Menakar Spiritualitas Kader

Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah pernah didiktekan gurunya Abdullah Ibnul Mubarak Rahimahullah sebuah bait syair yang ditujukan kepada murid beliau yang berada di Mekkah, Fudhail bin Iyadh Rahimahullah. Kejadian itu terjadi sekitar tahun 170 Hijriyah.

Di antara isi syair itu adalah:

“Wahai ahli ibadah dua tanah suci Makkah dan Madinah
Andai engkau melihat kami
Niscaya engkau menyadari
Bahwa ibadahmu hanya main-main tiada arti
Kau basahi pipimu dengan butir air mata tangis
Sementara leher kami dilumuri dengan darah suci
Kudamu letih dalam kebatilan
Sedang kuda kami kelelahan di hari pertempuran
Aroma wangi menyelimutimu
Adapun wewangian kami
Tombak-tombak dan debu-debu perang lebih harum
Telah datang kepada kami ucapan Nabi Mulia
Yang selalu benar tiada pernah dusta
Bahwa letupan debu dari telapak kuda fisabilillah
Mengalahkan api neraka yang menyala-nyala
Inilah kitabullah yang pasti benarnya
Dihadapan kita ia bicara
Bahwa sang syahid itu tidaklah mati”

Ketika surat yang berisi syair itu diterima Fudhail yang sedang berada di Masjidil Haram, ia pun membacanya dengan begitu serius. Fudhail tak kuasa menahan linangan air matanya. Ia pun berujar terisak-isak, “Duhai Abu Abdirrahman engkau memang benar. Ia telah menasihatiku….”

Fudhailpun berkata kepada Muhammad bin Ibrahim, “Tulislah hadits berikut ini, sebagai balasan terhadap jerih payahmu yang telah membawa tulisan Abu Abdirrahman kepada kami.”

Dan Fudhail pun mendiktekan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA., dia berkata,“Seseorang bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah SAW., ajarkan kepadaku suatu ibadah yang pahalanya bisa menyamai pahala orang-orang yang berjihad di jalan Allah.”
Rasulullah SAW. menjawab, “Mampukah kamu menunaikan shalat kemudian tidak berbohong, mampukah kamu berpuasa dan tidak membatalkannya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah SAW., aku tak sanggup untuk menjalankan itu semua.”

Kemudian, Nabi SAW. bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam kekuasaan-Nya, seandainya kamu mampu menjalani hal di atas, sungguh kamu tidak akan bisa menyamai keutamaan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, karena ketahuilah bahwa kuda yang dipakai untuk berjihad saja, maka akan ditulis dengan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sejatinya kader dakwah adalah orang yang memiliki orientasi hidup jelas, punya daya untuk memikul beban dan pada waktu yang sama memiliki energi untuk melawan, menghadapi semua tantangan dakwah.

Proses Tarbiyah yang utuh akan membentuk pribadi shalih dalam semua aspeknya sehingga memancar kuat energinya. Kemudian menjadi pribadi yang kuat memikul beban dirinya dan mampu menanggung resiko dakwah yang berat. Bahkan memiliki kekuatan energi untuk melawan musuh-musuh dakwah.

Sesungguhnya zaman telah mengajarkan bahwa suplai tarbiyah melalui penguatan ruhiyah bukanlah melahirkan kader yang hanya menikmati ibadah mahdhohnya namun sepi dan sunyi dari aktifitas, produktifitas dan kontribusi perjuangan.

Proses pembentukan pribadi yang tidak utuh hanya akan menghadirkan kader yang sebatas menikmati asyiknya ibadah perseorangan, berbakti kepada orang tua, memenuhi kewajiban suami isteri dan anak, serta melaksanakan amal tarbawi pekanan.

Namun saat ada tekanan, ujian, musibah, atau bahaya, dia tidak kuat menghadapinya. Malah lebih memilih menghindar. Bahkan mundur dari gelanggang dakwah hanya karena mendapat “turbulensi” yang dia sendiri tidak pernah melihat dan mengetahui langsung persoalan sebenarnya.

Proses tarbiyah yang kita jalani semestinya menggerakkan denyut nadi dan syaraf perjuangan serta pembelaan terhadap dakwah ini. Bukan keasyikan dengan ibadah individualnya. Semoga Allah SWT. menguatkan kemampuan kita mewujudkan ahdaf tarbiyah ini.

(Dari Taujih Ust DH Al Yusni)

Subscribe to receive free email updates: