Perjuanganku

Oleh : Ainurrafidah


Deg…deg…deg… Jantungku berdetak kencang. Karena me-nunggu giliran muhadhoroh, Kali ini Bahasa Inggris yang aku ikuti. Muhadhoroh kali ini berbeda dengan muhadhoroh biasa lainnya. Biasanya aku santai saja, karena dulu yang menonton hanya bagian kelompoknya saja.Tapi kali ini semua santri dari Ma’had Akhwat Baitul Muslim yang menonton. Jadi, sudah seperti muhadhoroh akbar. Karena itu aku sangat deg-degan dari tadi.
O…ya aku belum perkenalkan diri. Eeemmh…. Namaku Ainurrafidah. Aku lahir di Lampung , tanggal 18 November 1999. Dan aku biasa dipanggil ain. Aku tinggal di asrama akhwat SMP IT Baitul Muslim Way Jepara Lampung Timur. Memang sekolahku menyediakan Full Day School dan Boarding School atau asrama. Di asrama aku mengikuti kegi-atan yang sangat melelahkan, tapi mengasyikkan.Aku harus rela pergi dari rumahku yang tercinta, meninggalkan umi dan abi serta adik-adikku yang kusayang, demi menjadi muslimah sejati dan bisa mandiri. Perjuanganku berawal dari sini. Melewati hari-hari di asrama penuh kesedihan dan yang kadang kebahagiaan . Dari yang berantem, pilih-pilih teman (kadang aja aku harus sendiri kemana-mana), sampai tertawa terbahak-bahak di kamar sambil bertukar cerita. Duh… Jadi lupa pokok utama. O… Ya muhadhoroh itu seperti pidato. Ada tiga bahasa, Bahasa Arab, Inggris dan Indonesia. Selamat membaca ya.....

***

Deg..! Tiba-tiba jantungku berdetak sangat kencang (tapi, tidak berhenti lho). Ternyata namaku sudah dipanggil oleh MC (pembawa acara). Aku pun maju dengan badan gemetar. Tapi Alhamdullilah... Aku lancar, walaupun sedikit lupa di teks bagi-an tengah. Setelah maju, aku langsung duduk dengan wajah dan perasaan yang lega.
Kini tinggal pengumuman, sambil menunggu disebutkan pe-menangnya. Ternyata MC langsung membacakan untuk peserta muhadhoroh akbar minggu depan.
“Yang ikut muhadhoroh akbar minggu depan untuk Bahasa Inngris Syarafina, Afifah, Ziezie Fauzie, Nisrina Fauziah dan Ain, jadi sekarang pemenangnya ain.” Kata MC itu keras.
“Haa…..” Aku langsung melongo mendengar namaku dise-but dalam muhadhoroh akbar.
“Aku menang…” Kataku dalam hati.
Dan muhadharoh selesai dengan pengumuman tersebut. Sampai di asrama aku senang sekali dan banyak teman-teman yang memberi selamat kepadaku. Aku langsung tidur dengan nyenyaknya sebelum melakukan kebiasaan-kebiasaan seperti biasanya. Seperti gosok gigi dan sholat witir. Itu memang sudah menjadi kebiasaanku selama disini.

***

“Ain… Bangun..”
“Hoammm…….”  Kataku sambil mengantuk.
“Ain kebiasaan, kalau nguap di tutup mulutnya!!!!” Kata amah yang membangunkanku dengan lembut.
”Hehehe….” Kataku sambil nyengir diingatkan.
”Cepat ambil air wudhu dan sholat qiyammullail.” Kata amah lagi.
Aku yang tadi duduk di kasur langsung bergegas menuju ka-mar mandi. Seperti biasa, aku langsung mencari antrian kamar mandi.
“Huuuuuuh… Lega dapat antrian kamar mandi, tinggal sho-lat qiyam deh..”  Kataku dalam hati.

***
                                                                         
  Dikelas, aku termenung di bangku tempat dudukku. Aku berpikir sudah 7 bulan aku sekolah disini meninggalkan rumah. Bayak kesedihan yang kualami dan kebahagiaan pula yang kadang ku alami. Manis dan pahit semuanya kurasakan tanpa ada umi, abi serta adik-adik dan kakak-kakakku disisiku.Yang biasa memberiku semangat. Dan guru SD-ku yang selalu memotivasiku agar tidak pernah putus asa dalam mengejar impianku. Sekarang aku jadi teringat masa SD-ku. Tiba-tiba… Tess.. Tess.. Air mataku sebutir demi sebutir jatuh membasahi tanganku yang sejak tadi menopang daguku. Tapi aku sadar disini banyak guru-guru yang lebih memotivasiku, semua guru baik padaku.
Tiba-tiba ….
“Woy..ngelamun aja ..” Kata Iffah teman sekelasku yang kebetulan duduk di bangku sebelahku.
“Eee…eengg…enggak apa-apa kok …” Jawabku sambil manghapus air mataku yang sejak tadi menetes di pipiku dan membasahi tanganku.
Dan mataku jadi sedikit sembab karena menangis.

***

Di asrama aku kembali memikirkan masalah muhadhoroh akbar sebentar lagi. Aku harus meminjam perlengkapan seperti baju gamis, jilbab segi 4, dan sebagainya. Memang aku memi-kirkan menang, aku ingin membuat umi dan abi bangga padaku karena keberhasilanku. Tiap malam sebelum tidur aku selalu berlatih. Aku memang sangat ingin menang.

***

Sudah satu minggu dan aku sudah menyiapkan semua perlengkapan serta penampilanku nanti. Tetapi semuanya hampir sia-sia. Minggu ini ternyata khusus untuk Bahasa Indonesia, minggu depan baru Bahasa Inggrisnya.

***

Malam ini adalah muhadhoroh Bahasa Indonesia. Ternyata seru banget. Panitia kali ini adalah kelas XI (SMA). Semuanya kreatif sampai-sampai ustadz dan ustadzahnya tertawa terbahak-bahak. Penampilan dari kelas 7, 8, dan 10 sangat asyik. Walau-pun aku tidak terpilih untuk menyumbangkan kreatifitas dari kelas 7. Oya aku belum ngasih tau aku kelas berapa, sampe lupa, aku kelas 7d. Kelas campuran dan kelas tahfidz, yang katanya kelas unggul.
Kembali lagi ke muhadoroh.... Setelah semuanya tampil sekarang pengumuman untuk pemenang muhadoroh Bahasa Indonesia saat ini. Semua penonton diam dan berfikir siapa pemenangnya.
“Pemenang muhadoroh kali ini.... Juara 3 didapatkan oleh... Tera...” Kata MC.
Semua penonton bertepuk tangan. Pengumuman pun di lanjutkan.
“Pemenang juara 2 adalah... Nisa”
Lagi-lagi semua penonton bertepuk tangan dengan keras.
”Dan pemenang muhadoroh kali ini, juara pertama jatuh pada… Liani…” Lanjut MC.
“Ye....e...” Kata semua penonton.
Semua kelas tujuh berso-rak riang. Karena Liani itu kelas tujuh sepantaran denganku. Acara lalu di tutup. Dan kami pulang dengan senang, sambil memberi selamat kepada para pemenang.

***

Hari-hari menjelang muhadhoroh akbar yang akan aku ikuti. Aku mendapatkan banyak teman, dan sangat mengasyikkan. Aku mulai disukai banyak teman. Tetapi semakin banyak teman aku jadi mengingat masa laluku di SD. Penuh canda dan tawa, di seluruh jam pelajaran.bermain game pelajaran bersama guru-guruku. Sampai-sampai hampir setiap malam aku mengingat teman SD-ku. Aku teringat masa perpisahan, kami berpelukan sambil menangis. Karena, semua teman-temanku melanjutkan sekolahnya sepertiku, mencari pengalaman, dan mencapai masa depan dan impian mereka.

***

Hari demi hari ku lewati. Tiga hari lagi aku akan muhadhoroh. Setiap ada waktu, aku selalu latihan, latihan dan latihan. Aku ingin membuat umi dan abi bangga. Walaupun tidak menang yang penting sudah masuk final. Dan itu saja aku sudah senang. Hari ini aku ingin sekali menelpon umi. Tapi saat aku akan menelpon umi,Hp yang akan aku pinjam rusak. Dan aku harus memakai Hp yang lain. Saat ku telpon umi, ini tidak seperti biasanya, biasanya umi langsung telpon balik, tapi kali ini tidak.
“Apa karena nomornya beda mungkin… Ah besok saja lah…” Kataku dalam hati.
Sebenarnya aku ingin meminta do’a dari umi, agar didoakan supaya sukses. Tapi... ah ..tidak apa lah...

***

Nanti malam adalah giliran muhadhoroh Bahasa Inggris yang aku ikuti. Aku latihan bersama Ina yang kebetulan juga ikut dalam muhadhoroh itu. Waktu latihan, aku lebih lancar dari Ina. Dan itu membuat aku semakin ingin menang.
“Sudahlah belum tentu aku yang menang..” Kataku dalam hati.

***

Sore ini aku akan roolling dipan, karena sudah persetujuan wali kamarku serta teman-temanku. Aku, Dini,Vita, Nifha, Salsa, dan Rahma sedang mengocok. Inilah teman-teman sekamarku. Yang setiap malam tertawa terbahak-bahak. Aku mendapatkan dipannya Rahma. Vita  dapat dipannya Dini. Salsa dapat dipannya Nifha. Dini dapat dipanku. Nifha dapat dipan-nya Vita. Dan Rahma dapat dipannya Salsa.
“Hahaha... Kasian deh.. Dini dapat dipannya Ain... harus manjat dulu..” Ejek Vita.                
Memang dipanku harus manjat dulu karena tangganya tertu-tup dengan lemari.
“Kamu gak usah gitu sih Vit...” Kata Dini dengan kesal.
Tibalah saatnya marahan. Memang kamarku terkenal sering marahan. Hanya masalah sepele yang selalu dibesar-besarkan. Seringnya soal makanan atau soal piring. Memang salah satu temanku anaknya sedikit keras kepala.  Dan kamarku sering berantem karena dia. Kepalaku jadi pusing dan sulit untuk latihan. Aku jadi gak bisa  konsentrasi latihan.
“Duuh...gimana kalau gugup di panggung.” Gumamku pelan.

***

Malam ini... Ya malam ini aku akan mulai perjuanganku lagi. Entah akan berakhir dengan kebahagiaan atau dengan kesedihan. Sesampainya di dekat panggung, aku langsung masuk kebelakang panggung untuk latihan sebentar. Badanku gemetar, keringat dingin perlahan membasahi bajuku. Entah kenapa aku tidak bisa latihan. Waktu terus berjalan. Acara demi acara sudah dilaksanakan. Sekarang , yaa... Sekarang aku harus naik panggung, karena namaku sudah disebut. Sewaktu naik panggung yang tersusun dari meja-meja, licin dan aku hampir saja mau jatuh. Badanku gemetar, terus gemetar. Sekarang saatnya aku mulai salam, pembukaan, semuanya sukses tapi aku malah terbalik yang terakhir malah dibaca duluan. Akhirnya aku minta ulang sama panitia. Tapi aku malah jongkok, karena aku sangat gemetar. Aku jadi tidak bisa konsentrasi. Suasana saat itu ribut, ditambah dengan masalah kamar tadi sore. Semuanya terbayang-bayang di kepalaku. Terpaksa aku berdiri dan mengulanginya lagi. Sebenarnya aku malu, malu banget. Aku sudah hampir putus asa, dan aku tidak yakin kalau perjuanganku berakhir dengan kebahagiaan. Setelah selasai pidato aku langsung turun.
“Pasti aku kalah.” Kataku dalam hati saat jalan di anak tangga panggung.
Aku memang yakin begitu dan firasatku memang menga-takan begitu. Aku langsung masuk ruang belakang panggung untuk ganti jilbab. Lalu aku keluar untuk menonton beberapa penampilan yang belum ditampilkan.
“Sekarang pengumuman ..” Kata MC dengan Bahasa Inggris.
”Juarake-3 lomba muhadhoroh Bahasa Inggris adalah... Afifah...” Semua penonton bertepuk tangan.
“Juara ke- 2 adlah... Nisrina...” Lagi-lagi anak kelas 7 yang paling heboh.
“Memang benar aku akan pulang dengan kesedihan..” Kata-ku dalam hati.
“Dan juara 1 muhadhoroh akbar Bahasa Inggris kali ini adalah… Syara...” Kata MC keras.
Dan di sertai dengan tepukan para penonton. Pengumuman dan pembagian hadiah sudah dilaksanakan. Semua pulamg ke kamar masing-masing. Dan termasuk aku.
“In kamu udah bagus kok... Selamat ya dah masuk final...” Kata salah seorang temanku.
Memang banyak temanku yang mengatakanku bagus. Tapi aku malah semakin malu.
“Ooo ... ya aku belum ngasih selamat untuk mba’-mba’ dan Ina.” Kataku dalam hati.
Aku langsung mencari mba’-mba’ yang menang dan mengu-capkan selamat. Aku tidak melihat Ina. Mungkin dia sudah pulang.
Aku langsung mencari Ina yang kebetulan kamarnya ber-hadapan denganku. Ternyata Ina sudah ada di kamarnya.
“Na, selamat yaa... Dapet hadiah apa..” Tanyaku pada Ina.
“Iya sama-sama. Kamu udah bagus kok.” Jawabnya.
”Aku Cuma dapet kotak pensil sama buku kecil.” Lanjutnya menerangkan.
Setelah berbincang-bincang dengan Ina, tiba-tiba...
“ Berisik banget sihh.. Dah tau ada orang lagi sholat..“ Kata Yati dengan keras sambil melipat mukenahnya.
Ternyata dari tadi Yati sedang sholat witir.
“Maaf yaaa..... Aku tidak tau..” Jawabku pelan.
“Kalo ada orang sholat tu diem.!!!” Bentaknya lagi.
”Maaf yaaa beneran aku gak tau...” Jawabku agak keras.
Dia langsung pergi sambil marah. Aku yang tadi berdiri di kamar Ina langsung lari ke kamarku. Aku langsung menangis sambil membanting buku yang tergeletak dilantai.
“Kamu kenapa In ..???“ Tanya teman-teman kamarku. Aku diam saja karena malu. Aku langsung naik ke atas dipan, dan aku berpikir, kenapa di mana-mana pasti ada yang tidak suka denganku. Lalu aku menulis surat untuk teman-teman kamarku.
Temen-temen apa aku salah ikut muhadoroh akbar.... kayaknya banyak yang gak suka sama aku
Ma’af yaa.... kalau tiba-tiba aku ngomong kayak gini sama kalian...ma’af..ya...

     






“Nih ... Nii..” Kataku sambil menyerahkan surat itu.
“Apa ini...” Jawabnya bingung.
“Baca aja ...” Jawabku pelan.         
Setelah membacanya teman-temanku langsung bingung. kayaknya mereka pusing mikirin masalah yang tadi sore. Dan aku malah nambahin masalah..
“Eee..eenggakk kok. Kamu gak salah. Udah ya, jangan nangis lagi..” Jawab teman-temanku.
“Udah yaa... Jangan di pikirin lagi..” Jawabku lagi.

***

Malam ini membuatku pusing. Mataku jadi bengkak. Aku masih memikirkannya terus. Badanku jadi terasa lemas. Memang aku menyesal tidak menang. Karena lawanku lebih fasih bahasa Inggrisnya. Jadi aku gagal kali ini. Tapi mungkin kedepannya aku bisa ikut lagi. Memang perjuangan ini berakhir dengan kesedihan. Tapi mungkin ini hanya cobaan dari Allah. Dan mungkin bukan saatnya aku menang. Dan Allah mem-berikan ujian ini agar aku lebih sabar. Teman-teman, memang cobaan dari Allah itu banyak. Dan dari cobaan itu banyak hik-mah yang bisa kita ambil. Jadi, kalau mendapat cobaan kita harus bisa sabar dan terima dengan ikhlas. Dan kalau kita mengikuti lomba, dan kita kalah jangan berkecil hati. Karena disetiap ada perlombaan pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Segini saja ceritanya. Inget hikmahnya yaa... KEEP SMILE yaaa.. -_-

Subscribe to receive free email updates: