Merananya Super Camp Di Rumah Sakit

Oleh : Syahida Izzati


Haii.. Kenalin nih, nama aku Syafira Izza Al-Laras. Biasa disapa Izza. Aku anak dari pasangan Bapak Andri Willyanto dan Ibu Susi Sediati. Gak usah terlalu detail yah perkenalannya, singkat cerita aja nih.
Mmm, di sini aku mau coba inget-inget peristiwa yang buat aku nyesel banget, dan sempet trauma sama yang namanya ‘naik motor’. Kenapa kok harus diinget-inget lagi? Karena itu yang membuat aku ‘gagal ikut Super Camp’ tahun ini. Weh and pas-tinya udah masuk dalam memori otakku yang paling dalam, hehehe. Aku selalu saja dihantui oleh rasa penyesalan itu. Pada-hal tahun ini tuh Super Camp terakhir bareng kakak-kakak kelas angkatan 2009 SMPIT Baitul Muslim. Haduh, banyak cincang deh, langsung aja nih ke pokok ceritanya, cek it out...

JJJ

Pada suatu malam ...
Aku dapat sms dari teman sebangkuku sekaligus my friend, namanya Cherly. Kata dia besok sekolahnya cuma setengah hari. Yups... sampai siang aja, soalnya guru-guru pada mau rapat, mungkin nge-bahas Kegiatan Super Camp besok? Ya.. ya.. ya.. berarti besok kita free donk... aduh gak sabar deh pengen cepet-cepet Super Campnya.
Eh.. lagi asik-asik baca sms, ada telfon nih…
“Halo, Assalamu’alaikum?” Terdengar suara bising dari tel-fon selulerku.
 “Wa’alaikum salam, eh Izza, bisa gak besok kamu bawa mo-tor?”
“Emm, emang mau kemana?”
“Loh, kan mau keliling-keliling, nyari bahan-bahan kelompok kita untuk kemah besok, and kita juga kan belum pinjem tenda toh…?”
“Ouh, iya ya, oke deh, InsyaAllah.”
“Iya, pokoknya harus!!”
“Duh.., iya bawel, hihihi :p“
“Ih dasar kamu ni Za, iya udah deh aku cuma mau ngomongin itu aja kok, pulsaku nipis sih, jadi gak bisa lama-lama ngobrolnya, dah dulu ya, mikum???”
“Iya, Wa’alaikum salam”
Selesai telfonan, pas banget hpku nge-drop, charge dulu deh sebelum tidur.
Sambil nge-cas hp, mataku ngelirik-lirik ke arah jam dinding berwarna putih abu-abu yang berada dipojok kamar.
“Waduh.. udah jam 11 toh... gaswat. Tidur ah...” Gerutuku dalam hati.
Segera kumatikan lampu kamar, tarik selimut, dan bobo’.

Keesokan harinya…
Say good morning.. Good morning.. na… na ... na ...” Suara merduku mengawali pagi yang cerah ini, (hehehe, ke-PeDe-an).
Selesai mandi dan sudah berpakaian rapi, akupun turun ke bawah, sambil menggandol tas dan sepatuku yang serempak ber-warna violet. Terlihat bunda sedang sarapan bersama ayah di ru-ang makan, aku pun langsung menyusul dan duduk di sebelah bunda, kebetulan ayah duduk di depan bunda.
“Pagi bunda, ayah..” Sapaku dengan senyum lebar di wajah.
“Pagi, sayang ..” jawab bunda dan ayah serentak.
“Bun, sini deh aku bisikkin.” Saatnya aku beraksi, hehe..
“Kenapa kak.?”balas bunda dengan wajah yang begitu pena-saran.
“Aduh bundaku sayang, biasa aja deh, nanti ayah curiga!”
“Iya…iya, ada apa??”
“Mmm, a…aku boleh kan hari ini bawa motor bunda.”
Suara pelanku tengah menghampiri telinga bunda, takut ayah dengar pembicaraanku, jadi ngomongnya harus bisik-bisik. Soalnya kalo ayah tahu aku mau bawa motor, wah udah positif gak akan dibolehin tuh.
“Hmm, boleh-boleh aja sih kamu bawa motornya, tapi kalo ketahuan ayah, bagaimana?” Jawab bunda sambil mencubit pipi-ku.
Aku terus merayu bunda,
“Ah bun, gak akan ketahuan deh, ayah kan berangkat ke kantornya duluan. Ya… ya… ya… .?”
“Iya udah deh, sana ambil kuncinya di kamar bunda !”. Akhirnya bundapun menyerah.
Aku berlari menuju kamar bunda, dan mengambil kuncinya, sementara ayah yang ternyata sudah selesai sarapan langsung berpamitan.
Saatnya berangkat, “Bun, aku berangkat ya, da… da... bun-da.” Aku segera melaju keluar gerbang,
“Iya hati-hati kak.!nanti langsung pulang ya, jangan mampir kemana-mana?”
Aku menghiraukannya (suara bunda terdengar samar-samar.!!), karena angin kencang dengan cepat membawa pergi suara bunda.
Diperjalanan aku bertemu dengan Cherly, dia biasa nunggu jemputan bis dari sekolah di halte dekat rumahnya, tapi hari ini aku ajak bareng aja.
Sampai di sekolah, aku parkir motor dulu, baru deh masuk kelas.
“Hai semua, o’iya liat Sari sama Vivi gak.?”
“Mmm, tadi kayaknya mereka ke Laboratorium Za, kelom-pokmu disuruh kumpul sama Bu Dwi.” salah satu temanku menyahut.
“Oke deh, thanks ya!”
Kemarin adalah hari pembagian kelompok dan nama regu. Nah, hari ini giliran nyiapin semua kebutuhan kelompoknya, walaupun kemah kali ini dadakan banget, tapi kami tetap semangat menjalani semua kegiatan hari ini.
Terdengar suara rusuh dari dalam Laboratorium, akupun segera bergabung dengan kelompok Super Campku yang dari tadi asyik membuat yel-yel kelompok, dan mendiskusikan keperluannya. Sementara Bu Dwi sedang sibuk membagi tugas-tugasnya. O’iya, Bu Dwi itu Pembina kelompok kami, beliau nantinya akan membantu dan membimbing kami dalam berbagai kegiatan di perkemahan, contohnya masak, nanti kalau kita gak bisa masak sendiri, ada Bu Dwi yang super duper pinter masak, hehehe. Eh.. kelompokku kebagian nama salah-satu tumbuhan yang hidup di air nih, dan banyak fansnya juga lo, yaitu ‘Teratai’. Anggota kelompoknya berjumlah 10 orang. Aku diberi amanah, dan tanggung jawab yang besar sebagai ketua regunya. Tugas aku banyak banget lagi, disuruh pinjem tenda, beli bahan-bahan di pasar, cari pinjaman terpal, tiker, and kompor. Nah… sisanya tugas teman-temanku.
Setelah rembukan dan semuanya jelas, kelompokku berpen-car, sibuk dengan tanggung jawabnya masing-masing. Sementara aku? masih bengong didepan pintu Laboratorium.
“Doooorrrr..” Sari mengagetkan ku,
“Kok malah ngelamun sih Za? Ayo aku temenin pinjem ten-danya!”Aku hanya terdiam, sambil menatap wajah Sari yang imut-imut kayak boneka barbie itu,
“Ih, kamu ni Sar, ngagetin aku aja, sampai teriak kayak gitu lagi, malu-maluin tau! Hiiss.” Jawabku ketus.
“Iya maaf deh, tapi, laa tusrifuu juga geh Za.”.
“Apa itu artinya.?” Wajahku mulai begitu penasaran, aku paling tidak suka dibuat penasaran oleh teman-teman.
”Artinya tuh… Jangan lebay!! Hahaha..”Ledek Sari sambil menarik tanganku, aku hanya tersenyum melihat kelakuan Sari, soalnya aku udah biasa di ledekin kayak gitu, kata teman-temanku sihhh,, itu emang ciri khasku yang tidak bisa diubah lagi, alias sudah tabiat, tapi lebaynya gak parah-parah amat loh…
Langkah kami terhenti di depan motor scoopy merah bun-daku.
“Kita mau kemana nih?” Tanyaku.
“Loh, katanya mau pinjem tenda? abis itu beli bahan-bahan?” Bla…bla…bla…panjang lebar Sari berbicara didepanku, semen-tara mulutku hanya menjawab dengan santainya, abis jengkel denger dia ngoceh terus.
“Ya…ya…ya… Ayolah cepet naik, jangan ngoceh mulu!!” Tancap gas.
“Eh Sar, pinjem dimana ya tendanya?” Tanya Sari.
“Apa Za? Aku gak dengar neh?” Aku kesusahan mau ngo-mong ke Sari, soalnya pake helm, Sari juga kayaknya tidak mendengarku, wah kayaknya harus teriak-teriak deh..
“KITA MAU PINJEM KEMANA DULU NIH,!!” Teriakku.
“EMM, COBA KE SMP NEGERI 3 DULU DEH. TAU KAN TEMPATNYA.?!!” Balas Sari.
”OKE.!!”

Beberapa menit kemudian…

“Dah sampai ni, turun gih!” Pintaku.
Hmm, iya sebentar, rok aku nyangkut nih!!”
Hahay, ada… aja kamu ni Sar? mmm,.bentar..bentar, aku turun duluan. Udah? sini kubantuin.”
Hehe, udah kok, makasih?”
Yo’i, ayo buruan donk jalannya!”
Iya sabar..”
Kami pun segera menuju ke pintu satpam, dan meminta izin kepada pak satpamnya untuk bertemu dengan kepala sekolah SMPN 3 itu. Setelah diberi izin oleh Pak Satpam, kami diantar menuju ruang Kepseknya.
Di situ kami mulai menjelaskan, maksud kedatangan kami ke SMPN 3 ini karena ingin memberi surat permohonan izin peminjaman tenda, supaya besok, tendanya bisa langsung diambil, gak ribet ngurusin ini-itu lagi deh. Soalnya kalau diambil sekarang, bingung mau nyimpennya dimana, nanti malah diambil sama kelompok lain.
                               
JJJ

“Tenda udah, terpal, tiker juga udah, hmmm, apa lagi ya ,?”
“Yang belum tuh, tinggal kompor, tapi itu kan tugas aku, nantilah biar aku aja yang ngurus, sekarang, kita balik ke sekolah aja, bentar lagi kan dah jam pulang sekolah to??”
Iya udah deh, yuk!”
Sepulang dari meminjam tenda, kami mampir dulu ke warung untuk membeli minuman.
Gak terasa jam mulai menunjukkan pukul 11:30, aku dan Sari harus cepat-cepat  kembali ke sekolah, pasti udah di tungguin sama kelompok kita deh, soalnya kita lama banget nyari bahan-bahannya.
Sampai di sekolah, kami tidak melihat satu orangpun di sana, jangan-jangan udah pada pulang.
Heh Za, kok sepi ya??” Lagi-lagi Sari menganggetkanku.
“Aduh Sari, jangan sering-sering bikin aku kaget donk, jan-tungan nih bisa-bisa!!” Omelku pada Sari.
“Alah kalo itu mah DL, alias DERITA LOE.!!hahaha, juskid cuy.!”
“Ya…. Up to you deh Sar, eh itu Pak Abdul kan???? Ayo kita tanya aja sama Pak Abdul.” Kami berlari menghampiri Pak Abdul, lalu bertanya,
 “Pak, ini udah pulang dari tadi ya?”
 “Iya nak, kenapa kalian belum pulang?” Jawab Pak Abdul.
“Iya Pak, kita abis pinjem tenda, hmmm…. yaudah deh Pak, kita pulang dulu ya, permisi?”
“Iya,”
Pak Abdul adalah penjaga SMPIT BM ini, lebih tepatnya mata-mata andalan guru lho, beliau tinggal dibelakang sekolah. Sehabis bel pulang sekolah berbunyi, Pak Abdul keliling ke kelas-kelas untuk memastikan anak-anak sudah pulang atau belum. Enak gak ya diposisi pak Abdul?? Huumm…. terkadang aku merasa iba melihat kondisi beliau, yang harus bekerja dari pagi sampai pagi lagi, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang hanya tinggal di rumah geribik kecil, mungil, bahkan untuk menyekolahkan ke-3 anaknya beliau masih kekurangan biaya.
Setelah kami mendapat informasinya dari Pak Abdul, kamipun berpamitan pulang. Habis itu aku mengantar Sari pulang dulu.
Nah…sebelum pulang ke rumah aku main dulu ke rumah Cherly, rencananya sih kita mau ke warnet sebentar, hehehe bandel dikit gak papa kan??

Sesampainya di rumah Cherly…

“Heii, jadi gak cher,.?” Nada suaraku ‘engos-engosan’ hehe, bahasa apa’an tuh, (bahasa planet).
“Jadi donk, tapi tungguin dia orang dulu ya, sebentar?”
“Siapa? Kukira cuma kita berdua aja!”
“Caca, Vira, Lily, sama Vivi aja kok!”
“Huuhh., banyak banget yang ikut? Yaudahlah… Btw, motor berapa nih?”
“Hehehe, abisnya mereka juga mau ke warnet, ya barenglah, kata mereka sih motor 3, ntar aku sama kamu, Caca sama Lily, and Vira ma Vivi!”
“Ya udahlah kalo gitu,, nah, tuh dia mereka.”
Wajah kekesalanku mulai muncul saat mereka berhenti dide-pan aku dan Cherly, entah apa yang membuat aku tiba-tiba jadi BT gitu. Ya sudahlah, yang penting sekarang ke warnet!!
“Wooyy.. ayo jadi gak?” Tanya Caca dengan tangga nada tinggi.
“Jadi donk, dahlah yuk.” Jawabku sinis.
Sampai di warnet, aku dan Cherly memutuskan untuk barengan saja (1 komputer ber-2..?? yupz..), soalnya uang Cherly ketinggalan di rumah.
“Hufh, untung aja gak lola nih, hmm… aku buka FB duluan lo, kita ambil paket se-jam aja ya, berarti aku setengah jam dan kamu setengah jam, hehehe… adil kan?”
Mulutku komat-kamit, tanganku asik mengetik, mataku fokus pada monitor komputernya, sementara telingaku kosong,
“Oke yo’i do’i!!” Sepertinya cherly sudah mulai boring deh, padahal belum ada 1 menit kita di warnet.

JJJ

1 jam di warnet kayaknya sebentar banget ya, bagaikan 1 me-nit di rumah, duuh….rasanya pengen nambah 1 jam lagi nih, tapi udah siang, Cherly udah disuruh pulang sama mamanya. Sementara aku, sama aja sih, di situ aku baru ingat kata-kata bun-da tadi, kalau aku disuruh pulang cepet, waduuhh, aku lupa!!!!
“Eh..ayo pulang Cher, kata bundaku tadi, aku suruh langsung pulang, gak boleh kemana-mana.. duuhh, pikun..pikun..!”
Yang ada difikiranku saat itu hanya satu..(takut dimarahin sama bunda).
“Yaudah ayo pulang, kenapa malah diam aja!” Ajak Cherly, sambil memanggil teman-teman yang lain.
Setelah membayar di abang kasirnya, aku meminta Cherly untuk membawa motor, tapi Cherly gak mau bawa motorku, akhirnya kita berdua tukeran motor sama Vira. Selesai berbincang-bincang mengenai tukeran motornya, Cherly dan aku keluar parkir duluan..
Waktu Cherly mau nyebrang, dilain sisi Vira berteriak “Stooopppp…” Tapi aku tidak mengerti apa maksud dari teri-akan itu, sementara Cherly tidak mendengarnya sama sekali. Mataku dengan spontan menengok ke arah sebelah kanan jalan, tiba-tiba dari arah yang berlawanan, ada motor yang melaju dengan kecepatan yang kira-kira diatas 90 km/jam, kebut banget. Karena disitu tikungan, orang itu tidak melihat kami yang sudah ditengah-tengah jalan raya, tiba-tiba, “Brrraaaakkkkk…” Tubuhku terlempar hingga kira-kira sejauh 4 meter-an, tepatnya ditengah-tengah garis putih jalan raya itu. Setelah kejadian itu, semua seolah-olah menjadi gelap, hal ini yang aku takutkan dari dulu, yups…’KECELAKAAN’, sungguh diluar kepastianku. Dan anehnya, aku tidak ingat sama sekali kejadian setelah itu, aku seperti hilang ingatan mendadak. Ya Allah.. aku takut sekali.. Yang aku tahu, pada saat itu aku langsung dibawa ke Puskesmas Way Jepara, dan langsung ditangani oleh Tim Medis. Di sana ramai orang berdatangan untuk melihat keadaanku, termasuk ayahku dan teman kantornya, aku sama sekali tidak sadarkan diri, kata ayah, waktu aku di Puskesmas, aku muntah-muntah, dan tidak sadarkan diri .

JJJ

Sekitar 6 jam aku pingsan. Sampai saat itu aku masih belum percaya, benar-benar tidak percaya.
Saat aku terbangun, kubuka mata ini perlahan-lahan, kepalaku rasanya seperti ditimpa beban yang sangat berat, pusiingg… sekali. Tiba-tiba air mata menetes di pipiku, setelah aku melihat sekelilingku, hanya ayah yang ada disampingku, tembok yang polos dan berwarna putih, infus di atas kepalaku, dan ranjang yang sepertinya aku kenal, sebenarnya dimana aku? Tempat apa ini?
Aku mencoba membuka mulut, dan berusaha mengeluarkan suara,
“A..ayahh, aku dimana?”
Untuk bicara sepatah kata saja rasanya lemas sekali mulutku ini, hmm… ayolah Izza, kamu pasti bisa...
“Kamu sudah sadar, sayang?” Ayah melihatku dengan sangat cemas.
“Ayah, aku dimana?” Tanyaku dengan terpatah-patah.
Untung saja aku tidak dimarahin sama ayah, gara-gara kece-lakaan itu.
“Kamu di Rumah Sakit nak, tadi ayah langsung bawa kamu kesini.” Jawab ayah.
Tiba-tiba aku menangis lagi, dan berteriak,
”Bunda…??? Bunda...?? Bunda mana ayah! bunda mana?”
Air mata yang terus mengalir membuat ayah juga ikut mena-ngis,
“Bunda masih di perjalanan nak, sebentar lagi juga sampai, tadi bunda gak bisa bareng, soalnya bunda harus menyelesaikan raportnya dulu, tapi tadi sudah ayah telfon kok… sudah..sudah, sekarang kakak mau apa? Makan? Ayah suapin ya?”
Ayah menghapus air mataku yang tak kunjung berhenti, aku menggeleng-gelengkan kepala, tanda bahwa aku tidak mau apa-apa, aku hanya ingin bunda di sini sekarang.
                   
JJJ

1 jam sudah aku menunggu bunda, di temani oleh tangisanku. Ayah sudah menelfon bunda 5x lebih, tapi bunda belum sampai juga.
Tiba-tiba aku teringat suatu hal,”Ya Allah, bagaimana kea-daan Cherly? Apa dia baik-baik saja? Aku ingin bertemu dengan teman-temanku. Lalu.. Super Campnya, aku kan ketua regu? Ahhhh…. Akuu mau ikut, pokoknya aku harus cepat-cepat keluar dari tempat ini, aku harus ikut kemah, harus..harus .!!” Tekadku dalam hati.
Ingin rasanya aku berteriak, ”Ya Allah, tolong sembuhkanlah aku.” tapi, untuk bicara saja tidak mampu, apalagi berteriak, impossible!
Tok..tok..tok..
Terdengar suara orang mengetuk pintu kamar dimana aku dirawat, ayah segera membukkan pintunya. Ternyata itu bunda, aku langsung terbangun dari tidurku dan tersenyum melihat bunda ada disampingku. Tapi aku tidak kuat menahan kantuk yang sangat-sangat berat, bundapun menyuruhku tidur, ditemani bunda yang mengelus-elus keningku akupun tertidur lelap.

JJJ

4 hari berlalu, aku tidak kunjung sembuh, tidak ada perkem-bangan sama sekali. Aku masih belum bisa duduk dan terus ter-baring ditempat tidur itu, bahkan untuk mengangkat kepalapun aku tidak sanggup menahan rasa sakit karena benjolan yang ada dibawah kepalaku. Bunda dan ayah masih terlihat sabar men-dampingiku di Rumah Sakit ini. Banyak orang yang datang menjengukku, setiap menit, terus berdatangan, yups, sama seperti hari-hari sebelumnya.
Guru, dan teman-temanku juga meluangkan waktu mereka untuk melihat kondisiku di sini, padahal mereka baru pulang kemah. Saat teman-temanku bercerita tentang pengalaman mereka selama Super Camp, aku benar-benar sangat iri, raut muka penyesalan itu datang lagi hingga aku harus menitikkan air mata untuk yang kesekian kalinya. Dalam hati ini, aku menjerit.
Kenapa Allah jahat sama aku, kenapa kejadian ini harus terjadi sama aku, aku tidak bisa merelakan kemah tahun ini, Ya Allah aku benci semua ini. Benciiii..!!!”
Air mata tak kuasa kubendung lagi, kutumpahkan semuanya di pundak bunda, bunda sangat mengerti perasaanku saat ini, ya... hanya bunda yang tahu isi hatiku.
“Kakak besok sudah boleh pulang, tapi kata dokter, kakak harus bisa buktiin kalau kakak kuat. Kakak bisa, yang harus kakak fikirkan hanyalah satu ‘SEMBUH’. Yakinlah kak, ada Allah di sisi kakak,, begitu juga bunda dan ayah disini, jadi kakak tidak usah takut, ya?” Pinta bunda.
“Tapi bun…sakit … gak kuat kalau untuk duduk…” Balasku.
“Kalau kakak tidak bisa menahan rasa sakit itu, dan selalu pesimis bagaimana bisa sembuh.. Kakak mau lama-lama di sini.?” Bunda terus menyemangatiku, dan memberi motivasi.
“Huummm, iya bun. Aku mau jalan-jalan sama ayah deh, tapi naik kursi roda ya bun?”
“Nah, gitu donk, itu baru anak bunda.” Bunda segera memanggil ayah dan mengambilkan kursi roda untukku.

JJJ

Kuuukkuruyyuuukk… Suara ayam jantan itu membangunkan-ku.
“Bunda, hari ini pulang kan?” Tanyaku.
“Hmmm… Kalau kakak sudah agak mendingan, yaaa… nanti siang kita pulang!” Balas bunda.
“Ahhh, gak mau, pokoknya kakak mau pulang, seka-rang!!” Hampir saja infus yang terpasang di tangan kananku lepas. Tekadku sudah bulat, bahwa aku harus pulang hari ini, sudah 5 hari aku terbaring di Rumah Sakit yang menyeramkan ini.
Bunda hanya merengut, lalu memanggil dokter yang mena-nganiku selama aku di Rumah Sakit.
“Dok, bagaimana keadaan anak saya, dia merengek minta pulang terus, apa hari ini dia sudah boleh pulang?” Bunda ber-tanya pada dokter itu, dan mengajukan permintaanku.
“Owh, sepertinya ada satu kendala lagi bu, setelah saya periksa barusan, anak ibu harus diScanning terlebih dahulu, takutnya ada yang retak di bagian kepalanya yang benjol ini.” Kata dokter sambil mengganti infusku yang sudah habis itu.
“Oh, gitu ya dok, kalau begitu sekarang saja bisa kan, diScannya dok, biar nanti siang sudah ada hasilnya, dan bisa langsung pulang.” Usul bunda.
“Hmmm… bisa bu… bisa…, sebentar ya, saya panggil suster, dan langsung membawa anak ibu ke Ruang Scan.” Dokter menyetujui usulan bunda.
Beliaupun segera menemui suster dan dengan cepat membawaku ke Ruang Scan.

JJJ

Dingiinn… !! Ruangan tersebut dipenuhi oleh AC, pantas saja aku menggigil.
“Aku benar-benar tidak kuat kalau harus berlama-lama didalam ruangan ini, cepat donk keluar…..” Protesku dalam hati.
Aku memegang erat tangan ayah yang terus memberiku kekuatan dan semangat untuk tetap bersabar sampai proses Scanning ini selesai.
Setelah setengah jam-an aku berada dalam ruangan ini, akhirnya aku diperbolehkan keluar. Bersama ayah, aku melihat hasil Scannya dengan sangat cemas. Alhasil, terdapat retakan di kepalaku bagian kiri bawah, tepatnya di benjolan tersebut. ‘Gegar otak’ begitulah kata dokter, tapi Alhamdulillah masih tergolong ringan.
Setelah itu, ayah mendorong kursi rodaku menuju kamar nomor 12 ruang kamboja, dimana aku di rawat. Terlihat bunda sedang membenahi baju-bajuku, ayah menghampiri bunda dan memberitahu hasil Scanningnya. Raut wajah bunda yang kelihatan sedikit kecewa membuatku terharu, dan hampir menangis untuk kesekian kalinya.
Kata bunda, dokter sudah mengizinkanku pulang. Aku begitu gembira setelah mendengar kabar itu.
“Horeee… kita pulang bun…. Aku udah gak sabar deh pengen cepet-cepet sampai rumah, ayo ayah buruan.” Rengekku.
Ayah segera menggendongku menuju mobil, tak lupa aku berpamitan dengan dokter dan suster yang sudah merawatku selama aku terbaring di Rumah Sakit.
Diperjalanan menuju rumah, aku mengambil hp kesayang-anku di tas bunda.
Segera aku menelfon teman-temanku, untuk mengabarkan bahwa aku akan pulang. Betapa senang hati ini saat mendengar teriakan teman-temanku yang sangat gembira karena sebentar lagi akan bertemu denganku, sampai terdengar bising di speaker hpku.

Happy ending…

Inilah ceritaku,. Apa ceritamu?

Subscribe to receive free email updates: