Islamic Full Day and Boarding School

Program Unggulan: Full Day Reguler - Fokus akademik. Boarding Reguler - Fokus akademik dan diniyah. Boarding Takhasus - Fokus menghafal Al-Quran 30 juz.

Daftar Online Tentang Kami Simulasi Test Soal Test Tahfizh Siswa Reguler Tahfizh Siswa Takhasus

Informasi Terbaru

Sunday, 31 December 2017

Hubungan Antara Prioritas dan Pertimbangan #2

Hubungan Antara Prioritas dan Pertimbangan #2

Hasil gambar untuk pertimbangan

By: Slamet Setiawan | www.ayobuka.id

Pada materi sebelumnya saya sudah membahas tentang kondisi masyarakat masa kini yang kehilangan prioritas hampir dalam semua bidang dan solusinya [lihat www.ayobuka.id]. Dalam menyimpulkan suatu prioritas yang harus kita ambil tentu memerlukan sebuah pertimbangan yang benar. Dan pertimbangan yang baik itu tidak bisa kita lakukan sembarangan, karena ijtihad akan bernilai dua kebaikan jika benar dan satu jika salah adalah ijtihad yang dilakukan dengan pertimbangan yang baik, yang sesuai dengan tata aturan yang telah Allah swt tetapkan.

Oleh karena itu para fuqaha telah merumuskan bahasan fiqih pertimbangan. Peran terpenting yang dapat dilakukan oleh fiqih pertimbangan ini ialah sebagai berikut:
1. Memberikan pertimbangan antara berbagai kemaslahatan dan manfaat dari berbagai kebaikan yang disyariatkan.
2. Memberikan pertimbangan antara berbagai kerusakan dan mudharat yang dilarang agama.
3. Memberikan pertimbangan antara berbagai maslahat dan mudharat apabila keduanya bertemu.

Dalam kategori kemaslahatan, Islam telah menetapkan bahwa kemaslahatan ada beberapa tingkatan, dimulai dari yang paling utama adalah dharuriyat, hajjiyat, dan tahsinat. Dharuriyat adalah sesuatu yang kita tidak bisa hidup tanpanya. Hajjiyat adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan, akan tetapi jika hal tersebut tidak ada kita tetap bisa hidup. Sedangkan tahsinat adalah pelengkap dalam menjalani kehidupan.

Pada gilirannya fiqih pertimbangan mengawal fiqih prioritas dan mengharuskan kita melakukan dua hal:
1. Mendahulukan dharuriyat daripada hajjiyat dan tahsinat.
2. Mendahulukan hajjiyat daripada tahsinat dan kamaliyat (penyempurna).

Dalam memberikan pertimbangan terhadap sesuatu yang prioritas ada beberapa prinsip yang harus kita perhatikan, yaitu:
1. Mendahulukan kepentingan yang pasti daripada yang belum pasti.
2. Mendahulukan kepentingan yang besar daripada yang kecil.
3. Mendahulukan kepentingan sosial daripada individu.
4. Mendahulukan kepentingan orang banyak daripada yang sedikit.
5. Mendahulukan kepentingan yang berkesinambungan daripada yang hanya insidental.
6. Mendahulukan kepentingan fundamental daripada yang sekedar formalitas.
7. Mendahulukan kepentingan jangka panjang daripada kepentingan jangka pendek.

Pada bagian kedua (kerusakan dan mudharat) kita dapat menemukan bahwa hal tersebut pun mempunyai tingakatan. Menyikapi kerusakan yang dapat merusak dharuriyat berbeda dengan kerusakan yang merusak hajjiyat dan tahsinat.

Para fuqaha telah menetapkan tingkatan volume, intensitas dan bahaya yang ditimbulkan dari kerusakan-kerusakan tersebut dengan enam kaidah berikut:
1. Tidak ada bahaya dan tidak boleh membahayakan.
2. Sedapat mungkin harus menyingkirkan bahaya.
3. Tidak boleh menyingkirkan bahaya dengan bahaya yang sepadan atau yang lebih besar.
4. Bahaya yang lebih ringan boleh dipilih saat dihadapkan dua bahaya.
5. Bahaya yang lebih ringan boleh dipilih untuk mencegah bahaya yang lebih besar.
6. Bahaya yang bersifat khusus boleh diambil untuk mencegah bahaya yang lebih luas.

Selanjutnya bagaimana jika ada maslahat dan kerusakan bertemu? Al Quran memberi contoh pada masalah ini saat membahas khamr dan maisir. Allah swt berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’” (QS. Al Baqarah: 219)

Dalam hal ini ada kaidah, “Menolak kerusakan harus didahulukan atas pengambilan manfaat.” Yang selanjutnya disempurnakan dengan kaidah, “Kerusakan yang kecil diampuni untuk memperoleh kemaslahatan yang lebih besar.” Dan “Kerusakan yang bersifat sementara lebih diampuni demi kemaslahatan yang berkesinambungan.” Terakhir, “Kemaslahatan yang sudah pasti tidak boleh ditinggalkan hanya karena adanya kerusakan yang baru diduga.”

Allah swt telah memberi manusia akal sebagai modal untuk menentukan maslahat dan mudharat. Akan tetapi jika kemaslahatan tersebut berkaitan dengan kemaslahatan akhirat atau keduniaan yang telah ditetapkan agama, maka kita wajib menggunakan dalil sebagai timbangan.

Jika penolakan terhadap keburukan tidak dapat dilakukan, pengambilan terhadap kebaikan juga tidak dapat dilakukan sehingga tingkat keburukan dan kebaikan berada pada satu titik yang sama. Maka ia harus mengambil keputusan. Jika tidak ada perbedaannya, ia harus memilih pertimbangan yang lebih berat. Di posisi inilah nilai ijtihad bernilai dua kebaikan jika tepat dan satu kebaikan jika salah. Wallahu a’lam.


Ganjar Asri, 31/12/2017 | 19.17 WIB

Wednesday, 27 December 2017

Prioritas yang Hilang #1

Prioritas yang Hilang #1


By: Slamet Setiawan | ayobuka.id

Judul di atas menurut saya cukup menggambarkan kondisi umat saat ini, dimana kebanyakan muslim mulai kehilangan “rasa” untuk membedakan skala prioritas yang harus dilakukan. Sehingga yang terjadi adalah kekacauan, baik level individu maupun keumatan.

Kita lihat contoh misal anak muda jaman sekarang lebih serius dan perhatian terhadap olah raga daripada olah pikiran dan rohaninya. Mereka lebih suka mendalami kemampuan ototnya namun melupakan asupan pengetahuan dan keimanannya. Contoh lain adalah masih banyaknya orang yang lebih banyak waktunya membahas dan berdebat masalah furu’iyah, yang sebetulnya tidak ada yang salah pada keduanya. Karena masing-masing punya dasar/mazhab yang shahih. Sehingga dengan keributan itu ada persoalan besar yang terlupakan, yaitu bagaimana menyelamatkan orang-orang yang belum tersentuh Islam, persoalan kemerdekaan Palestina dll.

Dari sinilah umat perlu ngaji bareng, dan harus ada yang memberi pencerahan tentang pola pikir priorits mana yang harus di dahulukan. Mana yang harus segera dikerjakan dan mana yang bisa ditunda. Mana yang wajib dan mana yang sunnah, karena tidak sedikit orang yang semangat sekali mengajak melakukan ibadah sunnah namun lalai terhadap kewajibannya. Saya ambil contoh misal seorang guru yang punya kewajiban mengajar di kelas, namun mereka sengaja meninggalkan kelas dengan dalih ingin melakukan shalat dhuha. padahal kewajiban mengajar hukumnya wajib dan shalat dhuha adalah sunnah. Dan masih banyak contoh lainnya yang saya pikir anda bisa merenungkannya.

Syaikh Yusuf Al Qardhawi merangkum sebab umat Islam mengalami kemunduran disebabkan tidak pekanya mereka pada hal skala prioritas menjadi 7 point:

1. Melupakan fardhu kifayah yang berkaitan dengan kemaslahatan umat secara menyeluruh.

Seperti misal peningkatan kapasitas ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, budaya dan politik. Banyak umat Islam yang cuek, sehingga saat ini yang banyak berperan pada bidang-bidang ini adalah non muslim.

2. Mengabaikan fardhu ‘ain.

Dalam hal ini dapat kita contohkan lemahnya sikap sebagian besar muslim untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. padahal ini merupakan kewajiban bagi setiap individu. Bahkan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar disebut lebih dulu sebelum persoalan shalat [lihat QS. At Taubah: 71].

3. Lebih mengutamakan sebagian rukun Islam namun melupakan yang lain.

Khususnya di Indonesia banyak kita temui di bulan ramadhan misalnya, mereka berpuasa namun tidak shalat, atau shalatnya bolong-bolong. Atau dalam keseharian ada sebagian umat kita yang mengerjakan shalat jum’at namun shalat fardhunya bolong-bolng.

4. Lebih perhatian terhadap perkara sunnah ketimbang yang wajib.

Banyak pemeluk agama ini yang gemar berdzikir, namun hubungan baiknya terhadap orang tua tidak dijaga, silaturahim tidak dieratkan dan sebagainya.

5. Lebih fokus dengan ibadah individual.

Mereka lebih senang dengan shalat dan dzikir namun tidak peduli dengan urusan umat seperti kemerdekaan Palestina dan lainnya, bahkan mereka dengan ringan mengatakan bahwa itu bukan urusan kita.

6. Lebih cenderung mengurusi masalah furu’iyah daripada yang pokok.

Akhir-akhir ini marak kita dapati ada pembubaran atau penolakan ceramah seorang ustadz hanya karena berbeda pandangan furu’iyah. Namun di sisi lain mereka abai dengan aqidah, iman, dan akhlaq yang kesemuanya merupakan hal pokok sebagai pondasi dalam berislam.

7. Lebih serius memerangi masalah makruh dan syubhat ketimbang yang sudah jelas keharamannya.

Mereka lebih semangat menyalahkan dan membid’ahkan musik dan foto ketimbang mengurus masalah keumatan yang saat ini cukup mengkhawatirkan.

Kesalahan-kesalahan besar di atas telah merambah umat kita pada saat ini dalam persoalan yang berkaitan dengan parameter prioritas sehingga mereka menganggap kecil hal-hal yang besar, membesar-besarkan persoalan yang kecil, mementingkan hal-hal yang remeh, meremehkan hal-hal yang penting, dan seterusnya. Oleh karena itu tugas kita semua untuk menyadarkan umat agar memahami apa yang menjadi prioritas bagi dirinya, umat, dan juga agama. Wallahu a’lam.

Ganjar Asri Kota Metro, 26 Desember 2017 | 3.25pm

Monday, 25 December 2017

Penerimaan Peserta Didik Baru SMPIT Baitul Muslim TA. 2018/2019

Penerimaan Peserta Didik Baru SMPIT Baitul Muslim TA. 2018/2019

Berikut brosur dan informasi penerimaan peserta didik baru TA.2018/2019.



Atau bisa juga ikuti infonya di channel youtube resmi kami: Penerimaan Peserta Didik Baru SMPIT Baitul Muslim TA. 2018/2019

DAFTAR ONLINE KLIK DI DISINI

Contact

Address:

Jl. Batin Kyai, Labuhan Ratu Satu, Way Jepara, Lampung Timur 34196

Work Time:

Monday - Friday from 7am to 4pm and Saturday from 7am to 11am

Phone:

0852 6700 5252