Penyebab Seseorang Lupakan Akhirat

KEMILAU dunia telah membuat seseorang terlena. Inilah salah satu penyebab yang paling kuat, yang menyebabkan manusia lupa untuk memikirkan akhirat. Kebanyakan mereka lebih terpokus untuk mengejar keindahan dunia yang hanya bersifat sementara. Dunia benar-benar telah menipu diri kita, hingga kita tak kuasa menolak rayuannya.

Sesungguhnya kehidupan akhirat tak dapat dibandingkan dengan kehidupan di dunia ini. Kita ibarat seorang musafir yang melakukan perjalanan jauh kemudian berteduh sejenak di bawah pohon. Apabila rasa penat telah berkurang, kita akan melanjutkan perjalanan lagi dan meninggalkan pohon tempat kita berteduh untuk selama-lamanya. Itulah dunia yang hanya sebentar.

Sekalipun sebentar, fitnah dunia membuat manusia lupa akan hakikat sebenarnya mengenai persinggahan singkat itu. Banyak manusia lupa dan terpesona akan kenikmatan tempat berteduh itu. Banyak dari mereka terlena sehingga lupa akan tujuan akhir mereka yang hendak mereka capai.

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi,” (QS. Al A’laa 16).

Seharusnya kita sadar akan sedikitnya waktu yang diberikan Allah untuk duduk sejenak sekedar melepas lelah di atas permadani dunia ini. Jika waktu itu telah habis maka mau tidak mau kita harus melanjutkan perjalanan panjang demi meraih tujuan hakiki kita yaitu akhirat. Hanya Allah yang tau kapan waktu itu berakhir. Kewajiban kita didunia hanyalah mencari sebaik-baik bekal guna melanjutkan perjalanan panjang kita. Dan tentang segala keduniawian yang kita usahakan, tidak akan pernah kita bawa dalam perjalanan panjang itu kecuali jika kita belanjakan di jalan Allah.

Lalu apakah akan kita isi kantung-kantung kita dengan perhiasan-perhiasan dunia hingga kita tak sanggup membawanya ataukah kita isi kantung-kantung kita dengan bekal amal taat yang akan setia menemani kita ke arah jalan yang benar sehingga kita selamat sampai tujuan yaitu negeri akhirat yang kita impikan. Semua itu hanyalah pilihan, apakah kita serahkan mata hati kita untuk memilih ataukah sebaliknya, nafsu yang akan memilih.

Adapun manusia yang lalai, mereka akan menyesal terhadap apa yang diusahakannya. Mereka tersadar bahwa kesenangan yang mereka raih di dunia tidak akan menolong mereka dari adzab Allah yang ditimpakan kepada mereka. Mereka akan lupa kenikmatan-kenikmatan dunia yang pernah mereka rasakan karena begitu beratnya siksa yang harus mereka tanggung di akhirat. Anas meriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa,

”Dihadapkan orang yang paling merasakan kenikmatan di dunia dari ahli neraka, lalu ia dicelupkan ke neraka sekali celup. Kemudian ditanyakan kepadanya. ‘Wahai anak Adam, apakah kamu melihat satu kebaikan pun? Apakah telah berlalu di hadapanmu satu kenikmatan pun?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Robb.’ Lalu dihadapkan orang yang paling menderita di dunia dari ahli surga. Ia dicelupkan sekali celupan di surga dan ditanyakan padanya, ‘Apakah kamu melihat suatu penderitaan pun? Apakah pernah lewat di hadapanmu suatu penderitaan pun?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Robb, tidak pernah lewat di hadapanku suatu penderitaan pun, dan aku tidak pernah melihat suatu kesusahan pun’.” (HR. Muslim).

Demikianlah penderitaan orang-orang yang lalai ketika berada di dunia. Penyesalan mereka pun tidak dapat menolong mereka lepas dari siksaan yang ditimpakan Allah kepada mereka.

Sadarilah bahwa cinta kepada dunia itu membutakan mata hati kita. Sebagian ahli hikmah berpendapat, cinta dunia mengakibatkan empat kerugian, yaitu di dalam hati akan timbul keragu-raguan terus-menerus, selalu merasa kekurangan, selalu direpotkan/ disibukkan berbagai masalah, dan selalu diganggu dengan keinginan-keinginan yang tiada henti. [rika/islampos/lilmessenger]

Redaktur: Rika Rahmawati

Subscribe to receive free email updates: