Tahlilan, Tradisi Baik Umat Islam


Oleh: Slamet Setiawan

Indonesia adalah negara yang memiliki keragaman adat, suku dan karakter masyarakatnya. Termasuk dalam masalah agama pun banyak kebiasaan-kebiasaan yang sering menimbulkan pro
dan kontra. Hal tersebut terjadi karena wawasan masyarakat yang terbatas dan sikap eksklusif dengan organisasi dan madzhab yang diikutinya. Sehingga timbul rasa mudah menyalahkan pihak lain yang berbeda dengan dirinya. Sebagai muslim yang baik kita harus berwawasan luas, memandang masalah dari berbagai sudut  dan saling menghormati pendapat pihak lain.

Salah satu hal yang menimbulkan pro dan kontra adalah tradisi tahlilan yang sering kita temui. Sebagian pihak mengklaim bahwa perbuatan tersebut merupakan bid’ah dan tidak ada tuntunan dari Rasulullah SAW. Namun klaim semacam ini menurut saya terlalu dini dan perlu banyak kajian lebih mendalam. Sejak kapan tradisi ini dilakukan? Adakah bukti-bukti yang membenarkan perbuatan tersebut? Dengan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi mudah-mudahan kita akan lebih bijaksana dalam bersikap.

Tahlilan adalah acara ritual (serimonial) memperingati hari kematian yang biasa dilakukan oleh umumnya masyarakat Indone-sia. Acara tersebut diselenggarakan ketika salah seorang dari anggota keluarga telah meninggal dunia. Secara bersama-sama, setelah proses penguburan selesai dilakukan, seluruh keluarga, handai taulan, serta masyarakat sekitar berkumpul di rumah keluarga mayit untuk menyelenggarakan acara pembacaan beberapa ayat Al-Qur’an, dzikir, dan do’a-do’a yang ditujukan untuk mayit di “alam sana” karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ) yang diulang-ulang (puluhan kali), maka acara tersebut biasa dikenal dengan istilah “Tahlilan”.

Dalam ushul fiqh dikenal qawaid yang mengatakan “Al-Adatu muhkamah (adat kebiasaan dapat ditetapkan sebagai hukum)”. Dari kaidah di atas Islam memberi peluang bagi kebiasaan-kebiasaan masyarakat untuk dijadikan hukum. Namun tidak semua kebiasaan dapat ditarik menjadi sebuah hukum, peerlu dilihat lagi jenis kebiasaannya baik atau buruk. Jika baik maka tentu dapat diterima, namun apabila buruk maka harus kita tinggalkan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang mengatakan:”Barang siapa membiasakan kebiasaan yang baik maka baginya pahalanya dan juga bagi orang yang melakukan setelahnya. Dan barang siapa yang membiasakan kebiasaan buruk, maka baginya dosanya dan dosa bagi orang yang melakukan setelahnya”. HR. Muslim, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya dari Al-Mundzir bin Jarir). Di lain kesempatan Rasulullah juga bersabda: “Apa yang dipandang baik oleh orang Islam, maka baik juga disisi Allah”. (HR. Ahmad dari Ibnu Mas’ud).

Menurut saya tahlilan adalah suatu kebiasaan baik yang dilakukan masyarakat Indonesia. Karena didalamnya berisi doa’a-do’a dan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Oleh karenanya tidak mengapa hal tersebut kita lakukan. Untuk memperkuat argumentasi maka saya kutip beberapa pendapat ulama terdahulu terhadap  tahlilan ini. Berikut hasil dari riset yang saya temukan:

Dalam kitab Al-Mugni (2/422-424) Karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Al-hanbali disebutkan:

وقال بعضهم: إذا قرئ القرآن عند الميت، أو أهدي إليه ثوابه، كان الثواب لقارئه، ويكون الميت كأنه حاضرها، فترجى له الرحمة. ولنا، ما ذكرناه، وأنه إجماع المسلمين؛ فإنهم في كل عصر ومصر يجتمعون ويقرءون القرآن، ويهدون ثوابه إلى موتاهم من غير نكير

Dan sebagian dari mereka (syafi’iyyah) berkata : Apabila dibacakan Al-Qur’an disamping orang mati atau menghadiahkan pahalanya kepada orang mati, maka pahalanya bagi si pembacanya sedangkan mayyit laksana orang yang menghadirinya, sehingga diharapkan adanya rahmat baginya. Dan bagi kami (Hanabilah) telah menyebutkannya, bahwa sesungguhnya membaca Al-Qur’an untuk mayyit merupakan ijma’ kaum Muslimin, sebab mereka setiap masa dan kota mereka berkumpul, mereka membaca Al-Qur’an, dan menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang mati diantara mereka tanpa ada yang mengingkarinya.

Dalam Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jami’ at-Turmidzi [3/275] Abul ‘Alaa Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfuri. Didalamnya terdapat beberapa riwayat terkait pembacaan al-Qur’an untuk orang mati. Kemudian dikomentari sebagai berikut :

وهذه الأحاديث وإن كانت ضعيفة فمجموعها يدل على أن لذلك أصلا وأن المسلمين ما زالوا في كل مصر وعصر يجتمعون ويقرأون لموتاهم من غير نكير فكان ذلك إجماعا

Hadits-hadits ini jika memang dlaif, maka pengumpulannya menunjukkan bahwa yang demikian memang asal, dan sungguh kaum Muslimin tidak pernah meninggalkan amalan tersebut pada setiap masa dan kota, mereka berkumpul dan membaca al-Qur’an untuk orang-orang mati diantara mereka tanpa ada yang mengingkari maka jadilah itu sebagai Ijma’.”

Di dalam Al-Hawi al-Fatawi [2/234] lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi disebutkan:

أن سنة الإطعام سبعة أيام، بلغني أنها مستمرة إلى الآن بمكة والمدينة، فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة إلى الآن، وأنهم أخذوها خلفا عن سلف إلى الصدر الأول

Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan sampai sekarang (yakni masa al-Hafidz sendiri) di Makkah dan Madinah. Maka secara dhahir, amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga generasi awal Islam. Dan didalam kitab-kitab tarikh ketika menuturkan tentang para Imam, mereka mengatakan “manusia (umat Islam) menegakkan amalan diatas kuburnya selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an”.

Persaksian (saksi mata) adanya kegiatan kenduri 7 hari di Makkah dan Madinah sejak dahulu kala. Hal ini kembali di kisahkan oleh Syaikh Al-Fadlil Muhammad Nur Al-Buqis didalam kitab beliau yang khusus membahas kegiatan tahlilan (kenduri arwah) yakni “Kasyful Astaar” dengan menaqal perkataan Imam As-Suyuthi :

أن سنة الإطعام سبعة أيام بلغني و رأيته أنها مستمرة إلى الأن بمكة والمدينة من السنة 1947 م إلى ان رجعت إلى إندونيسيا فى السنة 1958 م. فالظاهر انها لم تترك من الصحابة إلى الأن وأنهم أخذوها خلفاً عن سلف إلى الصدر الإول. اه. وهذا نقلناها من قول السيوطى بتصرفٍ. وقال الإمام الحافظ السيوطى : وشرع الإطعام لإنه قد يكون له ذنب يحتاج ما يكفرها من صدقةٍ ونحوها فكان فى الصدقةِ معونةٌ لهُ على تخفيف الذنوب ليخفف عنه هول السؤل وصعوبة خطاب الملكين وإغلاظهما و انتهارهما.

Sungguh sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai informasi kepadaku dan aku menyaksikan sendiri bahwa hal ini (kenduri memberi makan 7 hari) berkelanjutan sampai sekarang di Makkah dan Madinah (tetap ada) dari tahun 1947 M sampai aku kembali ke Indonesia tahun 1958 M. Maka faktanya amalan itu memang tidak pernah di tinggalkan sejak zaman sahabat nabi hingga sekarang, dan mereka menerima (memperoleh) cara seperti itu dari salafush shaleh sampai masa awal Islam. Ini saya nukil dari perkataan Imam al-Hafidz As-Suyuthi dengan sedikit perubahan. al-Imam al-Hafidz As-Suyuthi berkata : “disyariatkan memberi makan (shadaqah) karena ada kemungkinan orang mati memiliki dosa yang memerlukan sebuah penghapusan dengan shadaqah dan seumpamanya, maka jadilah shadaqah itu sebagai bantuan baginya untuk meringankan dosanya agar diringankan baginya dahsyatnya pertanyaan kubur, sulitnya menghadapi malaikat, kebegisannyaa dan gertakannya”.

Demikianlah beberapa tulisan dari para ulama mengenai perkara tahlilan. Bagi kita diberi kebebasan untuk menerima ataupun menolak. Namun ada beberapa hal yang harus dicamkan bahwa penolakan kita adalah penolakan yang berdasar, tidak hanya ikut-ikutan secara membabi buta. Dan budayakan saling menghormati pendapat orang lain, karena hampir mustahil menghilangkan ikhtilaf furu’i di dalam Islam. Wallahu a’lam.




Subscribe to receive free email updates: