Yang Terbaik

Oleh : Wika Nur Amalia


Anak perempuan itu belum beranjak dari jendela kamarnya yang terbuka lebar, walaupun bulir-bulir air yang jatuh dari langit itu semakin ramai untuk berebut turun. Ia menatap langit yang keruh yang sesuai dengan suasana hatinya saat ini sambil melamun memikirkan jalan keluar dari masalah yang sedang membelitnya. Yang sebenarnya sangat mudah untuk teman-temannya, menghafal Al-Qur’an yang baginya kata itu seperti mimpi buruk yang harus ia lewati “sendiri” karena di kelasnya hanya dialah yang bermasalah dalam hal menghafal Al-Qur’an atau yang biasa mereka sebut dengan tahfizh,  2 jus dalam 1 ta-hun menurut teman-temannya mungkin itu hal yang cukup mu-dah tapi menurutnya itu adalah hal yang sangat suilt bahkan mungkin mustahil  untuk dicapai dan belum ikhlasnya dia dengan sekolah pilihan bundanya itu. Namanya Fani dia lahir tahun1998.

***

Kamu harus masuk SMP IT Baitul Muslim. Putus bunda-nya yang  tidak bisa di ganggu gugat lagi.
Anak yang sedang beranjak remaja itu terdiam dan langsung menghambur menuju kamarnya sambil memeluk bantal yang sudah basah dengan air matanya. Dan dengan matanya yang masih sembab ia beranjak menuju kamar mandi yang ada di kamarnya Sambil membasuh wajahnya yang mulai terasa lengket karena air matanya, ia berfikir sejenak.
“Apa bunda udah gak sayang lagi sama aku?”
“Kenapa permintaanku untuk sekolah di sekolah umum di tolak?’’
“Apa bunda gak mau aku seneng sekolah di sekolah yang aku idamkan?’’
“Kenapa bunda maksa aku sekolah di sekolah Islam?’’
Semua pertanyaan itu berkecamuk di hatiku. Hampir mele-dak dikepalaku dan mulai meleleh di sudut mataku. Walaupun sebenarnya aku tahu tujuan bunda menyekolahkanku di  sekolah yang berbasis Islam adalah agar aku menjadi anak yang solehah. Tapi tetap saja aku tidak bisa menerimanya. Jadi jelas terlihat kenapa aku tidak bisa mencapai target hafalan dikelasku.Niat’’ satu perasaan yang aku  tidak punya untuk menghafal Al-Qur’an. Jadi pantas saja 2 jus dalam 1 tahun hampir mustahil bagiku. Karena apa yang diwajibkan sekolah ini untuk muridnya aku lakukan dengan niat yang setengah-setengah.

***

Baju besar, rok lebar plus jibab panjang. Aku mematut baya-nganku di cermin kamarku.
“Hah... Ini mah kayak mau pergi kondangan aja.” Protesku tak suka dengan pakaian yang kukenakan.
Tapi ini memang seragam yang harus dan akan aku pakai untuk hari ini dan seterusnya. Aku melangkah Perlahan mema-suki halaman sekolahku ini.
‘’SMP IT Baitul Muslim menerima pendaftaran siswa baru.”
Tulisan itu masih terpampang jelas di depan kantor sekolah ini. Mungkin belum dilepas karena ini hari pertama masuk sekolah. Belum ada orang yang datang, mungkin karena ini ma-sih pagi. Ya karena ini hari pertama masuk sekolah, aku takut akan telat. Jadi aku sengaja berangkat lebih pagi.
Ini adalah minggu MOS (Masa Orientasi Siswa). Bahkan MOS disini jauh berbeda dengan MOS di sekolah umum. Di sini para muridnya mendengarkan guru sekolah ini menerang-kan berbagai ilmu yang bisa dikatakan pembahasannya lumayan menarik dan ditutup dengan rihlah (jalan-jalan)+out bond yang diadakan di hari terakhir MOS. Berbeda dengan sekolah umum yang ada hanya kakak seniornya yang mengerjai adik juniornya dan berbagai acara lain yang mungkin tidak ada artinya. Mungkin ini salah satu point plus yang bisa aku ambil dari sekolah baruku ini.
Papan apa ini? Letaknya tepat di tengah kelas diantara meja putra dan putri yang bersebrangan sehingga membuat kami tidak bisa melihat murid putra. Walaupun sebenarnya kami satu kelas. Papan panjang ini bernama hijab yang gunanya agar murid putra dan murid putri tidak bisa melihat satu sama lain di dalam kelas. Di sini murid putra disebut ikhwan dan murid putri disebut akhwat. Setidaknya itulah gelarku dan teman-temanku saat ini.

***

Hari ini minggu ke2 aku sekolah di sini. Dan pagi ini kami sedang membaca Al-Ma’tsurat pagi, lalu  kepala sekolah kami memasuki kelas kami dan mengedarkan pandangannya. Sa-yangnya pandangan itu berhenti diarahku. Kepala sekolahku itu pun menghampiriku dan bertanya. Suatu pertanyaan yang mem-buat jantungku berhenti berdetak.
Kemaren ke pasar gak pake kaos kaki ya?“ Tanya kepala sekolahku itu sambil tersenyum.
Mmmm......ii....ia pak.’’ Jawabku tak bisa menyembunyi-kan rasa malu.
Besok lagi kalo keluar-keluar pake kaos kaki ya.’’ Kata ke-pala sekolahku itu dengan senyum yang lebih lebar.
I...ia pak.’’ Jawabku tergagap.
Huuf.....untung saja kepala sekolahku ini baik. Bayangkan saja kalau bertanyanya saat upacara tadi. Mungkin sekarang aku tidak punya muka lagi. Memang sih kemarin aku bertemu de-ngan kepala sekolahku itu di pasar. Tapi perasaan aku sudah menyembunyikan kakiku di balik rok panjangku, tapi masih saja tetap terlihat,  janji deh pak gak bakal ngulangin lagi.
Sekarang keluar rumah harus mengenakan rok dan memakai kaos kaki (aku tidak mau mendapat teguran tahap kedua dari kepala sekolahku itu). Tidak boleh berinteraksi dengan ikhwan kalau tidak penting, apalagi sampai pacaran. Mungkin di se-kolah umum pacaran adalah hal yang biasa. Tapi di sini pacaran adalah sebuah masalah yang bisa membuat seorang murid di sidang oleh guru-guru bahkan sampai orang tuanya dipanggil. Peraturan macam apa itu peraturan yang hanya kutemukan di sekolah ini yang membuatku semakin tidak suka dengan sekolah ini.
Sebenarnya alasanku tidak mau sekolah disini juga karena semua teman dekatku sekolah di sekolah umum. Jadi kalau aku sekolah di SMP IT Baitul Muslim ini aku tidak punya teman. Tapi sebenarnya alasan yang paling utama adalah aku tidak mau ada pelajaran menghafal Al-Qur’an, karena kelemahanku dari SD adalah menghafal Al-Qur’an. Tapi saat sekolah di sini aku malah masuk kelas khusus yang khusus untuk menghafal Al-Quran. Jadi bisa dibayangkan betapa menderitanya aku. Awal-nya memang aku masuk kelas biasa tapi karena 0,5 aku masuk kelas khusus.
Saat itu anak kelas biasa yang ranking 1-3 di pindah ke kelas khusus. Karena aku ranking 3 yang hanya beda 0,5 dari temanku yang ranking 4 akhirnya aku yang di pindahkann ke kelas khusus itu. Entah hanya kebetulan atau karena memang sudah takdir Allah (ceileee....).

***

Sekarang pandanganku tentang sekolah ini berbeda dari saat aku pertama masuk dulu. Aku pun masih bingung kenapa se-mua ini terjadi terasa begitu cepat. Aku bukanlah Fani yang merasa terpaksa sekolah disekolahku ini. Aku menjadi anak cu-kup aktif di sekolah dengan lumayan seringnya aku mengikuti lomba-lomba atau kegiatan perkemahan. Aku juga salah satu anggota kalipatra (buletin sekolah) yang terbit setiap bulannya, dan juga ikut menjadi salah satu anggota OSIS.
Aku juga baru sadar ternyata pertemanan di sini terasa lebih erat dari pada kalau kita berteman dengan orang luar. Itu terasa saat aku kesulitan menghafal Al-Qur’an, hampir setiap orang di kelasku selalu menyemangatiku. “Semangat’’, “chayyo’’, “kamu bisa’’. Itu beberapa penggal kata-kata yang selalu kudengar tiap harinya saat pelajaran tahfizh dimulai. Guru-gurunnyapun lebih friendly jadi tidak jarang para muridnya sharing ke gurunya tentang masalahnya. Guru tahfizhku juga tak bosan-bosannya menyemangatiku hanya sekedar untuk mencapai target hafalan walaupun aku tak pernah mencapai target yang diharapkan.
Tentang pacaran yang dilarang sekarang aku bisa dibilang setuju karena memang pacaran itu tidak ada gunanya. Tentang memakai rok dan kaos kaki menurutku itu malah bagus karena membuat akhwat menjadi lebih feminim. Tentang menghafal Al-Qur’an walaupun sampai sekarang aku belum bisa menye-lesaikan masalahku yang satu itu tapi tak apalah, mungkin dengan seiring perjalanan waktu masalahku yang satu itu akan terselesaikan dengan sendirinya. Dan aku mulai mengerti kenapa dulu bundaku menyekolahkanku di SMP IT Baitul muslim ini, itu semua untuk kebaikanku sendiri.

***

Kristal-kristal bening itu perlahan mulai berkurang dan akhi-rnya berhenti meluncur dari langit. Awan-awan hitam itu pun perlahan mulai menjauhi matahari dan membiarkannya bersinar kembali. Membiaskan 7 warnanya yang menakjubkan dan membuat remaja itu tersadar dari lamunan panjangnya. Iapun beranjak menuju pintu kamarnya dan menyapa bundanya dan mulai menolongnya membersihkan halaman rumah. Sambil memandang wajah bundanya dalam hatinya ia berkata.
Terima kasih bunda telah memberikan yang terbaik untukku.

Subscribe to receive free email updates: