Islamic Full Day and Boarding School

Program Unggulan: Full Day Reguler - Fokus akademik. Boarding Reguler - Fokus akademik dan diniyah. Boarding Takhasus - Fokus menghafal Al-Quran 30 juz.

Daftar Online Tentang Kami Simulasi Test Soal Test Tahfizh Siswa Reguler Tahfizh Siswa Takhasus

Informasi Terbaru

Wednesday, 25 February 2015

Tadabbur Ayat: MENJADI ORANG YANG DIRAHMATI

Tadabbur Ayat: MENJADI ORANG YANG DIRAHMATI


Oleh: Kris Hartanti, S.Kom

Setiap mukmin yang sejati tentu mengidamkan sebuah karunia yang besar, karunia yang dengannya Allah SWT memasukkannya ke surga. Nikmat yang diberikan kepada orang-orang yang imannya menghujam bak akar yang menopang pohon besar. Nikmat tersebut adalah "rahmat Allah SWT". Dalam surat At-Taubah ayat 71 Allah SWT memberikan penegasan tentang siapa yang akan mendapat rahmat.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar. Melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Maha perkasa, Maha bijaksana.

Ada 5 syarat yang harus dilakukan seseorang yang mengharapkan rahmat:

1. Beriman
Iman adalah kunci utama dan menjadi kewajiban yang tidak dapat ditawar-tawar oleh kita. Dan ini merupakan penentu nilai suatu amal yang kita lakukan. Sesempurna dan sebanyak apapun amal kita akan sia-sia tanpa iman. Bahkan Allah SWT menggambarkan amal seseorang yang tidak beriman ibarat debu di atas batu yang hilang tersapu hujan kekafiran. Segala jerih payahnya tak akan mendapat balasan apapun dari Allah SWT, apalagi rahmat-Nya.

2. Saling menolong
Allah menyeru kepada orang-orang beriman untuk memiliki jiwa kepedulian yang kuat terhadap saudaranya. Dan sesama muslim adalah saudara, seperti yang diterangkan dalam surat Al Hujurat ayat 10.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."

Dan Allah SWT menjelaskan lebih spesifik tentang kewajiban kita untuk saling tolong-menolong terhadap saudara kita di atas. Dalam surat Al-Maidah ayat 2 Allah SWT berfirman.

...وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."

Orang-orang beriman mempunyai visi yang sama dalam kehidupannya, yaitu menjadi hamba bertakwa yang mengharap ridho dan rahmat-Nya. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita saling membantu untuk segera mencapai target tersebut.

3. Amar ma'ruf nahyi mungkar
Kelanjutan dari sikap tolong-menolong dalam ketakwaan adalah dengan senantiasa mengajak kepada kebaikan dan mencegah saudara kita dari yang tidak baik. Dan ini adalah buah dari keimanan. Kita tidak cukup hanya menjadi shalih akan tetapi harus menjadi mushlih (menshalihkan orang lain), agar tercipta masyarakat beriman yang madani. Dan amar ma'ruf nahyi mungkar dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti yang disabdakan rasulullah SAW.

عن أبي سعيد الخدري – رضي الله عنه – قال : قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول - من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه و ذلك أضعف الإيمان - رواه مسلم

Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : “Barang siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya) ; jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya) ; dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju) , dan demikian itu adalah selemah-lemah iman”. (HR. Muslim no. 49)

Hadits di atas mengisyaratkan kepada kita untuk tidak hanya sekedar melakukan amar ma'ruf dan nahyi mungkar, tapi kita juga harus melakukannya dengan metode yang tepat dan baik.

4. Mendirikan shalat dan menuaikan zakat
Shalat ibarat tiang pancang dari sebuah bangunan iman, apabila kokoh tiangnya maka kokoh pula bangunan iman tersebut. Namun apabila rapuh, bahkan roboh maka kita sudah tau bagaimana kondisi sebuah bangunan tanpa tiang. Begitu juga zakat, ia merupakan satu bentuk kepedulian seorrang mukmin terhadap mukmin lainnya. Allah ingin mendidik kepekaan sosial kita melalui zakatt dan sedekah.

Mengapa Allah SWT selalu menggabungkan antara mendirikan shalat dan menunaikan zakat dalam firman-firman-Nya? Karena kedua hal ini merupakan satu simbol hablumminallah dan hablumminannas. Seorang mukmin yang baik adalah yang baik hubungannya kepada Allah SWT dan juga kepada sesama manusia yg keduanya tidak dapat dipisahkan.

5. Mentaati Allah SWT dan rasul-Nya
Poin ini adalah puncak ketundukan dan kepasrahaan seseorang yang menyatakan imannya kepada Allah SWT. Imam syafii mendefinisikan iman dalam tiga perbuatan: Membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisannya, dan berbuat dengan seluruh jiwa dan raganya. Dan implementasi dari semua itu adalah mentaati semua apa yang diperintahkan Allah SWT.

Allah SWT memerintahkan kita untuk masuk kedalam Islam secara utuh, Firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 208.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu."

Seorang muslim tidak akan dikatakan muslim sempurna jika didalam.hatinya masih ada keengganan untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya serta masih pilih-pilih dalam menjalankan syariiat.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita semua 5 hal di atas sehingga kita diberi rahmat dan disediakan surga, Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 72

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.

Wallahu a'lam.

Monday, 23 February 2015

5 Strategi Panglima Shalāhuddin Al-Ayyubi menghadapi kaum Syiah

5 Strategi Panglima Shalāhuddin Al-Ayyubi menghadapi kaum Syiah

Oleh : Mahmud Budi Setiawan, Lc
Peserta PKU VIII UNIDA Gontor 2014

(Arrahmah.com) – Sebagian orang mengenal namanya Shalahuddin Al-Ayyubi. Dalam bahasa Kurdi, ia dikenal sebagai Silhedine Eyubi, dan dalam dalam bahasa Parsina ia dikenal sebagai Selahuddin Eyyubi. Lahir pada 1137 atau 1138 Hijrah di Kurdi (Iraq), Shalahuddil Al-Ayyubi dikenal sebagai seorang anak bangsawan di mana ayahnya, Najm Ad-Din Ayyub adalah seorang gubernur atau penguasa di wilayah Baalbeak.

Ia mendapat latihan kemiliteran dari pamannya Asad Ad-din Shirkuh, seorang panglima perang untuk Nur Al-Din. Sebagai Pembebas Al-Quds, Palestina, dari cengkraman Pasukan Salib, banyak sisi menarik yang bisa diulas dari sosok kelahiran Kurdi ini. Salah satu contoh -tanpa mengurangi prestasi yang lain-, ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pembebasan Mesir dari Daulah tirani Syiah Fathimiah (909–1171M).

Dalam sejarah (baca: Siyaru A’lām al-Nubalā’, karya Ad-Dzahabi, juz. 21, hal. 279) disebutkan bahwa ia bersama pamannya, Asad Ad-Dīn Shīrkūh, diutus Nuruddin Mahmud Zanki untuk membersihkan Mesir dari hegemoni Syiah Fathimiyah. Melalui peristiwa tersebut, pada tulisan ini akan dipaparkan secara ringkas bagaimana sikap Shalahuddin Al-Ayyubi terhadap Syiah.

Sebagai pijakan pada masalah ini, terlebih dahulu diceritakan secara kronologis peristiwa pra-pembebasan Mesir. Sebelum menguasai Mesir, Daulah Fathimiyah (Ubaidiyah) sudah berkuasa di daerah Maghrib (sekarang Maroko, Tunisia, Libya).

Selama berkuasa, mereka melakukan tindakan-tindakan yang sangat meresahkan. Di antaranya: sikap ghuluw (berlebihan) para da’i terhadap Ubaidillah Al-Mahdi (yang dianggap Nabi, bahkan Tuhan), berlaku dzalim terhadap orang Sunni, mengeksekusi setiap yang bersebrangan dengan pendapatnya, guru-guru Sunni dilarang mengajar, mencurigai dan melarang berbagai bentuk perkumpulan, melenyapkan karangan Ahlus Sunnah, membekukan beberapa syari’at, dan tindakan anarkis lainnya (baca:Shalāhuddīn al-Ayyūbi wa Juhūduhu fi al-Qadhā ‘alā al-Daulah al-Fāthimiyah wa Tahrīru Baiti al-Maqdis, karya Syeikh Muhammad Shallābi).

Tak hanya itu, Syiah kerap kali membuat onar, merusak akidah umat, bahkan memecah-belah mereka. Ternyata, ketika menjadi penguasa di Mesir, tindakan mereka tak berbeda jauh dari sebelumnya. Inilah beberapa faktor yang mendesak Nuruddin Mahmud Zanki membebaskan Mesir dari pengaruh Syiah. Hal itu sangat logis karena kala itu Syiah ibarat ‘duri dalam daging’. Misi pembebasan Al-Quds, akan senantiasa terhalang jika sekte ini tidak dibersihkan terlebih dahulu.

Momen yang ditunggu pun tiba. Shawar bin Mujīr Al-Sa’adi -yang dimakzulkan secara paksa dari kursi kepemimpinan- lari ke Damaskus meminta bantuan Nuruddin Zanki. Ia berjanji -kalau kembali memimpin- akan menjadi wakilnya di Mesir. Tak tanggung-tanggung, ia siap memberikan sepertiga pendapatan Mesir pertahun kepadanya.

Untuk mengemban misi besar ini, diutuslah Asad Ad-Dīn Shīrkūh, bersama Shalahuddin Al-Ayyubi. Singkat cerita, penguasa baru Mesir (Dhorghom bin Tsa’labah yang bekerjasama dengan Raja Amauri I) bisa dikalahkan. Setelah kembali berkuasa, ternyata watak asli Shawar tampak. Ia ingkar janji, memperlakukan tentara dengan tidak baik, bahkan mengusir Asad Ad-Dīn dan Shalahuddin beserta rombongannya.

Seperti inilah sikap Syiah di sepanjang sejarah. Ketika mereka dalam kondisi tertindas, lemah, mereka akan menjilat dan pura-pura bersahabat, namun ketika kuat, mereka akan bertindak semena-mena terhadap orang yang tak sependapat.

Pada ekspedisi awal ini, Asad Ad-Dīn gagal dalam membebaskan Mesir. Ia bersama Shalahuddin baru sukses menumbangkan Shawar pada ekspedisi militer ketiga (564H/1169M). Dengan segera, diangkatlah Asad ad-Dīn menjadi pemimpin. Tak lama setelah itu (2 bulan 15 hari), ia pun meninggal dan digantikan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi.

Selama menjadi pemimpin, Shalahuddin melakukan beberapa kebijakan. Di antaranya adalah sikapnya terhadap kelompok Syiah. Shalahuddin tentulah seorang Sunni fanatik dan bermazhab Syafi’i. Tatkala berhasil merebut kekuasaan di Mesir, Shalahuddin berusaha keras untuk menyebarkan mazhab ini dan menjadikanya sebagai mazhab resmi menggantikan mazhab Syiah.

Ia juga berlaku tegas dengan tidak mempekerjakan prajurit Syiah di Mesir. Shalahuddin juga memerangi dan melawan ajaran-ajaran serta simbol-simbol mazhab Syiah, mengisolir ulama Syiah bahkan menghentikan ibadah-ibadah Syiah. Di antaranya adalah perayaan Asyura. Ungkapan “Hayya ‘ala Khair al-‘Amal” yang merupakan salah satu syiar mazhab Syiah juga dihapus dari azan. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 10 Dzulhijjah 565 ini dicatat juga dicatat kaum Syiah dalam kitab”Wadhiyyat-e Syi’ahyân Meshr dar ‘Ashr Shalâhuddin Ayyûbi”.

Untuk mengliminir Syiah, panglima yang dikenal sebagai Pembebas Baitul Maqdis atau Masjid al-Aqsha ini menginstruksikan supaya nama-nama para khalifah rasyidun yang merupakan simbol Ahlus Sunnah disebutkan dalam setiap khutbah. Juga pergantian hakim-hakim yang berasal dari Syiah dan menempatkan hakim-hakim bermazhab Syafi’i sebagai mengganti hakim Syi’ah agar fikih Syafi’i dijalankan di tengah masyarakat Mesir.

Shalahuddin sangat menentang orang-orang Syiah Mesir dan dengan menghancurkan simbol-simbol dan syiar-syiar Syiah, ia berusaha memberangus Syiah hingga ke akar-akarnya. Karena itu ia berusaha keras menyebarkan fikih Syafi’i dan menyebarluaskan mazhab Syafi’I sebagai ganti mazhab Syiah Ismaliyyah.

Selama berkuasa, setidaknya ada lima sikap Shalahuddin Al Ayyubi menghadapi kaum Syiah:

Pertama, meskipun ia tidak setuju dengan ideologi Syiah, tapi tetap berupaya memberi penyadaran, bahkan ia masih menggunakan cara-cara penuh hikmah (baca: al-nawādir al-sulthāniyah wa al-mahāsin al-yusufiyah, karya: Ibnu Syaddād).

Kedua, ia tidak mengubah Daulah Fathimiyah secara langsung, namun bertahap.

Ketiga, mengubah dengan cara persuasif melalui dialog intensif berdasarkan hujjah yang kuat.

Keempat, mendirikan dan memperbanyak madrasah-madrasah Sunni, sebagai upaya konkrit strategis untuk mengubah pandangan yang rusak.

Kelima, ketika mereka melakukan kudeta (seperti yang dilancarkan Umārah bin Ali), maka Shalahuddin menindaknya dengan tegas.

Akibat sikap tegas Shalahuddin ini, orang-orang Syiah sangat membenci panglima Islam yang ditakuti Barat sepenjang sejarah ini. Kaum Syiah bahkan tak pernah lupa bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi adalah sosok yang dianggap melenyapkan Daulah Fathimiyah (kerajaan Syiah) di Mesir karena memberikan tempat bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tak heran, banyak usaha-usaha membunuh Shalahuddin Al Ayyubi.

Dari pengalaman sejarah Shalahuddin tersebut, ada banyak pelajaran yang berharga yang bisa dijadikan acuan dalam menyikapi Syiah:

Pertama, sebagai muslim kita harus tetap waspada terhadap Syiah. Di sepanjang sejarah, mereka kerap kali melakukan makar, kebohongan dan pemecahbelahan umat.

Kedua, persatuan antara Sunni dan Syiah sangat sulit –kalau tidak boleh dikatakan mustahil- diwujudkan. Di samping karena ideologi berbeda, mereka juga punya prinsipkitmān (menyembunyikan identitas) dantaqiyah (secara lahir mendukung, sedangkan batin memusuhi) (lihat: Ushulul-Kāfi, karya al-Kulaini, hal. 282,485).

Ketiga, mengubah dengan cara-cara persuasif dan bertahap.

Keempat, membuat langkah konkrit dengan mendirikan lembaga keilmuan sebagai benteng dari pengaruh ajaran Syiah, serta memperkuat basis keislaman dari berbagai aspeknya.

Kelima, mengonsolidasikan persatuan umat Islam, serta kaderisasi ulama.

Wallahu a’lam bi al-shawāb.

(jendelaalqur’an/arrahmah.com)

http://m.arrahmah.com/news/2015/02/19/5-strategi-panglima-shalahuddin-al-ayyubi-terhadap-syiah.html

Hafidzah Balita Meninggal Saat Muraja'ah An-Naba

Hafidzah Balita Meninggal Saat Muraja'ah An-Naba


Sarah Haya Nada ‘Ul Matin, balita usia 3,5 tahun tiba-tiba kejang saat sedang ngaji dan setor hapalan Quran di depan ummi dan abahnya. Badan dan lidahnya membiru serta muntah busa. Segera saja anak pasangan Agus Jamaluddin dan Bunda Dhimasy ini dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Hingga tiga hari kondisinya belum membaik.

Sarah dinyatakan terkena kerusakan selaput otak dan lambungnya mengalami pendarahan serta mengalami demam yang sangat tinggi. Kondisi ini tiba-tiba saja datangnya karena sebelumnya Sarah adalah balita yang ceria dan lincah. Ia memang menderita demam biasa dan masih bisa bermain bersama dengan teman-temannya.

Sabtu dini hari Sarah sempat siuman dan memanggil umminya. Bahkan di tengah sakitnya pun Sarah masih melantunkan Quran surat An-Naba hingga 12 ayat. Tepat usai membaca ayat 12, Sarah berhenti karena saat itu juga napasnya berhenti. Allah memanggilnya dalam kondisi sedang menghapal Qur’an. Masya Allah, indahnya.

Kejadian itu sekitar pukul 3.10 WIB, Sarah meninggal ketika sedang mengulang hapalan Quran surat an-Naba. Anak sekecil itu sudah begitu mencintai Quran. Sarah ini adalah adik dari kembar tiga yaitu Abdul Hannan Jamaluddin, Abdul Mannan Jamaluddin, Abdul Ihsan Jamaluddin yang juga hafidz Quran.

Allah begitu mencintai Sarah sehingga tak dibiarkan terlalu lama menanggung rasa sakit itu. Betapa bahagianya yang menjadi orang tua dari hafidzah kecil beserta saudara-saudaranya. Karena saat ini, Sarah sedang menunggu mereka di surga, insya Allah.

Bila Sarah kecil saja meninggal dengan begitu indah dalam menjaga kalam Allah, lalu bagaimana kita nanti ketika dipanggil menghadapNya? Masya Allah, semoga khusnul khatimah menjadi akhir perjalanan hidup orang-orang mukmin. Wallahu alam. (riafariana/voa-islam.com)

Contact

Address:

Jl. Batin Kyai, Labuhan Ratu Satu, Way Jepara, Lampung Timur 34196

Work Time:

Monday - Friday from 7am to 4pm and Saturday from 7am to 11am

Phone:

0852 6700 5252