit. ”, sambung Oca.
“ He..he..”
Seperempat jam kami menyantap hidangan yang di selingi obrolan, gurauan, dan sajian layar televisi 20 inci milik sang penjaga kantin yang biasa kami panggil teteh. Di luar suara rintik hujan sudah mulai tak terdengar lagi, tanda-tanda hangatnya sinar mataharipun juga mulai sedikit terasa, tetepi rasa dingin masih belum terkalahkan. Tepat pukul 10.30 WIB, bel masuk pun mulai nyaring berbunyi ditelinga kami, yang artinya kami harus segera masuk kelas dan melanjutkan pelajaran yang tidak masuk-masuk juga ke otak.
Sebagai murid TELADAN (Telat Datang), kami lebih me-milih mengulur waktu untuk ke kamar mandi dan bercermin. Sedikit terlambat sudah biasa kami lakukan. Tetapi kami juga ti-dak semberono saat mengulur waktu. Seperti saat kami mencari penyakit, kamipun pasti telah menyediakan obat agar bisa ter-netralisir dan tidak merembet ke seluruh tubuh. Kami telah menyiapkan sebuah alasan yang cukup jitu yaitu tentu saja “kekamar mandi”. Alasan cukup membuat guru kami diam tanpa kata untuk menyanggah alasan kami.
Dan benar saja, rencana kami sukses 100% tanpa cacat se-dikitpun. Seorang wanita berkaca mata tanpa curiga menyuruh kami duduk dan melanjutkan pembahasan-pembahasan yang sempat terpotong karena kedatangan kami.
Tengah hari telah tiba bersama hangatnya sang mentari. Jalan-jalan aspal di depan sekolah kami yang tadinya basah mulai kering, kecuali lobang-lobang jalan rusak rusak yang masih digenangi air kotor. Sekarang adalah waktu untuk ISOMA (Istirahat Sholat Makan), mengistirahatkan sejenak jiwa dan raga kami setelah lelah berkonsentrasi dengan pelajaran yang tidak masuk-masuk ke otak.
“ Wudhu tempat Teteh yuk! ”, ajak Chintia.
“ Ayo, Ina ayo cepetan, keburu tempat wudhunya rame.”, kata Diana.
“ Iya, sebentar, lagi beres-beres buku nih, nanti di colong Tu-yul lagi”
“ Tuyulnya Mbahmu. Udah ayo cepetan kamu!” ucap Chintia yang sudah tak sabar.
“ Iya-iya”.
Kami berempat berwudhu ditempat biasa kemudian menuju aula untuk melaksanakan sholat dzuhur. Setelah selesai sholat dan murojaah para siswa-siswi langsung kocar-kacir bagai debu di tiup angin. Sebagai anak full day kami kembali ke surganya makanan untuk mengisi energy. Sebagian yang lain menuju ke asrama untuk makan siang. Seperti biasa kami langsung me-mesan semangkuk mie dan es, lalu kami menuju ke tempat biasa untuk menyantap makanan yang ternyata sudah ramai didatangi para siswi lain.
Setengah jam kemudian kami menyantap sajian. Kulihat jam tangan sudah menunjukan pukul 12.30 WIB.
“ Balik yuk woy! ”, ajak Ummi.
“ Eh, tadi kata Bunda dari siang sampai sore kita dikasih wak-tu untuk menghias kelas ya? ”, tanya Diana. Bunda adalah se-butan untuk ketua kelas kami yang bernama Ninda. Anaknya ba-ik dan pinter. Dialah yang selalu perhatian dan selalu mengingatkan kami kalau kami salah. Pokoknya seperti bunda di rumah.
“ Iya! ” jawab Intan.
“ Ciiiiihuuiyy.. berarti kita gak belajar dong! ”
“ iya lah.”
“ Seneng amat sih gak belajar ”, sambung Rani.
“ Iya dong, serasa bebas dari sel penjara, walau cuma sebentar ”, jawabku.
“ Ya udah, ke kelas yuk! ”, ajak Tina
Ummi, Rani, Anisa R.W., Intan, dan Tina lebih dulu pergi ke kelas, sedangkan aku, Chintia, Diana, dan Ria lebih dulu mampir ke kamar mandi sekedar untuk berkaca gigi kalau-kalau ada cabai yang duduk nangkring di gigi kami. Maklum saja kami ini anak yang sedikit JAIM (Jaga Image).
Sekilas aku melihat Diana, dia seperti sedang melihat sesuatu di pohon.
“ Eh woy, nyeser yok! ”, ajak Diana dengan wajah semangat.
Ternyata dia memperhatikan jaring kecil yang ada di cabang pohon, dan menemukan ide untuk nyeser.
“ Heh ngawur, kitakan disuruh ngehiar kelas! ”, ucap Chintia mengingatkan.
“ Heleh paling juga di kelas tuh yang dibutuhin cuma Bunda, Nisa Khoi, sama orang orang yang mau disuruh ini disuruh itu, pasang ini pasang itu, beli ini beli itu. Satu kelas di hias 21 orang itu udah lebih dari cukup. Dari pada kita ngendok di kelas, men-ding juga kita nyeser ”, jelasku panjang lebar.
“ Tapi, apa nanti gak kena marah Bunda? ”.
“ Yaa, asal gak ketauan gak pa-pa. Lagian apa Bunda sempet ngurusin kita? Ngurusin kelas aja udah pusing ”, tegasku meya-kinkan Chintia.
“ Ya udah deh, nyeser aja yuk! ”, ajak Chintia.
“ Huuu.. tadi aja diajak ngeles mulu, sekarang malah ngajak, dasar plin-plan ”, kata Diana.
Kamipun menuju ke tempat penangkaran ikan dibelakang rumah Teteh yang biasa disebut empang. Dengan membawa jaring kecil yang tersangkut di cabang pohon tadi. Kemudian kami menuju empang. Tetapi kami tentu tidak nyeser di em-pangnya, kami lebih memilih nyeser di aliran kecil dekat empang, karena jika menyeser di sana status adalah free, jadi ti-dak dipungut biaya apapun. Lagi pula airnya cukup jernih di bandingkan air yang menggenangi lubang rusak didepan jalan se-kolah tadi pagi.
“ Aku duluan ya yang nyeser! ”, ucapku
“ Aku habis Ina! ”.
“ Aku habis Ria! ”.
“ Iih aku duluan, kan tadi aku udah bilang habis ria ”.
“ Ya udah aku yang terakhir ”, ucap Chintia dengan wajah terlipat.
“ Ya udah kamu dulu sana, aku aja yang terakhir ”, kata Diana berusaha mengalah.
“ Gak usah-gak usah, kamu dulu
 aja, aku mau cari belimbing aja ”.
“ Ikhlas gak? ”.
“ Ikhlas, lillahita’ala ”, ujarnya sepenuh hati.
“ Emang kamu bisa manjat, Chin? ”, ejek Ria.
“ Ya Allah Ria, kamu kok ngenyek toh, kenapa sih aku selalu jadi objek penderita ”
“ Abisnya mukamu pantes sih Chin! ”
“ aku emang gak bisa manjat, tapikan saya bisa pake galah ”
“ Iya-iya, jangan nangis geh, Chin ”
“ Siapa yang nangis. Udah cepetan kalo mau nyeser
Setengah jam kami mondar-mandir mencari ikan. Tubuh kami sudah terasa lelah, kami butuh istirahat. Kamipun duduk di sebatang kayu yang dipaku dengan pohon kelapa dan pohon belimbing sambil menikmati segelas pop ice  rasa mangga. Ter-lihat dari kejauhn ada dua orang anak kecil sedang berdialog bahasa yang tak asing bagiku, yaitu bahasa jawa. Dengan wajah cerah, Chintia yang memang akhir-akhir ini sedang suka ber-bahasa jawa tiba-tiba menyambar omongan mereka seperti kawan yang lama tak bertemu.
“ Hey, kalian nyari opo? ”, tanya Chintia pada kedua anak itu. Logat Lampungnya sulit di sembunyikan, sehingga kalimatnya agak terdengar lucu. Chintia memang asli suku Lampung.
Golek iwak
“ Aku juga ”
Wes entok? ”
Udah, nih dapet lima.” Dengan percaya diri Chintia menun-jukkan cangkir aqua yang berisi air dan lima ikan kepala batu yang menari-nari di dalamnya.
Eleeh, iku iwak ndas watu, ra iso di pangan
“ Kan masih kecil, kasian kalo di pangan
Kedua anak itu terlihat agak kecewa dengan ikan yang ditun-jukan  Chintia tadi. Merekapun pergi tanpa kata. Chintia yang terlihat belum puas berdialog dengan kedua anak itu memanggil kembali mereka berdua.
“ Eh, mau neng endy
Yo arep golek iwak lah, seng gedy ”, katanya luwes ber-bahasa jawa.
“ Eh, Na, bahasa jawanya anak laki-laki itu apa? ”, tanya Chintia padaku.
Cah lanang! ”
“ Oh ya, makasih ”
“ Oh, yo uwes, ati-ati cah lanang!
Yoo
Semilir angin perlahan mulai mengusir rasa lelah kami. Kami-pun memutuskan untuk melanjutkan mencari ikan kambali.
“ Sekarang gantian aku ya ”, kata Diana.
Saat kami sedang asik melihat Diana memainkan jaring kecil-nya, tiba-tiba datang dua orang anak perempuan tak asing bagi kami. Dia adalan Aininda yang biasa kami panggil Bunda dan sahabatnya Oca. Sontak kami seperti tersambar petir dari langit ketujuh. Kami yakin kami akan habis di marahi Bunda karena tidak membantu menghias kelas malah membolos tanpa izin.
Astagfirullah al azim, ngapain kalian malah disisni, bukannya bantuin temen-temen kalian. Udah cepetan pulang, ka-lian Bunda hukum bending 15 kali, sampai Bunda lihat kalian nyeser lagi Bunda kasih point  kalian ”
Kami seperti anak kecil yang dimarahi ibunya karena pulang kesorean. Oca yang\ memang suka tertawa  diatas penderitaan kami mulai menunjukn reaksinya. Kami hanya bisa menyalahkan satu sama lain, terlebih Chintia yang menyesal karena mengikuti jalan sesat kami. Belum lagi dia belum mendapatkan giliran nyeser.
Walau hanya sepotong episode, bagiku dan mereka ini lebih penting dari peristiwa 27 juli atau bom Bali. Jika Adam dan Hawa terpisah selama 40 tahun karena kesalahan mereka dan bisa kembali bersatu, aku berharap ‘NINE A‘ pun bisa bersatu seperti dulu.  Thanks for all ustadz and ustadzah yang telah sabar menghadapi kebandelan kami, afwan  belum bisa memberikan yang terbaik untuk almamater tercinta.

‘Ini sepotong episode ku, apa sepotong episode mu?’

Subscribe to receive free email updates: