Islamic Full Day and Boarding School

Program Unggulan: Full Day Reguler - Fokus akademik. Boarding Reguler - Fokus akademik dan diniyah. Boarding Takhasus - Fokus menghafal Al-Quran 30 juz.

Daftar Online Tentang Kami Simulasi Test Soal Test Tahfizh Siswa Reguler Tahfizh Siswa Takhasus

Informasi Terbaru

Wednesday, 29 January 2014

PENERIMAAN PESERTA DIDIK 2014-2015

PENERIMAAN PESERTA DIDIK 2014-2015


SMP IT baitul muslim menerima pendaftara peserta didik baru Tahun Ajaran 2014-2015. Pendaftaran dimulai tanggal 3 Februari sampai dengan 26 April 2014 pukul 07.00-14.00 WIB, bertempat di kampus SMP IT Baitul Muslim Jl. Batin Kyai Labuhan Ratu 1 Way Jepara Lampung Timur 34196 atau di posko pendaftaran yaitu:
  1. Ibu Sri Triandewi, Jl. Lintas Sumatera No. 298 RT/RW/02/02 Sidoarjo Blambangan Umpu Way kanan (0823-7677-6970)
  2. Bpk. Yulianto/Ibu Rini (Catering Fajar Farid), Kampung Pasiran Jaya Kec. Dente Teladas (0813-6915-9168)
  3. Bpk. Agus, Desa Semuli Jaya Kec. Abung Semuli Kab. Lampung Utara (0852-6912-8164)
  4. Bpk. Semin, Komplek SDIT Cendekia Unit 2 Tulang Bawang (0853-5789-8004)
 Syarat Pendaftaran
  1. Foto Copy Ujazah dan SKHU
  2. Foto Hitam Putih 2x3, 3x4, 4x6 @4 Lembar
  3. Terdaftar Sebagai Peserta Ujian Nasional (Surat Keterangan)
  4. Membayar Biaya Pendaftaran Rp. 200.000;
  5. Surat Keterangan NISN
  6. Foto Copy Kartu Keluarga
Tes dan Wawancara pada 27 April 2014 pukul 09.00 WIB
Pengumuman Hasil Tes pada 5 Mei 2014

Keterangan lebih lanjut hubungi:
Adi Hermanto (0857-6966-3011)
Riswanto (0852-1331-1976)
Seswanto (0813-1788-3533)
Dedi Nakhairullah (0857-6988-5901)
Fitriana (0852-6908-8707)

Tuesday, 28 January 2014

Untukmu Para Guru, Saudaraku

Untukmu Para Guru, Saudaraku

Akhi ukhti...
Siapakah gerangan diantara kita yang begitu menikmati tilawahnya? Menyesap kebaikan yang Allah janjikan pada setiap pahatan hurufnya. Menyembunyikan rintik airmatanya. Untuk kemudian tertabur buat mereka anak murid kita...
Akhi ukhti...
Siapakah diantara kita yang sentiasa terjaga kesucian jiwa dan raganya? Melalui kemericik air wudhu yang tersedia dimana-mana. Agar redam amarah menghadapi muda-muda yang kita asuh setiap harinya...
Akhi ukhti...
Siapakah gerangan yang rajin berderma setiap hari meski seribu saja? Agar gaji kita yang sekian itu tak menjadikan kita semakin tamak terhadap harta. Agar rakus untuk menuntut berbagai insentif terganti qanaah yang menentramkan...
Akhi ukhti...
Siapakah gerangan yang memperbanyak rakaat dhuhanya? Agar pintu keberkahan langit dan bumi semakin terbuka nyata. Agar pinta mengganti motor kita yang berasap terkabulkan walau harus ditunda hingga kelak didalam surga...
Akhi ukhti...
Siapa gerangan yang bahagia dengan memperpanjang dzikirnya? Agar jiwa yang lelah dengan aneka masalah tentram dipelukan Yang Maha Rahmah...
Akhi ukhti...
Siapakah gerangan yang terus mendoa untuk kebaikan saudaranya? Agar kebersamaan kita di sekolah ini, di asrama ini terus bisa kita semai. Agar suka dan duka kita bisa kita maknai. Berbisik dan membayang wajah saudara terkasih dipagi yang dingin, sore yang indah atau tengah malam yang kelam bersama doa-doa yang rahasia...
Akhi ukhti...
Siapakah gerangan yang terus menghajatkan mati dalam kebaikan? Agar rebah kita, kapan dan bagaimanapun kembali juga kepangkuan-Nya...
Akhi ukhti...
Meski tak selalu kuucap, berilah maaf untukku yang pasti sering khilaf. Karena setiap titik dosa yang kuperbuat Allah siapkan api neraka yang siap menjilat.
Akhi ukhti...
Bimbing aku agar senantiasa dalam iman. Ajari aku cara terbaik untuk berkorban. Tuntun aku agar terus menapak dalam kebaikan. Jangan lelah membersamaiku yang terus kekanakan...
Akhi ukhti...
Kuberitahukan kepadamu, diriku yang terus mendosa punya cita yang terus menyala. Iaitu, ingin mati dalam bersyahadah. Bisa jadi dengan kucuran darah atau berada dibalik selimut merah. Bisa jadi terjerat tali tiang gantungan atau tertembus peluru senapan.
Biarlah kuserah kepada Rabb bagaimana Izrail kelak menjumpaiku, satu harapku, iman masih menyala dalam kalbuku...
Akhi ukhti...
Aku tak tahu siapa kelak yang akan lebih Allah cintai, diriku atau dirimu. Kelak jika Allah terlebih dahulu memanggilku, doakanlah kebaikan atasku. Dan jika Allah lebih mencintaimu terlebih dahulu, panggillah aku dari pintu surga. Mungkin saat itu aku sedang melolong di dasar jahanam karena dosa-dosa yang tak terampunkan.
Bantu aku...
Bantu aku...
Akhukum fillah yang mencintaimu
Imantoko.R

Saturday, 25 January 2014

Sekeranjang Air untuk Kakek

Sekeranjang Air untuk Kakek

By: Riswanto, S.Si.
Seorang kakek sangat rajin membaca Qur’an tiap pagi. Dia selalu duduk di meja dapur dan membaca Qur’an-nya. Cucu laki-lakinya mencoba meniru sang kakek dengan membaca Qur’an tiap pagi.
“Kakek, saya mencoba membaca Qur’an seperti kakek, tapi saya tidak pernah bisa mengerti. Setiap saat, saya mencoba untuk memahami, tapi setiap saya selesai membacanya dan menutup Qur’an, saya selalu lupa lagi. Apa untungnya membaca Qur’an?”
Sang kakek terdiam, dan menjawab,
“Tolong ambilkan air dari sungai dengan keranjang ini, bawakan kakek sekeranjang air.”
Sang cucu menuruti apa kata si kakek. Dia mengambil air dari sungai dengan keranjang. Tapi air selalu bocor dan habis sebelum sampai rumah. Kakek tertawa, dan mengatakan dia harus lebih cepat lain waktu. Sang cucu berlari dengan cepat, tapi tetap saja keranjang akan kosong sebelum dia sampai rumah. Kehabisan nafas, cucu mengatakan bahwa tidak mungkin membawa sekeranjang air, dia lalu mencoba mengambil sebuah ember untuk mengambil air. Laki2 tua itu berkata,
“Saya tidak mau seember air, tapi sekeranjang air. Kau tidak cukup berusaha keras.“
Meskipun si cucu tahu bahwa itu adalah hal yang sangat tidak mungkin, dia tetap membawakan sekeranjang air secepat mungkin dengan berlari. Tapi Tetap saja air habis sebelum sampai rumah.
“Kakek, ini sama sekali tidak ada gunanya!”
Kakek tersenyum,
“Jadi engkau pikir, ini tidak berguna? coba perhatikan keranjang ini…”
Sang cucu memperhatikan keranjang yang dia bawa, untuk pertama kalinya dia sadar, bahwa keranjang ini sangat berbeda sekarang. Keranjang sudah berubah, dari keranjang kotor, menjadi keranjang yang sangat bersih sekarang, luar dan dalam.
“Cucuku, Itulah yang terjadi saat kita membaca Qur’an. Engkau mungkin tidak dapat mengerti dan mengingat segalanya, tapi ketika engkau membacanya, kau akan berubah menjadi lebih bersih, luar dan dalam. Itulah yang dilakukan Allah untuk hidupmu"
Semoga bermanfaat.....

Thursday, 23 January 2014

Romantisme

Romantisme

By: Riswanto, S.Si.
Romantis adalah seperti dikatakan Nailah pada Utsman: "aku suka ketuaanmu, sebab mudamu telah kau habiskan bersama sang nabi"
Romantis adalah Ali yg dimarahi Fatimah, terkunci tak bs masuk rumah saat pulang. Lalu tidur diserambi masjd berlumur debu
Romantis adalah sperti khadijah yg tak bertanya melihat suaminya pulang gemetaran, takut, menggigil. Hanya memahami,hanya menyelimuti
Romantis adalah mengatakan kepada Allah, "hidupku untukMu,apalagi matiku"
Romantis adalah ketika aisyah banting piring didepan tamu yg membelalak, Nabi tersenyum lalu berkata "maaf ya,ibu kalian sedang cemburu"
Romantis adalah bertanya pada istri, "adakah makanan hari ini?" Dijawab, "tidak" maka senyumlah Rasulullah dan ujarnya "kalau begitu aku puasa"
Romantis adalah saat lelah Muhammad menebar kebaikan tertimbun, saat ia berbaring payah, Tuhan berseru "hai orang berselimut, bangunlah"
Romantis adalah saat godaan melanda di puncak muda Yusuf; ia cantik, kuasa dan sunyi, tapi Yusuf memilih lari, bajunya koyak belakang
Romantis adalah saat sekumpulan jelita mengiris tangannya terpesona akan paras Yusuf, tp ia berdoa "ya Rabbi, penjara lebih kusuka!
Romantis adalah ketika Utsman ibn Affan dikabarkan akan masuk surga, disertai bencana dan tumpahnya darah, lalu dia berkata "alhamdulillah,tsumma tawakaltu"
Romantis adalah ketika harta, tahta,wanita ditawarkan, muhammad malah berkata "andai pun mentari di kanan,rembulan dikiri, ku takkan pernah berhenti"
Romantis adalah saat cucu naik ke punggung sang Nabi,lalu ada yg berkata "sebaik-baik tunggangan" Beliau jawab "dan sebaik-baiik penunggang"
Romantis adalah saat satu persatu harta ayub binasa,anak-anaknya mati dan dirinya dilanda sakit yg merontokkan jasad. Doanya "sisakan hatiku tuk mengingatMu"
Romantis adalah saat fatimah putri nabi telapaknya pecah,leher pegal, punggung bilur; minta pembantu. Namun sang ayah hanya ajarkan dzikir
Romantis adalah abu bakr menitikkan air mata, jatuh di pipi kekasih SAW yg tidur dipangkuannya. Dia berkata "jangan bersedih,Allah bersama kita"
Romantis adalah saat sosok malaikat tampan mendekatimu, Maryam takut, tapi dia berkata "Tuhan memilihmu untk keajaiban sepanjang zaman"
Romantis adalah saat Nabi Muhammad saw memberi senyum terindah kpd orang yg dulu mencaci,menyiksa, menyumpahserapahi dirinya saat mereka tertunduk kalah. Kausenyumi; tiada cerca,hanya cinta!
Romanntis adalah ketika bersusah payah menamatkan 1 juz di sela kesibukan...
Romantis adalah ketika mata tak mampu bertatap, tangan tak bisa berjabat. Namun bibir selalu menyelipkan nama orang laen di setiap untaian doa.
Romantis adalah mencintai org yg qta nikahi...kalo menikah dgn org yg qta cintai itu biasa...dan cinta itu br muncul stlh anak kedua lahir...
Romantis itu saat bisa membuat anak2 didik merasa nyaman saat belajar
Romantis adalah jemari tangan ini tidak bisa luput dari sentuhan screen layar di handphone ku saat ku tatap satu persatu mutaba'ah bidadari syurga yg tergambar jelas di screenku bertuliskan barisan juz 1 sampai juz 30.. dan saat itu daku melihat di ujung namaku belum ada tanda kholas sedangkan bidadari yang lain sudah duapuluhan yang telah kholas..
#gubrak langsung rindu di hati agar segera tilawah
Romantis itu saat tak ada yg menemaniku,,dan kusibukan diri bercinta dgn para bidadari melalui gadgetku sambil senyum2 sendiri...dan org2 disekeling2ku mengira aq sedang bercinta dgn lawan jenis 
Romantis itu terbangun di jam 00..menanti bidadari membaca doa khatam u dikirim menuju langit
Romantis adalah d saat sepertiga malam  menundukkan hati mengharap cinta kasih & rahmat dariNya
Mana romantismu???

Khutbah: Bahaya Menggunjing

Khutbah: Bahaya Menggunjing

 
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ
.
Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah

Khatib mewasiatkan kepada diri khatib pribadi dan juga jamaah sekalian hendaknya bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya. Dan barangsiapa yang takut kepada manusia, sesungguhnya manusia tidak bisa memberikan manfaat sedikit pun di hadapan Allah Ta’ala. Kita juga harus menyadari bahwa tidak ada yang bisa mendapatkan rahmat kecuali orang-orang yang bertakwa. Tidaklah mendapatkan pahala, kecuali orang-orang yang berada di atas ketakwaan.

Nasihat untuk bertakwa ini sangatlah banyak, akan tetapi betapa disesalkan karena yang melaksanakannya sangatlah sedikit. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa.

Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah

Sebagai agama yang sempurna, Islam mengajak berbicara akal, hati dan perasaan, akhlak dan pendidikan. Agama yang mulia ini mengharuskan adanya peraturan-peraturan agar seorang muslim dapat memiliki hati yang selamat, perasaan yang bersih, menjaga kehormatan lisan, dan menjaga rahasia pribadinya, serta dapat berakhlak mulia terhadap Rabb-nya, dirinya sendiri, dan seluruh manusia. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Pesan Alquran ini, merupakan jawaban dari fenomena yang kita lihat saat ini. Yakni, agar kita terhindar dari perbuatan ghibah (menggunjing), mencari-cari kesalahan orang lain. Karena menggunjing ini menyebabkan rusaknya kehormatan seseorang, merusak hati, dan ketenangan masyarakat. Perbuatan menggunjing merupakan salah satu dosa besar yang membinasakan, merusak agama para pelakunya, baik sebagai pelaku ataupun orang yang rela ketika mendengarkannya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“…dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Kaum muslimin, rahimani wa rahimakumullah

Menggunjing orang lain tidak lepas dari salah satu dari tiga istilah, yang semuanya disebutkan di dalam Alquran, yaitu: ghibah, ifku, dan buhtan.

Apabila yang kita sebutkan tentang saudara kita itu memang ada pada diri mereka, maka ini disebut ghibah. Apabila kita menyampaikan semua yang kita dengar, maka ini adalah ifku. Dan apabila yang kita sebutkan itu tidak ada pada diri saudara kita, maka ini dinamakan buhtan.

Ghibah (menggunjing) adalah segala sesuatu yang dapat dipahami dan dimaksudkan untuk menghina, baik berupa perkataan, isyarat atau tulisan. Ghibah juga bisa berupa penghinaan terhadap seseorang mengenai agamanya, fisiknya, akhlak, dan keturunannya. Barangasiapa yang mencela ciptaan Allah, berarti ia telah mencela penciptanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru pelaku perbuatan ini dengan sabdanya,

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الإِيْمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوْا المُسْلِمِيْنَ وَلَا تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللهُ عَوْرَاتِهِ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, namun keimanan itu belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibah (menggunjing) kaum muslimin. Jangan pula mencari-cari aib mereka. Barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, maka Allah akan mencari-cari aibnya, niscaya Allah akan membeberkan aibnya, meskipun dia di dalam rumahnya.”

Tentang bahaya menggunjing ini, Hasan al-Bashri berkata, “Ghibah, demi Allah, lebih cepat merusak agama seseorang daripada ulat yang memakan tubuh mayit.”

Maka sungguh aneh, jika ada orang yang mengaku sebagai ahlul haq dan ahlul iman, ternyata ia melakukan perbuatan ghibah (menggunjing), sedangkan dia mengetahui akibat buruk perbuatan tersebut. Firman Allah Ta’ala mengingatkan,

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“…Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya..” (QS. Al-Hujurat: 12)

Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah

Seburuk-buruk ghibah, yaitu menggunjing para pemimpin, para ulama, orang-orang berkedudukan, orang-orang shaleh, dan orang-orang yang mengajak berbuat adil. Pelaku ghibah ini merendahkan kedudukan mereka, menghilangkan kewibawaan mereka, menghilangkan kepercayaan terhadap mereka, mencela perbuatan dan usaha mereka, dan meragukan kemampuan mereka.

Bayangkan, tidak disebut seorang yang mulia di hadapannya, kecuali dia rendahkan. Tidaklah muncul orang yang mulia, kecuali dicelanya. Tidak pula orang yang shaleh, kecuali dia akan menuduhnya. Pelaku ghibah ini, senang menuduh orang-orang terpercaya, menggunjing orang-orang shaleh,. Pelaku ghibah menanamkan permusuhan dan membingungkan orang-orang kebanyakan, memutuskan silaturahmi dan memecah persatuan.

Allahu Akbar! Apakah seorang muslim layak bersikap demikian kepada saudaranya?

Wahai pelaku ghibah! Setiap orang pasti dicintai dan dibenci, diridhai dan dimarahi, disukai dan dimusuhi.
Orang yang berakal dalam mencintai kekasihnya, ia tidak akan berbuat berlebihan; sebab, mungkin suatu hari orang yang dikasihinya tersebut akan dibencinya. Sebaliknya, manakala seorang muslim harus membenci, maka dia pun bersikap sewajarnya; sebab, mungkin suatu hari orang yang dibencinya akan menjadi kekasihnya. Oleh karena itu, jadilah orang yang selalu menegakkan kebenaran dan bersikap adil. Jangan sampai ketidak sukaan membuat kita bersikap zalim. Allah berfirman,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8)

Wahai saudara-saudaraku seiman, jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah.

Jika dikatakan kepada Anda, “Fulan telah menggunjingmu, sampai kami merasa kasihan kepadamu.” Maka jawablah dengan perkataan, “Seharusnya, dialah yang patut engkau kasihani.”
Hendaknya kita bertakwa kepada Allah. Sungguh beruntung orang yang bisa menahan diri, tidak berlebihan dalam berbicara. Sungguh beruntung orang yang bisa menguasai lisannya. Sungguh beruntung orang yang terhidar dari menggunjing orang lain, karena ia lebih sibuk mengoreksi dirinya. Sungguh beruntung orang yang berpegang kepada petunjuk Alquran, kemudian menghadap Allah dengan hati yang khusyu, lisan yang jujur, dan ikhlas mencintai saudaranya.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ
Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ ذِيْ العَرْشِ المَجِيْدِ، الفَعَّالُ لِمَا يُرِيْدُ، أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ، وَمَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، هُوَ أَقْرَبُ إِلَى عَبْدِهِ مِنْ حَبْلِ الوَرِيْدِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ نَاشِرُ أَعْلَامِ التَوْحِيْدِ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مِنْ صَالِحِ العَبِيْدِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ

Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah

Kami mengingatkan kembali, hendaklah kita jauhi perbuatan ghibah atau menggunjing orang lain. Ketauhilah, orang yang mendengarkan ghibah, ia mendapatkan dosa yang sama seperti pelakunya. Sehingga orang yang mendengarkan ghibah tidak selamat dari dosa, kecuali jika ia mengingkari dengan lisannya, atau dengan hatinya. Apabilas bisa, hendaklah ia tinggalkan tempat berlangsungnya ghibah tersebut, atau memutusnya dengan mengalihkan kepada pembicaraan yang lain. Karena orang yang diam ketika mendengar ghibah, maka ia termasuk bergabung dengan pelakunya. Ibnu al-Muabarak mengarakan, “Pergilah dari orang yang menggunjing, sebagaimana engkau lari dari kejaran singa.”

Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah.

Setiap orang memiliki cacat dan aib, kesalahan dan kekeliruan. Oleh karena itu, kita jangan merasa mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain. Daripada mengurusi aib orang lain, mengapa kita tidak menyibukkan diri dengan aib sendiri? Jagalah hak dan kehormatan saudaramu! Dalam sebuah hadis dinyatakan,

مَنْ ذَبَّ عَنْ لَحْمِ أَخِيهِ بِالْغِيبَةِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُعْتِقَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang membela daging (kehormatan) saudaranya dari ghibah, maka menjadi hak Allah untuk membebaskannya dari api neraka.” (HR. Ahmad)

“وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ؛ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ”.

“Barang siapa membicarakan mukmin dengan sesuatu yang tidak benar adanya; niscaya Allah akan benamkan dia ke dalam kubangan nanahnya para penghuni neraka, hingga ia bertaubat dari perkataan tersebut.” (HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا؛ فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah –shallallah ‘alaih wa sallam- bersabda: “Barang siapa melakukan kezhaliman kepada saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya; karena di sana (akhirat) tidak ada lagi perhitungan dinar dan dirham, sebelum kebaikannya diberikan kepada saudaranya, dan jika ia tidak punya kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya itu akan diambil dan diberikan kepadanya”. (HR. al-Bukhari nomor 6.169)

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
اللهم افتح بيننا وبين قومنا بالحق وأنت خير الفاتحين.
اللهم إنا نسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 04/X/1427H/2006M

Thursday, 16 January 2014

Khutbah: Bahagia dengan Membahagiakan Orang Lain

Khutbah: Bahagia dengan Membahagiakan Orang Lain


Khutbah Pertama:



إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Kaum muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Khatib mewasiatkan kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menaati perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, kekasih kita, penyejuk hati kita, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarganya, para sahabat serta pengikutnya hingga hari kiamat.

Kaum muslimin yang semoga rahmat Allah meliputi saya dan Anda sekalian.

Sebagian orang telah memiliki harta yang banyak, telah diberi kemewahan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, telah dimudahkan rezekinya, namun  mereka tidak merasakan kebahagiaan. Sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menunjukkan banyak cara dan kiat untuk menggapai kebahagiaan. Dan telah terbukti bahwa kebahagiaan itu tidak hanya diukur dengan harta, kebahagiaan bukan diukur dengan kemewahan, kebahagiaan bukan diukur dengan ketenaran, ada perkara-perkara lain yang bisa menjadikan seseorang berbahagia.

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah.

Pada kesempatan kali ini kita berbicara tentang orang-orang yang Allah berikan rezeki kepada mereka, terutama yang memiliki kelebihan. Bagaimana caranya agar mereka bisa meraih kebahagiaan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْناً، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوْعًا وَ لَأَنْ أَمْشِيْ مَعَ أَخٍ فِي حَاجَةٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا المَسْجِدِ ، ( يَعْنِي مَسْجِدُ النَبَوِي ) شَهْرًا

“…Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan pekerjaan yang paling dicintai Allah adalah menggembirakan seorang muslim, atau menjauhkan kesusahan darinya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’ktikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan…” (HR. Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir, no. 13646).

Allahu Akbar! Luar biasa, amalan yang tidak kita sangka besarnya, bahkan lebih besar daripada berdiam diri di masjid selama satu bulan untuk beribadah (i’tikaf) di Masjid Nabawi. Beliau katakan amalan menemani seorang muslim untuk ia tunaikan kebutuhannya, itu adalah amalan yang besar dan amalan yang agung. Mengapa demikian? Karena menolong orang lain, menghilangkan rasa laparnya, mengatasi kesulitannya adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan amalan tersebut akan memberikan rasa kebahagian kepada para pelakunya.

Ada seorang sahabat yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat ini mengeluhkan kekerasan dan kekakuan di dalam hatinya, ia tidak merasakan kebahagiaan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

Jika engkau ingin agar hatimu menjadi lunak, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad no. 7576 dan 9018)

Kaum muslimin yang dirahamati Allah

Mungkin di antara kita ada yang bertanya, apa hubungannya kebahagiaan dengan memberi makan orang yang miskin? Apa hubungannya kebahagiaan dengan mengusap kepala anak yatim? Apa hubungan hal ini dengan kelembutan hati dan kebahagiaan?

Ingatlah wahai kaum muslimin, di dalam agama kita ada sebuah prinsip yang agung الجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ العَمَلِ “Balasan itu sesuai dengan amalan.” Jika seorang hamba berusaha menyenangkan hati orang lain, memikirkan kesulitan yang dihadapi orang lain, makan Allah juga akan menyenagkan hatinya. Oleh karenanya kita dapati sebagian orang, berletih-letih, berpayah-payah, pergi ke tempat yang jauh untuk membantu kaum muslimin, membawakan bantuan, mengumpulkan dana untuk diberikan kepada kaum muslimin, dia tidak pernah merasakan keletihan, padahal itu pekerjaan yang sangat berat, mungkin ia tidak mendapatkan dunia (upah) sepeser pun, akan tetapi mengapa ia bisa begitu betah melakukan itu semua? Karena ada kebahagiaan yang ia dapatkan. Allah yang memasukkan kebahagiaan dalam dirinya.

Oleh karenanya manusia yang paling berbahagia di muka bumi ini adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa? Karena beliau adalah orang yang paling memikirkan bagaimana caranya membahagiakan orang lain. Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah)

Rasulullah merasa berat hatinya penderitaan para sahabatnya, penderitaan kaum muslimin secara umum, beliau menginginkan keimanan dan keselamatan bagi para sahabatnya dan umat beliau seluruhnya.

Ummul mukminin, Kahdijah radhiallahu ‘anha juga pernah memuji sifat suaminya ini, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa takut bahwa dirinya terancam saat menerima wahyu pertama,

كَلَّا أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا وَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka membantu orang yang tidak punya, menjamu tamu, dan sentiasa mendukung kebenaran.” (HR. Al-Bukhari no. 4572 dan Muslim no. 231)

Inilah sifat dasar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan sebelum beliau menerima wahyu. Khadijah menyebutkan beberapa sifat suaminya, yang kesemuanya menunjukkan bahwa beliau selalu berusaha membuat orang lain berbahagia; menyambung silaturahmi, jujur, memikul beban orang lain, membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan mendukung kebenaran.

Dalam hadis yang lainnya dikisahkan, ada seorang budak wanita yang masih kecil menarik tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menunaikan suatu keperluannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan budak tersebut membawanya ke tempat yang ia inginkan. Mengapa ini semua beliau lakukan? Karena beliau sangat ingin memasukkan kebahagiaan di hati orang lain.

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling ingin membahagiakan orang lain, maka beliau adalah orang yang paling berbahagia.

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ تَسْلِمًا. أما بعد:

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala

Setelah kita mendengarkan beberapa hadis tentang keutamaan membahagiakan orang lain, membahagiakan orang lain adalah amalan yang paling dicintai Allah, dan kita juga mendengarkan contoh praktek langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bagi kita adalah mengamalkannya. Mencari kebahagiaan dengan membahagiakan orang lain.

Jika Anda memiliki kelebihan rezeki, sumbangkanlah sebagian harta yang Anda miliki kepada orang-orang miskin, sumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Masukkan kebahagiaan di hati mereka, maka pasti Allah akan memasukkan kebahagiaan di hati Anda sekalian. Yakinlah akan hal ini, الجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ العَمَلِ “Balasan itu sesuai dengan amalan.” Tidak perlu sampai orang lain meminta, ketika ada keluarga, saudara, tentangga kita merasa sulit, maka kita bantu mereka dengan harta, tenaga, dan pikiran kita.

Yang merasa sulit membahagiakan saudaranya dengan harta, maka ia bisa bahagiakan saudaranya dengan bantuan tenaga atau pemikiran. Sehingga saudara kita mendapatkan ide dan solusi dari masalah yang ia hadapi.

Bagaimana mungkin Allah akan membiarkan orang-orang yang sibuk berpikir agar orang lain berbahagia, merasakan kesedihan, kegalauan di dalam hatinya, tidak mungkin! Yakinlah bahwasanya Allah akan membahagiakan orang yang ingin membahagiakan orang lain, dan lakukanlah amalan yang mulia ini dengan keikhlasan mengharap pahala dan ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita orang-orang yang senantiasa membantu saudara-saudara kita, memasukkan kebahagiaan di hati-hati mereka, sehingga Allah memberikan kebahagiaan kepada kita di dunia maupun di akhirat kelak, Allahumma amin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخَوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُواْ رَبَّنَا إِنَّكّ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نًافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ وَآَخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Dinukil dari ceramah pendek Ustadz Firanda Andirja, M.A. dengan tambahan dari tim KhotbahJumat.com

Masyarakat Baru Indonesia

Masyarakat Baru Indonesia

mamlangit 
By: Anis Matta, Lc

Ada perubahan yang sedang terjadi diam-diam di tengah semua kegaduhan politik hari ini yaitu perubahan komposisi demografi dan karakteristik masyarakat yang pada gilirannya nanti akan mempengaruhi lanskap politik pada Pemilu 2014.

Komposisi penduduk mulai condong ke usia muda, bahkan didominasi oleh penduduk berusia 45 tahun ke bawah. Proyeksi demografis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada 2014 ini angka usia produktif (15-64 tahun) mencapai sekitar 65%. Penduduk berusia muda ini memiliki tingkat pendidikan dan penghasilan yang cukup tinggi. Tentu saja, Indonesia telah masuk ke ambang pendapatan per kapita USD3.000 sejak 2011. Karakter lain dari kelompok ini koneksi ke dunia luar melalui internet (well connected). Diperkirakan kurang-lebih 60 juta orang Indonesia terhubung dengan social media. Angka itu sama dengan hampir 25% dari penduduk Indonesia.

Native Democracy

Karakter lain yang khas di Indonesia dewasa ini adalah kelompok yang saya sebut sebagai “native democracy”. Mereka adalah generasi muda yang hanya merasakan demokrasi sejak dewasa. Mereka tumbuh remaja dengan menyaksikan pemilihan presiden langsung, iklan politik di media, dan kebebasan berpendapat hampir di mana saja. Mereka tidak memiliki referensi kehidupan dalam suasana otoriter Orde Baru, di mana pers dibungkam, partai politik dibonsai, serta pemilu yang semata menjadi “pesta” bagi penguasa, bukan pesta demokrasi yang sebenarnya.

Kelompok “native democracy” ini berbeda dengan “kakaknya” yang lahir pada awal Orde Baru (akhir 1960-an atau awal 1970- an) yang menyaksikan runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet ketika remaja. Sebagian dari anak sulung Orde Baru ini menjadi pelaku ketika gerakan Reformasi bergulir karena mereka sedang berada pada usia pemuda atau mahasiswa. Mereka merekam suasana otoriter masa lalu dan melihat situasi demokratis sekarang sebagai suatu pencapaian, sementara adiknya melihat kebebasan hari ini adalah sesuatu yang terberi (given).

Orientasi yang Berubah

Dari perjalanan sejarah, kita mencatat bahwa pencapaian terbesar para pendiri bangsa dan pemerintahan pascakemerdekaan di bawah Bung Karno adalah pembentukan konstitusi Indonesia sebagai negara-bangsamodern. Namun, paradigma “politik sebagai panglima” di era ini menyebabkan negara tidak punya perhatian dan kemampuan untuk melakukan pembangunan sosial dan ekonomi. Orde Baru yang datang sebagaiantitesisOrdeLamamenempatkan pembangunan ekonomi, dalam arti peraihan kesejahteraan material, sebagai fokus dan basis legitimasi.

Namun, karena stabilitas politik merupakan premis bagi pembangunan ekonomi, proses penguatan lembaga negara dilakukan dengan menjadikan militer sebagai “brain and backbone” negara, sementara kekuatan sipil terpinggirkan, khususnya partai politik. Era Reformasi mengalihkan perhatian kita dari politik dan ekonomi ke masyarakat (society). Yang terjadi selama 15 tahun belakangan ini adalah penguatan masyarakat sipil dengan empat pranata utama: kampus, media, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan partai politik.

Inilah yang kemudian menciptakan keseimbangan baru dalam hubungan antara negara, pasar dan masyarakat sipil. Bersamaan dengan beralihnya pusat perhatian kita pada society, yang berdampak pada penguatan masyarakat sipil, kita mendapatkan berkah dari Tuhan berupa “bonus demografi” di mana komposisi penduduk Indonesia didominasi oleh usia produktif. Rasio ketergantungan (dependency ratio) menurun karena orang tidak produktif (orang tua dan anakanak) yang harus ditanggung oleh penduduk produktif semakin kecil sampai titik tertentu.

Proyeksi demografis BPS menunjukkan bahwa dividen ini mencapai puncaknya pada 2020, ketika penduduk berusia produktif (15-64 tahun) mencapai sekitar 70% dari populasi. Dampak paling besar akibat pergerakan dari politik ke ekonomi ke masyarakat ini adalah berubahnya tujuan pertanggungjawaban politik dan ekonomi. Di era ini masyarakat akan menjadi “panglima” bagi politik dan ekonomi. Karena itu, negara sebagai integrator bagi semua aktivitas politik dan pasar sebagai integrator bagi semua aktivitas ekonomi bukan hanya dituntut untuk lebih terbuka dan transparan, melainkan juga dituntut untuk mempunyai tanggung jawab sosial.

Masyarakat menjadi faktor pembentuk nilai utama bagi negara dan pasar. Jargon era ini adalah: society first! Pertanyaan yang berkembang, apa orientasi hidup masyarakat baru ini? Ternyata jawabnya adalah kualitas hidup. Kesejahteraan adalah impian, tapi ia tak lagi sendiri. Kesejahteraan bergeser dari tujuan menjadi salah satu faktor pembentuk kualitas hidup. Itulah yang kita baca dari perubahan lanskap nilai dan moral masyarakat baru tersebut.

Di samping nilai-nilai lama yang masih kuat bertahan, yaitu agama dan gotong-royong, muncul nilai baru yang menyertai dan mengimbangi kedua nilai tersebut yaitu tendensi pada kekuasaan (power) dan prestasi (achievement). Agama memberi orientasi hidup, menjadi sumber moral sementara pengetahuan memberi mereka kapasitas dan sumber produktivitas. Kesejahteraan adalah output dari kedua hal tersebut yang berfungsi sebagai pembentuk kualitas hidup secara keseluruhan.

Implikasi

Implikasi dari lahirnya masyarakat baru ini adalah kebutuhan hadirnya representasi politik yang melampaui polarisasi politik lama. Cara pandang dikotomis Islam vs nasionalis— kemudian Islam masih dibelah lagi menjadi tradisionalis vs modernis—menjadi usang dan tidak relevan. Pada masyarakat baru ini, agama adalah identitas, bukan ideologi. Kehidupan mereka relatif lebih religius, tetapi tidak otomatis berkorelasi dengan pilihan-pilihan politis-ideologis.

Kita harus mencari ide tentang “the next Indonesia” yang benar-benar mewakili ruh zaman, mewakili orang-orang yang berumur di bawah 45 tahun. Karena itu, seperti sudah saya sampaikan dalam banyak kesempatan, Pemilu 2014 bukan hanya menjadi momentum politik demokrasi, berupa peralihan kekuasaan, melainkan momentum peralihan gelombang sejarah Indonesia. Partai politik harus menyiapkan strategi komunikasi baru karena nantinya hubungan antara pemerintah (yang merupakan hasil kontestasi pemilu) dan publik akan berlangsung pada kesepakatan tingkatan layanan (service level agreement) dari kedua pihak;

layanan apa yang diminta publik dan kewajiban apa (seperti partisipasi atau pajak) yang harus diserahkan publik untuk mendapat layanan itu. Partai politik harus menyiapkan dan menyampaikan draf kontrak layanan itu. Pada skala yang lebih besar, tugas negara bagi masyarakat baru tersebut adalah memfasilitasi masyarakat bertumbuh secara maksimal dengan semua potensi mereka. Fungsi fasilitator pertumbuhan sosial itulah yang akan mencegah terjadi ketegangan diametrak antara negara dan masyarakat sipil yang banyak terjadi di negaranegara demokrasi baru.

Semua berkah yang diberikan Tuhan itu, seperti sumber daya alam dan bonus demografi, hanya akan punya makna jika dikelola secara baik. Jika tidak, berkah itu akan hilang percuma dan kita kehilangan momentum untuk membuat lompatan menjadi negara yang sejahtera. Perubahan ini yang akan membuat Pemilu 2014 menjadi menarik dan menantang bagi partai politik. Mudah-mudahan lebih menarik dari Piala Dunia FIFA yang digelar di Brasil!

*Koran Sindo (Jumat, 20/12/2013)

Wednesday, 15 January 2014

Materi Tarbiyah: Melejitkan Potensi Diri

Materi Tarbiyah: Melejitkan Potensi Diri

Silahkan unduh disini

Tuesday, 14 January 2014

Cara Membuat/Menghapus Print Area Sel Tertentu di Ms Excel 2007 dan Versi Lebih Baru

Cara Membuat/Menghapus Print Area Sel Tertentu di Ms Excel 2007 dan Versi Lebih Baru


Mencetak atau print document bisa dikatakan sebagai hasil akhir dari pekerjaan dikomputer, walaupun tidak semua data maupun dokumen musti dicetak atau diprint. Bisa saja document tersebut hanya untuk ditampilkan menggunakan LCD atau hanya untuk presentasi saja. Dalam bekerja menggunakan Ms Excel  terkadang kita hanya butuh area tertentu saja untuk dicetak, artinya tidak memandang pada halaman berapa, tetapi melihat pada data mana yang akan dicetak. Karena bisa saja yang ingin dicetak tersebut merupakan bagian  dari beberapa halaman.

Agar dapat mencetak area tertentu saja atau mencetak area sel yang diinginkan, anda dapat menggunakan fasilitas Print Area. Dengan menggunakan fitur Print area, maka hanya area sel yang terpilih saja yang akan dicetak. Untuk menggunakan fasilitas Print area ini silahkan diikuti langkah berikut ini :

  1. Blok area sel yang akan dicetak
  2. Pada ribbon Page Layout, pilih Print Area kemudian klik Set Print Area
Maka area sel yang diblok tadi akan dikelilingi oleh garis putus-putus. Jika anda melakukan print document, maka yang tercetak adalah tulisan yang berada di dalam garis putus-putus tersebut.

Untuk menghilangkan print area lakukan cara di atas dan klik clear print area.

Semoga bermanfaat.

By: Slamet Setiawan

Trik Copy-Paste dari Web ke Microsoft Word

Trik Copy-Paste dari Web ke Microsoft Word

Pernahkan Anda menunggu sangat lama ketika Anda melakukan copy-paste dari halaman Web ke Microsoft Word? Bahkan sampai hang kan? Tidak semua artikel Web dapat di-copy dengan instant, bahkan ada juga yang Read Only sama sekali tidak bisa diblok untuk di-copy, yang memang sengaja diprotek oleh penulisnya dengan tujuan supaya karyanya tidak mudah dibajak oleh pembaca.

Artikel ini bukan membahas bagaimana cara membuka protek-kan artikel tersebut, karena bagaimanapun juga tujuan penulisnya supaya jangan dibajak harus kita hargai, sebab perbuatan tersebut juga termasuk pelanggaran undang-undang hak cipta. Sedangkan yang akan dibahas dalam artikel ini adalah bagaimana cara copy-paste artikel yang memang diperbolehkan dengan cara yang cepat tidak harus menunggu proses yang cukup lama.

Sebelum masuk pada trik-nya ada baiknya Anda mengetahui penyebab kenapa terjadi proses yang lama dalam copy-paste dari halaman Web ke Microsoft Word. Mari kita pelajari apa saja penyebabnya.

 Ada beberapa sebab mengapa proses copy-paste dari halaman Web ke Microsoft Word menjadi sangat lambat, paling tidak sebagai berikut:

  1. Images, kemunkinan pada halaman tersebut terlalu banyak gambar yang ukurannya cukup besar. Banyak gambar dengan ukuran yang besar akan memperlambat proses copy-paste, apa lagi jika gambar-gambar animasi. 
  2.  Links, link ke situs lain juga termasuk penyebabnya, semakin banyak link yang terdapat pada naskah akan semakin lambat pula pada proses copy-paste.
  3. Table, sebuah halaman Web yang dibangun dengan menggunakan table-tabel transparan, atau pada menu tertentu yang memang menggunakan table, juga termasuk salah satu penyebab lambatnya proses copy-paste. Karena pada proses copy-paste tabel-tabel tersebut juga akan ikut ter-copy. Anda pernah melakukan copy-paste dari Ms Excel ke Ms Word ? bagaimana lumayan lambat juga prosesnya kan?

Tiga hal inilah penyebab utamanya, akan lebih lama lagi prosesnya jika ketiga-tiganya terdapat dalam satu artikel yang Anda copy.

Hal tersebut bisa Anda hindari dengan mengikuti trik berikut ini:

Pertama Seperti biasa silahkan Anda blok artikel yang akan di-copy, klik kanan pilih copy atau ctrl+c atau dari menu Edit pilih Copy. Silahkan gunakan salah satu cara tersebut tergantung kebiasaan Anda.

Kedua Buka Microsoft Word, dari ICON Paste pilih Paste Special… (office 2007/versi lebih baru) untuk office 2003 dari Menu Edit pilih Paste Special.

Ketiga Pada windows Paste Special tersebut pilih Unformatted Unicode Text (maksudnya dari atrikel yang di-copy tadi hanya diambil text-nya saja sedangkan format dan layoutnya tidak) dan OK. Maka tampil text yang anda copy tadi dengan format text standar. Gambar, table dan link yang terdapat dalam artikel tadi tidak akan tampil. Tapi jika anda ingin menampilkan gambarnya juga silahkan anda kembali ke artikel tadi, klik kanan pada gambar dan pilih copy image as, letakkan kursor di mana gambar akan diletakkan, kilk kanan dan pilih Paste. Anda telah berhasil, sekarang silahkan edit sesuai dengan keinginan Anda.

Sekarang silahkan bandingkan, pilh dan gunakan! 2x perintah copy untuk text dan gambar menghasilkan paste yang cepat, dengan 1x perintah copy text dan gambar sekaligus tapi harus menunggu proses paste cukup lama?

Selamat Mencoba, Semoga Bermanfaat.

By: Slamet Setiawan

Materi Tarbiyah: Integritas Diri

Materi Tarbiyah: Integritas Diri

Silahkan unduh isini

Materi Tarbiyah: Istiqamah dan Permasalahannya

Materi Tarbiyah: Istiqamah dan Permasalahannya

Silahkan unduh teng mriki

Materi Tarbiyah: Karakter Kafir, munafik, dan Mu'min

Materi Tarbiyah: Karakter Kafir, munafik, dan Mu'min

Silahkan unduh disini

Materi Tarbiyah: Kecerdasan Waktu

Materi Tarbiyah: Kecerdasan Waktu

Silahkan unduh disini

Materi Tarbiyah: Kembali Ke Masjid

Materi Tarbiyah: Kembali Ke Masjid

Silahkan unduh disini

Materi Tarbiyah: Konsep Diri Seorang Muslim

Materi Tarbiyah: Konsep Diri Seorang Muslim

silahkan unduh disini

Monday, 13 January 2014

Materi Tarbiyah: Membangun Karakter Pembelajar

Materi Tarbiyah: Membangun Karakter Pembelajar

Silahkan unduh disini

Materi Tarbiyah: Membangun Kemandirian

Materi Tarbiyah: Membangun Kemandirian

Silahkan unduh disini

Materi Tarbiyah: Infaq

Materi Tarbiyah: Infaq

Silahkan unduh disini

Materi Tarbiyah: Ikhlas dan Pengaruhnya dalam Amal

Materi Tarbiyah: Ikhlas dan Pengaruhnya dalam Amal

Materi dapat didownload disini

Materi Tarbiyah: Ihsan

Materi Tarbiyah: Ihsan

Materi dapat didownload disini

Materi Tarbiyah: Huzalur Ruuh

Materi Tarbiyah: Huzalur Ruuh

Materi dapat diunduh disini

Materi Tarbiyah: Hijrah

Materi Tarbiyah: Hijrah

Materi dapat didownload disini

Materi Tarbiyah: Haritsun Ala Waqtih

Materi Tarbiyah: Haritsun Ala Waqtih

Materi dapat diownoad disini

Materi Tarbiyah: Etos Kerja Dalam Islam

Materi Tarbiyah: Etos Kerja Dalam Islam

Materi dapat didownload disini

Materi Tarbiyah: ESQ Power

Materi Tarbiyah: ESQ Power

Materi dapat didowload Disini

Materi Tarbiyah: Birrul Walidain

Materi Tarbiyah: Birrul Walidain

Materi dapat odownload disini Materi Tarbiyah: Birrul Walidain

Materi Tarbiyah: Berpikir Positif

Materi Tarbiyah: Berpikir Positif

Materi dapat didownload Disini

Materi Tarbiyah: Aplikasi Nilai Shalat Dalam Kehidupan

Materi Tarbiyah: Aplikasi Nilai Shalat Dalam Kehidupan

Materi dapat didownload Disini

Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid

Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid

By : Muhammad Saiyid Mahadhir, MA.

Ide besar kelompok Qadariyah dan Ahlu Az-Zhahir yang yang mewajibkan kepada seluruh ummat Islam untuk melihat dalil dalam perkara furu’ (baca: fiqih) dan tidak boleh sama sekali mengikut (taqlid) saja kepada pendapat para ulama sepertinya mendapat tantangan yang keras dari mayoritas ulama sejagad.

Betapa tidak, karena akhir dari pendapat ini mewajibkan setiap muslim sampai pada derajat mujtahid. Semua saja, tanpa membedakan anatara Arabiy (Arab) dan A’jamiy (non Arab) dimana hanya para mujtahidlah yang berhak berbicara dalil secara utuh, disaat mereka yang awam tidak memiliki hak itu.

Ide ini besar dari dua kelompok ini diungkap oleh Al-Khattab dalam kitabnya At-Tamhid seperti yang dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam kitabnya Raudhah An-Nazhir dalam pembahasan bab At-Tqlid. 

Mujatahid

Secara bahasa kata mujtahid itu adalah ism fa’il (bentuk subyek) dari fi’il (kata kerja) ijtahada-yajtahidu-ijtihad yang berarti mencurahkan semua kemampuan dan usaha dalam suatu pekerjaan [بذل المجهود واستفراغ الوسع في فعل]

Maka mujtahid adalah orang yang mengeluarkan segala kemampuan dan usahanya dalam suatu pekerjaan. Dari sini kita bisa menilai bahwa mereka yang hanya membawa ranting kayu yang kecil dan ringan itu tidak bisa disebut sebagai mujtahid, berbeda dengan mereka yang membawa tumpukan karung beras atau semen yang membutuhkan tenaga maksimal.

Dalam fiqih term mujtahid ini digunakan untuk menyebut mereka yang sudah mengeluarkan segala usaha dan kemampuannya untuk mengetahui hukum-hukum syariat, sampai pada keyakinan bahwa sudah tidak ada kekuatan setelah itu [أن يبذل الوسع في الطلب إلى أن يحس من نفسه بالعجز عن مزيد طلب]. Ini adalah definisi yang diberikan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Mustashfa, dan definisi ini mempunyai kemiripan dengan definisi yang digambarkan oleh Al-Amidi dalam kitabnya Al-Ihkam.

Syarat Mujtahid

Tentunya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seseorang sebelum akhirnya dia mencoba untuk mencurahkan segala kemampuannya dalam mengetahui hukum-hukum syariat, dimana ketika syarat ini belum terpenuhi maka seberapapun usaha yang dia lakukan tetap saja belum masuk dalam katagori mujtahid.

Ibarat bekerja, maka hanya mereka yang memenuhi syarat sajarah yang akan diberikan kesempaan untuk bekerja, itupun setelah melalui berbagai penilain dari banyak hal. Jika tidak memenuhi kualifikasi, dengan sadar biasanya mereka akan mundur sendiri, tidak ngeyel dengan berteriak sesukanya dengan teriakan yang mengganggu tidur siang.

Hampir disetiap kitab-kitab Ushul Fiqih para ulama berbicara masalah ini, ada yang menuliskan secara panjang lebar, namun ada juga yang memberikan pandangannya secara singkat. Namun jika disimpulkan, kira-kira hampir semua ulama akan sepakat dengan beberapa poin berikut:

Bahwa seorang mujtahid harus menguasai semua sumber hukum, baik sumber yang disepakati (al-muttafaq) seperti: Al-Quran, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas, maupun sumber yang diperselisihkan (al-mukhtalaf) seperti: Al-Istishab, Al-Istihsan, Mashalih Al-Mursalah, Al-Urf, Qaul As-Shahabi, Syar’u Man Qablana, Sadd Az-Dzari’ah, Amal Ahli Al-Madinah, dan seterusnya.
Seorang mujtahid harus menguasai kesemuanya itu detail, bukan setengah-setengah. Terhadap Al-Quran misalnya, maka seorang mujtahdi harus menguasai seluruh ayat yang berbicara masalah hukum, dan mampu mengahdirkannya dalam waktu yang tidak lama.
Terhadap sunnah juga seperti itu, setidaknya seorang mujtahid mampu menghadirkan hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum, juga mengerti masah periwayatan dan status hadits, setidaknya terhadap kitab-kiab hadits yang sekarang sudah dibukukan sudah menguasainya dan bisa menghadirkan hadits dari sumber-sumber tersebut.
Mengetahui perkara ijma’, mana saja perkara yang sudah ada kata sepakat dari semua ulama (ijma’), baik ijma’ sharih mapun ijma’ sukutiy, setidaknya seorang mujtahid harus tahu bahwa perkara yang sedang dibahas sudah ada ijma’nya, atau masuk dalam ranah khilaf, atau itu masuk kajian kontemporer.
Seorang mujtahid juga mengerti bagaimana cara menggunakan dalil, karena yang terpenting dalam membahas sebuah perkara itu bukan hanya dalil, namun cara menggunakannya dalil tersebut juga tidak kalah pentingnya. Misalnya mengerti masalah pendalilan secara bahasa, mengetahui mana dalil yang sudah dihapus keberlakuannya dan mana pula dalil yang menghapusnya, apakah dalil Al-Quran boleh dihapus keberlakuannya oleh hadits, semua ini dibahas pada ilmu nasikh dan mansukh, faham mana dalil yang umum (‘am) dan khusus (khas), mengerti mana dalil yang mutlak (mutlaq) dan terikat (muqayyad), faham mana dalil nash dan mana pula dalil mafhum, dan seterusnya.
Tentunya kesemuanya itu tidak bisa dilakukan jika seorang yang ingin menjadi mujtahid tidak mengerti bahasa Arab. Maka penguaaan bahasa Arab menjadi keharusan bagi mujtahid.  Sehingga seorang mujtahid memang benar-benar bisa membedakan antara lafazh shorih dan kinayah, zhohir dan mujmal, haqiqah dan majaz, ‘am dan khash, , mutlaq dan muqayyad, nash dan fahwa, dan seterusnya.
Ini adalah gambaran umum tentang syarat mujtahid, lebih detailnya penjelasan seperti ini bisa didapat dalam banyak kitab ushul seperi: Kitab Al-Mustashfa, Raudhah An-Nazhir, Kasy Al-Asrar, Nihayah As-Sul, Al-Mahsul, Al-Ihkam, Irsyad Al-Fuhul, Syarh Tanqih Al-Fushul.

Dengan mengetahui standar dalam pencapaian starata mujtahid tersebut maka barulah bisa kita simpulkan bahwa mereka yang tidak atau belum sampai pada penguasaan syarat-syarat tersebut belum bisa kita sebut sebagai seorang mujtahid, dan umumnya yang bukan mujtahid itu disebut dengan awam.

Penolakan Dari Jumhur

Ternyata tidak mudah mencapai level mujtahid, dan memang seperti itulah seharusnya, bahwa agama ini harus dibawa oleh mereka yang benar-benar menjadi pilihan. Dengan syarat yang sedemikian rupa maka mustahil rasanya jika semua orang dimuka bumi ini diharuskan untuk sampai derajat tersebut, maka inilah alasan pertama yang membuat mayoritas ulama membantah pendapat yang mengharuskan semua muslim sampai pada derajat mujtahid dan tidak boleh bertaqlid kepada selain mereka.

Butuh keseriusan dalam hal ini, dan butuh pembelajaran tingkat tinggi, mungkinkah gerangan orang-orang yang di Pasar Minggu Jaksel sini bisa sampai pada derajat mujtahid, disaat dalam kesehariannya mereka habiskan waktunya di pasar, menyediakan makanan beras, sayuran dan buahan?

Mampukah para sopir angkot dan metro mini belajar semua hal di atas, sehingga mereka juga kelak akan sampai pada derajat mujtahid? Disaat pikiran mereka disetiap harinya memikirkan setoran sewa angkot, juga memikirkan makan untuk anak istri.

Mampukah para pembelajar fisika, kimia, biologi, tehnik, menyediakan waktunya untuk belajar keilmuan syariah sehingga mereka juga sampai pada derajat mujtahid? Disaat sebagian besar diantara mereka tidak fasih membaca Al-Quran dan tidak bisa sama sekali bahasa Arab.

Lalu bagaimana nasib para pekerja kantor yang kesehariannya bergelut dengan dengan laporan-laporan kerjanya, pergi subuh pulang malam, kapankah mereka belajar bahasa Arab sebingga bisa menyimpulkan hukum dari Al-Quran dan Hadits?

Kenyataan di atas adalah bantahan kedua dari mayoritas ulama atas ide yang dilontarkan oleh mereka yang menghendaki semua kita sampai pada derajat mujtahid. Dan bahwa ternyata justru bumi ini akan tidak stabi jika semua kita menjadi mujtahid, disinilah hikmahnya bahwa sebagian kita dijadikan awam, karena kehadiran mereka justru membawa kestabilan hidup di bumi.

Orang Awam Wajib Mengikut (Taqlid)

Jika memang seperti itu maka tidak ada pilihan lain bagi mereka yang awam kecuali hanya mengikut saja. Mengikut para ulama mujtahid khususnya dalam perkara furu’, dimana sebagian besar masalah fiqih masuk dalam ranah furu’. Bahkan dengan tegas Ibnu Qudamah mengatakan wajib hukumnya bertaqlid kepada para ulama mujtahid.

Jika dalam satu negri ada banyak mujtahid maka mereka yang awam berhak untuk mengikut siapa saja dari ulama mujtahid yang ingin mereka ikuti [للعاميِّ أن يقلد من شاء من المجتهدين], kaidah ini masyhur dikalangan ulama ushul,  bahkan sebagian menganggap perkara ini sudah ada konsensus (ijma’).

Tinggal lagi permaslahan berikutnya adalah menentukan dan memilih siapa saja dari ulama kita yang masuk dalam level mujtahid. Ini penting untuk diketahui karena pada dasarnya sangat jelas bedanya antara ulama mujtahid, ulama yang belum sampai pada derajat mujtahid, ustadz, artis, pelawak dan dukun. Jangan sampai istilah ini menjadi bias, hanya karena media yang selalu menghadirkan mereka di televisi.

Jika kita adalah awam, sekiranya tidak ada kehiaan sama sekali dengan menyadari keawaman kita, dan setinggi-tingginya level awam tetap saja kita bukan mujtahid yang mempunyai hak utuh untuk berbicara dalil dengan sangat vokal, apalagi jika seandainya kita adalah awam pada level akut.

Proses belajar melalui majlis taklim, pesantren akhir pekan, melalui website, setidaknya menjadi awal dari bagaimana menyadarkan diri agar kita tahu bahwa sebenarnya selama ini kita tidak tahu, dengan pembelajaran seperti itu setidaknya kita bisa menaikkan level awam kita agar tidak berada pada posisi starata paling bawah, berharap sedikit demi sedikit kita juga mulai membaca dalil-dalil yang mereka gunakan.

Tidak Ada Paksaan dan Tidak Boleh Memaksa

Memang kebenaran dalam ranah fiqih hanya ada satu, namun tidak ada yang mengetahui secara pasti mana yang satu itu, kebenaran yang satu itu hanya ada disisi Allah.

Ulama mujtahid hanya ditugaskan untuk berusaha semaksimal mungkin mengeluarkan seluruh kemampaunnya untuk mengetahui hukum dari sebuah perkara, atas usaha yang maksima ini mereka mendapat satu kebaikan, dan jika usaha itu bertepatan dengan apa yang ada disisi Allah SWT maka mereka mendapat satu kebaikan lagi.

Inilah yang membedakan antara keduanya, jika hasil ijtihad mereka benar mereka mendapatkan dua kebaikan dan jika hasil ijtihad mereka salah mereka mendapatkan satu kebaikan, dan inilah satu-satunya kesalahan yang tidak berdosa.

Dalam adabnya seorang mujtahid tidak boleh memaksakan hasil ijtihadnya kepada mujtahid lainnya, karena hasil ijtihad mujtahid yang satu tidak lebih utama dari hasil ijtihad mujtahid yang lainnya, jika mereka saja tidak boleh memaksakan, maka sudah barang tentu sesama awam juga tidak boleh saling memaksakan pendapat yang dikuti dengan awam lainya.

Apalagi sesama awam sampai saling memusuhi, membid’ahkan, atau malah mengkafirkan awam lainnya, hanya karena mereka berbeda dalam pilihan dalam wilayah furu’. Dan perlu juga diketahui bahwa dalam masalah aqidah juga ada ranah furu’nya, dimana khilaf pada ranah furu’ aqidah sama seperti khilaf dalam ranah furu’ fiqih.  

Oleh karenanya kita sering mendengar ungkapan yang sangat bijak dari para pendahulu kita: “Pendapat saya benar, namun bisa jadi salah, dan pendapat yang lain salah, akan tetapi mungkin saja benar”.

Wallahu A’lam Bisshawab

Sumber: rumahfiqih.com

Sunday, 12 January 2014

Anis Matta: Melodi Paling Harmoni itu Bernama Ayah

Anis Matta: Melodi Paling Harmoni itu Bernama Ayah

Jadwal padat rupanya tidak menghalangi Anis Matta untuk bercengkrama bersama keluarga. Di tengah kesibukannya sebagai presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis masih menemani anak-anaknya mengisi liburan. Kamis (26/12), Anis menonton film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bersama tiga putranya, yaitu Ajem, Ayman, dan Oid.

Masa remaja merupakan transisi dari masa anak-anak menuju dewasa. Ini masa saat seseorang mulai belajar mencari jati diri. Saat seperti ini, penting bagi orang tua untuk mendampingi anak-anaknya.

“Kuncinya ada pada kemauan untuk meluangkan waktu. Kalau tidak menyengajakan diri meluangkan waktu, tidak akan sempat. Mereka ini sedang galau, ya, kita temanilah,” kata Anis, sambil tersenyum meledek Ajem.

Anis yang pada awal masa reformasi rajin menulis Kolom Ayah di Majalah UMMI – yang kemudian terbit sebagai buku Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga, mengaku tidak pernah merasa sempurna sebagai seorang ayah.

“Tidak, saya tidak pernah merasa sempurna. Tapi saya percaya pada proses menuju ke sana. Itulah yang saya lakukan. Saya berusaha bergerak secara konstan menuju titik kesempurnaan itu,” jelas ayah 10 orang anak ini.

Menurut Anis, peran sebagai ayah merupakan amanah besar, sekaligus karunia besar. Banyak hal yang harus dilakukan untuk membuat seseorang layak menjalani peran itu. Tapi juga akan banyak kesenangan-kesenangan yang menghampiri ketika menjalani peran itu dengan baik.

“Peran sebagai ayah membuat seseorang belajar tentang makna pertanggungjawaban yang hakiki. Peran ini juga akan menyuguhkan melodi paling harmoni bagi orang yang menjalani peran tersebut. Peran ini memberi kita begitu banyak hal. Lalu segala sesuatu yang kita dapatkan itu membuat kita sanggup memberi lebih banyak lagi. Ini seperti rantai kebaikan yang tak pernah putus,” pungkas Anis.

Sumber: anismatta.net

Pengunduran Diri Presiden Muslim Pertama di Afrika Tengah

Pengunduran Diri Presiden Muslim Pertama di Afrika Tengah

KTT masyarakat Ekonomi Negara Afrika Tengah, yang digelar pada hari Jum’at (10/01), mengumumkan bahwa Presiden Republik Afrika Tengah dan Perdana Menteri-nya mengajukan pengunduran diri mereka.

Menurut pernyataan akhir dari KTT, yang dibacakan pada sidang Majelis Umum, bahwa para pemimpin Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Tengah telah menerima tanda pengunduran diri presiden Afrika Tengah, Jaotodia Michel serta Perdana Menteri, Nikola Taangai.

Dalam Pernyataan tersebut KTT menyatakan bahwa  “KTT menyambut baik pengambilan keputusan Nasional itu dalam rangka keluar dari krisis di Negara tersebut,” dan menyerukan “Dewan Transisi Nasional serta komponen masyarakat lainnya di republik Afrika Tengah untuk terus memantau Bangui dibawah pengawasan Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Tengah, dan Uni Afrika serta mitra Internasional untuk segera menyelesaikan krisis politik di Afrika Tengah,” menurut AFP

Jaotodia adalah presiden Muslim Pertama Republik Afrika Tengah yang akhir-akhir ini menghadapi tekanan agar ia mengundurkan diri dari jabatannya, dimana hal ini disebut-sebut sebagai penyebab terjadinya kekerasan yang terjadi di Negara itu.

Sejak Maret lalu, telah terjadi kericuhan di Afrika Tengah setelah penggulingan Presiden Francois Bozize, yang sudah menjabat selama 10 tahun. Milisi Kristen, dimana diketahui, mereka adalah loyalis dari Bozize, telah melakukan Agresi  terhadap minoritas Muslim dalam usaha mereka untuk menggulingkan kembali Presiden Muslim Pertama di Negara itu. Data terakhir, kekerasan itu telah menewaskan ratusan orang dan sekitar empat ratus ribu orang mengungsi dari total populasi yang berjumlah 4,5 juta orang.

Sumber: eramuslim.com

Sharon, Jejak Darah Pria Bengis

Sharon, Jejak Darah Pria Bengis

Ariel Sharon , mantan  perdana menteri Israel yang alami kondisi koma layaknya mayat hidup selama delapan tahun setelah ia mengalami stroke pada puncak kekuasaannya , meninggal pada hari Sabtu pada usia 85 tahun .

Pria bengis tersebut telah alami  kematian koma bertahun-tahun , menderita stroke  dan pendarahan otak sejak tahun 2006 . Dalam keadaan koma sejak saat itu, Sharon , yang juga dijuluki ” buldoser ” Israel ,  menghadapi kematian , sumber rumah sakit mengatakan karena organ-organ vital mulai gagal .

Dia dipandang di dunia Arab dan Islam sebagai  noda darah .

” Saya ingin Ariel Sharon untuk diingat sebagai tentara  agresif dan  pembenci Arab dan islam yang sering melebihi perintahnya , ” Joel Beinin , seorang profesor yang berbasis sejarah Timur Tengah mengatakan .

Sharon adalah seorang tentara berpangkat  mayor jenderal saat  awal Perang Enam Hari pada tahun 1967 , yang berakhir dengan penguasaan  Semenanjung Sinai oleh Israel .
” Sebagai komandan front selatan setelah perang tahun 1967 , dia secara brutal menekan perlawanan Palestina di Jalur Gaza , mem-buldozer  kamp-kamp pengungsi untuk membuat jalan bagi kendaraan lapis baja dan sejenisnya untuk patroli Israel , ” kata Beinin .

Pada tahun 1971 , Sharon memimpin kampanye untuk menghancurkan perlawanan Palestina di Jalur Gaza.

Dia mengirim tentara Israel sampai ke kota Beirut , tanpa secara eksplisit memberitahu Perdana Menteri Menachem Begin . Langkah ini menjadikan pengusiran milisi PLO dari Lebanon sehingga dengan kekosongan milisi PLO , maka terjadi pembantaian ribuan  wanita dan anak anak  Palestina oleh milisi Kristen Lebanon di dua kamp pengungsi Beirut , Sabra dan Shatila .

Keterlibatan Israel dalam pembantaian Sabra dan Shatila 1982 , memaksa Sharon mengundurkan diri sebagai menteri pertahanan Israel .

” Peran Ariel Sharon  sebagai dalang pembantaian Sabra dan Shatila bagi ribuan  pengungsi wanita dan anak anak Palestina di Beirut pada tahun 1982 tidak akan pernah terlupakan atau diampuni , dan selamanya , ” ujar David Ottaway , seorang sarjana senior di Woodrow Wilson International Center,  koresponden Timur Tengah untuk Washington Post.

Namun , Sharon tetap merupakan tokoh politik penting di Israel , dan sebagai menteri perumahan di awal 1990-an ia memimpin ” pemukiman Yahudi di Tepi Barat dan Gaza sejak Israel menduduki wilayah tersebut pada tahun 1967 , ” BBC melaporkan .

Sharon kemudian menjadi pemimpin partai Likud dalam oposisi setelah kekalahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada pemilu 1999. Kemudian ia menjadi Menteri keuangan Netanyahu , dan menjadi Wakil Perdana Menteri Simon Peres pada tahun 2005 .

Sharon pada tahun 2000 melakukan kunjungan provokatif sebagai menteri luar negeri ke Temple Mount di Yerusalem Timur , memicu kemarahan di kalangan umat Islam dan memicu munculnya  intifada kedua.

” Di dunia Arab dan di antara rakyat Palestina , dia tidak akan pernah dilupakan karena sikap kerasnya terhadap  Palestina tanpa kompromi dan pembicaraan damai , ” kata Ottaway .

Sharon dilaporkan berada dalam semangat tinggi ketika ia meninggalkan partai Likud , dan diharapkan untuk kembali sebagai perdana menteri dalam pemilu yang baru .

Namun, pada Desember 2005 ia lumpuh oleh stroke pertama ,  sebelum mengalami pendarahan otak parah pada 4 Januari 2006 , dan  dia tidak pernah sadar kembali hingga ajal kematiannya pada hari sabtu kemarin.

Sumber: eramuslim.com

Kenapa Calo Dilarang, dan Agen Tidak?

Kenapa Calo Dilarang, dan Agen Tidak?

By : Ahmad Zarkasih, S.Sy.

Mungkin banyak yang bertanya perihal calo secara umum (khususnya calo tiket), dan agen resmi atau sales. Masalahnya muncul karena adanya perbedaan hukum antara praktek kedua, padahal sejatinya apa yang dilakukan keduanya sama saja, yaitu sama-sama menjadi perantara antara penjual dan pembeli.

Namanya saja calo, sudah pasti itu perantara antara penjual (pemilik barang) dengan pembeli. Tapi kenapa calo diharamkan, dan agen resi serta sales atau yang semisalnya tidak diharamkan juga. Kenapa ada perbedaan padahal hakikat keduanya sama.

Jadi pembahasan ini masuk dalam pembahasan tentang prantara dalam jual beli.

Perantara [سمسرة] (Samsarah)

Dalam pembahasan fiqih Muamalah, praktek perantara antara penjual dan pembeli sering disebut dengan istilah Samsarah [سمسرة], sedangkan yang bekerja sebagai perantara disebut dengan istilah Simsaar [سمسار] atau Dallaal [دلال].

Secara bahasa, samsarah mempunyai arti sama dengan praktek dagang. Sedangkan secara istilah, samsarah mempunyai arti sama dengan apa yang dikenal sebagai calo dalam kamus bahasa Indonesia, yaitu; perantara antara penjual dan pembeli.

Imam Ibnu ‘Abdin, ulama besar dari kalangan Hanafiyah dalam Hasyiyah-nya (5/39) mengatakan bahwa samsarah itu ialah:

الَّذِي يَدْخُلُ بَيْنَ البَائِعِ وَالمـُشْتَرِي مَتَوَسِّطاً لإِمْضَاءِ البَيْعِ

“Pihak yang masuk di tengah antara penjual dan pembeli agar terjadi jual-beli”

Maka siapapun orang yang berdiri sebagai perantara antara penjual dan pembeli, ia disebut dalam istilah muamalah sebagai Simsaar. Dan pekerjaan ini bukanlah sesuatu yang diharamkan.

Ini juga pernah dipraktekkan oleh sahabat Úrwah Al-Bariqi yang menjadi perantara antara Nabi shallahu ‘alayh wasallam, yang ketika itu ingin membeli kambing untuk kurban dan memeberikannya satu dinar. Namun dengan  kepintarannya, Urwah berhasil membeli 2 kambing dengna satu dinar lalu menjual satu kambing yang telah dibeli dengan seharga satu dinar. Akhirnya ia kembali kepada Nabi dengan membawa satu kambing dan satu dinar. (HR. Tirmidzi)

Calo = Perantara?

Kalau dilihat dari pengertian yang telah dibahas diatas, agen tiket, travel, sales atau semisalnya itu masuk dalam kategori samsarah, dan itu sah-sah saja, tidak ada yang melanggar syariah. Mereka hanya menjadi perantara penjualan antara penjual dan pembeli, bahkan mereka menjadi perantar resmi yang mendapat stempel resmi dari penjual asli.

Dan secara sekilas pun calo tiket itu juga masuk dalam kegiatan ini, yaitu kegiatan perantara. Lalu kenapa calo dihukumi haram?

Secara sekilas, iya! Tapi sejatinya calo yang ada itu bukanlah calo dalam arti perantara yang dibenarkan dalam syariah. Apa yang dilakukan selama ini oleh calo itu ialah kejahatan [dzulm] dalam jual beli, dan sama sekali tidak masuk dalam kategori samsarah atau perantara, karena memang bukan perantara.

Mereka bukanlah perantara, akan tetapi mereka sejatinya penjual namun dengan harga yang mencekik pembeli, bukan hanya itu, ia juga memborong dan menghabiskan semua tiket, sehingga orang yang butuh tidak punya cara lain kecuali membeli dari calo dan tentu dengan harga yang sudah dilipatgandakan.

Mereka awalnya berkedok sebagai pembeli, lalu menghabiskan semua tiket yang ada, lalu menjualnya dengan harga yang sudah dilipatgandakan. Jadi, sama sekali itu bukan praktel perantara, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh agen-agen travel atau juga sales. Mereka murni menjadi penengah antara penjual dengan pembeli dan tidak ada yang disembunyikan atau juga ditinggikan harganya.

Menimbun [احتكار] (Ihtikar)

Parahnya lagi, mereka ini bukan hanya mencekik pembeli dengan harga yang sangat tinggi melebihi harga normal, calo juga melakukan pelanggaran lainnya, yaitu menimbun barang yang sedang dibutuhkan. Dalam syariah praktek kotor ini disebut dengan istilah Iktikar [احتكار].

Imam Ibnu ‘Abdiin dalam Hasyiyah-nya (3/161) memberikan definisi untuk ihtikar itu sendiri, dan defenisi inilah yang juga disepakati oleh ulama madzhab lain, hanya saja berbeda redaksi:

اشْتِرَاءُ طَعَامٍ وَنَحْوِهِ وَحَبْسُهُ إِلَى الْغَلاءِ

“membeli makanan atau sejenis (barang kebutuhan), dan menimbunnya sampai waktu (harga menjadi) mahal”.

Ulama sepakat atas keharaman peminbunan komoditi yang memang dibutuhkan oleh orang banyak, karena memang praktek menimbun komoditi ini adalah praktek yang dzolim dan sudah barang tentu mempersulit orang banyak.

Dan yang dilakukan oleh calo itu ialah praktek menimbun, mereka memborong semua tiket yang mana status tiket ketika itu ialah komoditi yang urgent dan memang snagat dibutuhkan sekali oleh orang banyak. Dan orang sedang sangat sibuk sekali mencari tiket itu namun tidak ada, yang ada hanya tiket yang sudah diborong oleh para calo, dengan demikian calo menjadi rujukan utama bagi banyak orang dan seenaknya lah mereka menjual dengan harga yang mencekik.

Sebagaimana teori umum dalam ilmu ekonomi, bahwa permintaan yang melonjak tapi barang langka, akan menjadikan barang itu menjadi mahal sekali.

Jadi jelas, bahwa calo bukanlah perantara yang dibolehkan, melainkan ia adalah kejahatan dalam system jual beli. Banyak kerugian yang dihasilkan dari praktek ini, baik itu bagi si penjual asli dan juga pembeli. Karena banyaknya kedzaliman inilah, praktek percaloan itu dilarang.

Calo = Kartel Penjahat

Sejatinya, penamaan calo untuk mereka yang bekerka seperti ini juga tidak sepenuhnya benar. Karena kalau kita buka kamus bahasa Indonesi, kata calo itu berarti perantara antara penjual dan pembeli, yaitu perantara yang baik yang memang itu juga dibenarkan dalam syariah.

Tapi calo yang ada sekarang ini, bukanlah perantara, melainkan lebih dekat kepada prilaku kejahatan yang merugikan banyak orang. Dan system kerja mereka pun tidak individual, melainkan bekerja secara sistemik dan teratur.

Bahkan mereka sudah menjadi kartel dengan sekumpulan orang yang berpraktek sama dengan tujuan mencekik pembeli dan merauo keuntungan sebesar-besarnya.    

Wallahu a’lam

Sumber: rumahfiqih.com

Saturday, 11 January 2014

Ini Dia 5 Tips Keramas yang Tepat

Ini Dia 5 Tips Keramas yang Tepat

Keramas atau mencuci rambut menggunakan sampo adalah rutinitas yang dilakukan setiap orang. Ada yang melakukannya setiap hari, ada pula yang hanya melakukan sekali dalam beberapa hari.

Hanya karena menggunakan sampo adalah telah dilakukan sejak bertahun-tahun lalu, bukan berarti Anda melakukannya dengan tepat. Menurut banyak ahli kesehatan rambut, hingga saat ini orang-orang masih mencuci rambut dengan cara yang salah. Hal ini mungkin disebabkan iklan produk sampo yang seringkali membuat orang bingung.

Untuk itu, berikut lima tips cara keramas yang tepat dilansir dari Huffingtonpost:

1. Pastikan Anda membasahi rambut dengan rata sebelum mengaplikasikan sampo. Selain itu, saat membilas pun Anda harus memastikan membilas sampo hingga benar-benar bersih dari kulit kepala sampai ujung rambut agar tidak menyebabkan ketombe.

2. Hindari menggulung rambut Anda atau mengangkat rambut hingga ke atas kepala saat keramas. Hal ini dapat menyebabkan rambut kusut, sulit disisir hingga rontok.

3. Saat keramas, perlakukan rambut Anda dengan lembut. Gunakan jari tangan untuk memijat kulit kepala secara perlahan.

4. Anda tidak perlu mengaplikasikan sampo dan membilas secara berulang. Cukup satu kali menggunakan sampo dan bilas hingga bersih. Hal ini karena sampo bersifat membersihkan rambut hingga kesat. Jika dilakukan berulang kali maka dapat menyebabkan rambut kering.

5. Keramas setiap hari juga mampu mengakibatkan rambut menjadi kering. Banyak produk sampo yang terbuat dari zat kimia keras sehingga mampu menghilangkan kelembaban rambut. Untuk itu gunakan conditioner setiap habis keramas. Sebenarnya para ahli menyarankan untuk keramas 2-3 kali dalam seminggu untuk mempertahankan minyak yang diproduksi di kulit kepala Anda yang ternyata menyehatkan rambut.

Sumber: viva.co.id

3 Keutamaan Menutupi Aib Saudara Sesama Muslim

3 Keutamaan Menutupi Aib Saudara Sesama Muslim

Diposkan oleh Abu Nida

Islam adalah agama yang sangat indah. Ia mengajarkan umatnya untuk tidak membuka aib orang lain yang hanya akan membuat orang tersebut terhina. Islam memerintahkan umatnya untuk menutupi aib saudaranya sesama muslim. Dan bagi mereka yang mau menutupi aib saudaranya tersebut, ada 3 keutamaan yang bisa ia dapatkan sebagaimana hadits-hadits berikut ini:

1. Allah akan menutupi aibnya di akhirat kelak

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak." (HR. Muslim)

مَنْ سَتَرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فِي الدُّنْيَا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa menutupi (aib) saudaranya sesama muslim di dunia, Allah menutupi (aib) nya pada hari kiamat." (HR. Ahmad)

Sebaliknya, siapa yang mengumbar aib saudaranya, Allah akan membuka aibnya hingga aib rumah tangganya.

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ كَشَفَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ
"Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya." (HR. Ibnu Majah)

2. Allah juga menutupi aibnya di dunia ini

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
"Barang Siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat." (HR. Ibnu Majah)

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
"Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya." (HR. Tirmidzi)

3. Keutamaan menutup aib saudara seperti menghidupkan bayi yang dikubur hidu-hidup

مَنْ رَأَى عَوْرَةً فَسَتَرَهَا كَانَ كَمَنْ أَحْيَا مَوْءُودَةً
"Siapa melihat aurat (aib orang lain) lalu menutupinya, maka seakan-akan ia menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup." (HR. Abu Daud)

مَنْ رَأَى عَوْرَةً فَسَتَرَهَا كَانَ كَمَنْ اسْتَحْيَا مَوْءُودَةً مِنْ قَبْرِهَا
"Barangsiapa melihat aurat lalu ia menutupinya maka seolah-oleh ia telah menghidupkan kembali Mau`udah dari kuburnya." (HR. Ahmad)

مَنْ سَتَرَ مُؤْمِنًا كَانَ كَمَنْ أَحْيَا مَوْءُودَةً مِنْ قَبْرِهَا
"Barangsiapa menutupi aib seorang mukmin maka ia seperti seorang yang menghidupkan kembali Mau`udah dari kuburnya." (HR. Ahmad)

Wallahu a'lam bish shawab.

Sumber: bersamadakwah.com

Kisah Wanita Cantik yang Membuat Kagum Para Ulama

Kisah Wanita Cantik yang Membuat Kagum Para Ulama

Diposkan oleh Abu Nida

Ketika menelusuri sebuah jalan di kota Bashrah, Al Atabi melihat seorang wanita yang sangat cantik sedang bersendau gurau dengan seorang lelaki tua buruk rupa. Setiap kali wanita itu berbisik, laki-laki tersebut pun tertawa.

Al Atabi yang penasaran kemudian memberanikan diri bertanya kepada wanita itu. “Siapa laki-laki tersebut?”
“Dia suamiku”

“Kamu ini cantik dan menawan, bagaimana kamu dapat bersabar dengan suami yang jelek seperti itu? Sungguh, ini adalah sesuatu yang mengherankan” Al Atabi meneruskan pertanyannya.
“Barangkali karena mendapatkan wanita sepertiku, maka ia bersyukur. Dan aku mendapatkan suami seperti dirinya, maka aku bersabar. Bukankah orang yang sabar dan syukur adalah termasuk penghuni surga? Tidak pantaskah aku bersyukur kepada Allah atas karunia ini?”

Al Atabi kemudian meninggalkan wanita itu disertai kekaguman. Ulama Al Azhar, Dr Mustafa Murad, juga kagum dengan wanita itu sehingga memasukkan kisah ini dalam bukunya Qashashush Shaalihiin. Kedua ulama tersebut tidaklah kagum kepada wanita itu karena kecantikannya. Mereka kagum karena agamanya.

Dan benarlah pesan Rasulullah: “Wanita itu dinikahi karena empat hal; karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wanita yang baik agamanya, ketika ia kaya, ia tidak sombong. Ia justru dermawan, suka berinfaq dan mendukung perjuangan dakwah suami dengan hartanya.

Wanita yang baik agamanya, ketika ia memiliki kedudukan tinggi dan nasab yang mulia, ia tidak menghina orang lain. Ia justru menjadi wanita yang mulia dan menggunakan kedudukannya untuk membela kebenaran.

Wanita yang baik agamanya, ketika ia cantik, ia tidak membuat suaminya resah. Ia justru menjadi penghibur hati dan penyejuk mata bagi suaminya tercinta. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

Sumber: bersamadakwah.com

Contact

Address:

Jl. Batin Kyai, Labuhan Ratu Satu, Way Jepara, Lampung Timur 34196

Work Time:

Monday - Friday from 7am to 4pm and Saturday from 7am to 11am

Phone:

0852 6700 5252