Skorsing

Oleh: Rinda Muslika Larasati

Sedih….. Ingin menangis…. Dan menyesal…… Ya.. mungkin perasaan itu yang sedang ku rasakan saat aku mengingat kejadian itu.
Pengalaman yang menurutku sangat menyedihkan, mungkin itu memang salah ku. Jatuh di lubang yang sama untuk kesekian kalinya. Mungkin itu kalimat yang tepat untukku saat itu. Menyepelekan guru, tidak ikut kegiatan, tidak disiplin, itulah penyebab aku di skorsing waktu itu. Dengan tugas yang begitu banyak dan harus di selesaikan dalam waktu 3 hari.
Pekerjaan yang begitu sulit untuk ku, tapi semua harus ku jalani mau tak mau, belum lagi tugas dari asrama yang tak kalah banyak.
Ada perasaan ingin marah sebenarnya. Mengapa harus aku? mengapa sifat pemalas ini harus menempel di diri ku?
Rasanya ingin ku buang jauh-jauh sifat malas itu, tapi bagaimana pun juga aku ini hanya manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan, yang pasti punya rasa bosan karna suatu pekerjaan.
Sebenarnya aku masih bingung, aku melanggar peraturan asrama tapi kenapa aku di skors sekolah? Itu sangat tidak adil untuk ku.Dan yang lebih membuat ku tak rela lagi posisi ku pada waktu itu sedang mendekati UN.
Aku bingung, aku tak tau lagi apa yang harus kulakukan pada waktu itu, selain pasrah dan mencoba memperbaiki diri. Aku juga merasakan perubahan sikap para guru pada waktu itu, mereka seperti tak kenal lagi pada ku, jika aku berpapasan dengan para guru itu aku sangat merasa tak enak hati, jangan kan menyapa, untuk melihat saja mereka enggan. Itu membuat ku merasa semakin sedih. Tak hanya para guru yang ku buat kecewa tapi juga kedua orang tua ku.
Aku merasa sangat bersalah, saat aku melihat Ayah menghampiri ku seraya berkata
“ Apa yang kau lakukan nak, sampai Ayah di panggil oleh Ustad mu? ”, aku hanya bisa menunduk mendengar perkataan Ayah ku pada waktu itu. Dada ini sudah terasa sesak, tak mampu menjawab dan tanpa kuinginkan air mataku menetes begitu saja.
Dan yang lebih membuatku miris, saat aku di panggil untuk bergabung bersama Ustad dan Ayah ku yang sedang membicarakan tingkahku. Aku semakin tak sanggup melihat Ayahku yang aku yakin beliau sangat kecewa dengan tingkah ku. Pembicaraan kami bertiga (aku, Ayahku, dan Ustad) berlangsung cukup lama waktu itu, yang membuat air mata ku terkuras habis.
Walaupun ayah tak marah padaku, tapi aku tau selain beliau kecewa, beliau pasti merasa malu dengan tingkah anaknya yang tak tau diri ini.Dan dari kejadian itu, aku hanya ingin mengambil hal-hal positif saja.Bahwa setiap hal yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya yang harus kita jalani
Dan dari kejadian itu pula, aku berjanji pada diri ku sendiri bahwa aku akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, aku tak ingin membuat Ayah dan Ibuku kecewa untuk yang kesekian kalinya. Dan pada waktu itu aku mencurahkan isi hati ku lewat sepenggal puisi.

Penyesalan
Hitam…. Gelap …. Tak bercahaya
Hening… Sepi… Tak bersuara…
Aku termenung dalam kegelapan
Aku terdiam dalam keheningan
Aku tak tau apa yang harus ku lakukan
Aku terjatuh dalam lubang yang ku buat sendiri
Untuk kesekian kalinya
Tak pernah kuinginkan semua ini terjadi
Aku tau penyesalanku ini
Tak berguna untuk saat ini
Aku tau semua yang telah berlalu
Tak bisa kembali lagi
Aku tau air mataku ini
Hanya akan terbuang sia-sia
Tapi…
Hanya ini yang bisa kulakukan
Maafkan aku yang telah membuat kalian kecewa
Kecewa atas tingkahku
Yang tak bisa membuat kalian tersenyum
Maafkan rinda Ayah… Ibu…

Dan itulah sepenggal pengalaman ku di SMP IT Baitul Muslim.
Semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca, bahwa “ Dimana pun kita hidup pasti ada peraturan, dan di buatnya peraturan itu untuk ditaati bukan untuk dilanggar”. Dan yang pasti penyesalan akan datang kemudian, bukan diawal.

Subscribe to receive free email updates: